Energi Positif untuk Indonesia dalam Acara Menjadi Indonesia

[Unpad.ac.id, 17/10/2012] Semoga semakin damai. Masih ada hutan alam yang tetap lestari. Adil dan sejahtera. Sejahtera, damai, mandiri, merdeka. Tetaplah satu dalam ragam bangsa. Beberapa tulisan tersebut terpatri dalam sebuah spanduk besar dengan tulisan utama “Menjadi Indonesia”. Barisan kata tersebut mungkin hanya sebagian kecil dari harapan positif para generasi muda atas negeri bernama Indonesia.

Spanduk besar yang notabene berisi doa untuk negeri ini terpampang dalam acara “Menjadi Indonesia” yang digelar di Bale Rumawat, kampus Unpad Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Rabu (17/10). “Menjadi Indonesia” merupakan program tahunan Tempo Institut yang pada pagelarannya kali  ini telah menginjak tahun keempat.

Melalui “Menjadi Indonesia”, harapan serta berbagai macam energi positif dari para anak muda berusaha dikumpulkan guna mewujudkan negeri Indonesia yang lebih baik lagi. Salah satu pengumpulan energi tersebut adalah melalui lomba penulisan esai mengenai cara pandang mahasiswa terhadap Indonesia.

Menurut Direktur Eksekutif Tempo Institute, Mardiyah Chamim, kompetisi ini  dimaksudkan untuk memprovokasi anak-anak muda, terutama mahasiswa, agar  menjadi motor perubahan. “Kompetisi ini mengajak mahasiswa untuk melihat sekitar. Identifikasi mengenai kehidupan hukum, sosial-politik, dan lainnya yang terjadi di sekeliling mereka, di Indonesia,” ujarnya.

Kurang lebih 645 esai telah terkumpul dalam kegiatan ini dari 119 universitas di Indonesia, tak terkecuali Unpad. Sebanyak 30 penulis esai terbaik akan diundang untuk mengikuti kemah “Menjadi Indonesia” di Jakarta selama sepekan. Mereka akan diberi pelatihan penulisan jurnalistik dan kepemimpinan serta bertemu dengan para tokoh nasional yang  peduli pada berbagai  persoalan di Indonesia.

Dikatakan Eni Saeni, selaku Ketua Panitia Menjadi Indonesia di Bandung, bahwa esai tersebut berusaha menstimulus anak muda mengenai apa yang harus mereka lakukan dari hal-hal yang kecil. Hal tersebut juga mencoba menumbuhkan sikap kritis yang tak hanya terpaku dalam batasan ide saja. “Disitu (esai), kita ingin ide itu bukan hanya sekedar ide, tapi tuliskan,” tegasnya.

Dalam acara tersebut, Tempo Institute juga menggelar kegiatan Workshop Menulis. Ada dua jenis tulisan yang dijelaskan yaitu mengenai tata cara penulisan populer yang diberikan oleh Gol A Gong, salah satu novelis serial ternama di Indonesia, serta Mardiyah sendiri mengenai tata cara penulisan esai yang tepat.

Kegiatan menarik lainnya dalam acara ini adalah pembacaaan “Surat dari dan untuk Pemimpin” yang telah dibukukan dan rencananya akan diluncurkan pada tanggal 5 Desember mendatang. Mereka yang menyumbang gagasan dalam buku kumpulan sura tersebut diantaranya adalah Andy F. Noya, Chris John, Christine Hakim, Adnan Buyung Nasution, Mahfud MD., M. Busyro Muqoddas, Teten Masduki, Gol A Gong, dan masih banyak tokoh ternama lainnya.

Ditegaskan Mardiyah, kumpulan surat tersebut bukan berisi nasihat bagi kaum muda melainkan sebuah semangat positif dari dan bagi anak-anak muda. Pada kesempatan tersebut, hadir beberapa tokoh yang membacakan suratnya yaitu Gol A Gong, seniman Tisna Sanjaya, dan Iwan Abdulrachman.*

Laporan oleh: Indra Nugraha/mar