23 November 2012

Kembangkan Ekonomi yang Berbasis Ilmu Pengetahuan

[Unpad.ac.id, 23/11/2012] Pengetahuan merupakan modal penting dalam menghadapi pertumbuhan ekonomi dunia di jaman sekarang dan masa mendatang. Pentingnya peningkatan dan penerapan ilmu pengetahuan dalam ekonomi kita memberi kesempatan tumbuhnya sistem ekonomi  yang memiliki daya saing dan inovatif.

Hal itulah yang dikemukakan oleh Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional RI, Prof.Dr.Hj.Armida Alisyahbana,SE,MA., dalam presentasinya yang disampaikan oleh Dr. Ir. Dida Heryadi Salya, MA., staf ahli menteri PPN Bidang Hubungan Kelembagaan ketika menjadi pembicara kunci dalam konferensi internasional bertajuk “The Global Advanced Research Conference on Management and Business Studies” yang digagas bersama oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unpad, Dhurakij Pundit University, Thailand, dan Universiti Malaysia Terengganu di Hotel Horison, Bandung, Kamis (22/11).

Menurutnya, Bank Dunia sendiri telah merumuskan empat pilar penting yang dibutuhkan sebuah negara dalam menumbuhkembangkan ekonomi yang berbasis pada ilmu pengetahuan. Pertama,  sebuah rezim ekonomi dan kelembagaan yang memberikan insentif bagi efisiensi penggunaan pengetahuan yang ada dan baru dan berkembangnya kewirausahaan. Kedua, populasi yang terdidik dan terampil yang dapat membuat, berbagi, dan menggunakan pengetahuan dengan baik. Ketiga, sebuah sistem inovasi efisien perusahaan, pusat penelitian, universitas, konsultan, dan organisasi lain, dan keempat, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang efisien dan fasilitatif.

“Sumber daya manusia yang terdidik dan terampil merupakan salah satu kunci penting dalam pengembangan ekonomi yang berbasis pengetahuan ini,” ujarnya menjelaskan salah satu dari pilar tersebut.

Menurutnya, salah satu prinsip dasar lainnya dari ekonomi yang berbasis ilmu pengetahuan ini adalah inovasi. Ekonomi di negara Indonesia sendiri sudah seharusnya bergerak dari ekonomi yang mendorong pada investasi menjadi inovasi. Pemerintah, swasta, dan dalam hal ini universitas, harus saling bersinergi guna mewujudkan sistem ekonomi inovatif di negeri ini.

“Di masa depan kita harus meningkatkan produktivitas melalui inovasi intensif, untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah harus mengikutsertakan sektor swasta, serta penelitian dan teknologi di berbagai universitas,” tuturnya.

Dalam dua dekade kedepan, pengetahuan berbasis ekonomi di negeri ini memiliki berbagai macam tantangan dan peluang. Diakhir presentasi ia juga memaparkan beberapa hal yang harus diantisipasi dalam menghadapi tantangan tersebut yaitu dengan cara memperkuat dan meningkatkan kapasitas pengembangan dan penelitian, memaksimalkan potensi TIK melalui kerja sama sektor swasta khususnya di daerah dan pengembangan infrastruktur  ICT.

Lembaga-lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi dan sekolah kejuruan dan teknis, harus menghidupkan kembali peran mereka sebagai pemimpin penelitian dan inovasi, lebih proaktif dalam melayani penciptaan pengetahuan lebih dari sekedar transfer pengetahuan.

Memastikan pembangunan berkelanjutan keterampilan diantara mereka yang terlibat di sektor ICT, termasuk di sini adalah keterampilan dalam generasi konten digital dan desain perangkat lunak yang merupakan keterampilan kunci yang diperlukan tidak hanya di sektor TIK, tetapi di berbagai sektor.

Selain itu, hal lainnya yaitu penguatan lebih lanjut dari jejaring antara pribadi, perusahaan, universitas, dan lembaga penelitian, melalui ilmu pengetahuan. Akses dan penyebaran pengetahuan dan teknologi untuk perusahaan lokal mengingat bahwa inovasi sering terkonsentrasi di organisasi besar dan multinasional. Terakhir, namun tak kalah penting, adalah akses yang mudah kepada modal untuk memicu inovasi dan peluang bisnis pada sektor UKM.

Konferensi ini juga menghadirkan para pembicara lain diantaranya Ir. Indra utoyo, M.Sc. dari PT Telkom Indonesia, Prof. Madya Nur Azura Sanusi, dari Universiti Malaysia Terengganu, Prof. Anumongkol Sirivedin, dari Dhurakij Pundit University, Thailand, dan Prof. Ernie T. Sule, dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad. Tak kurang dari 151 paper terkumpul dalam konferensi internasional yang dihadiri oleh berbagai peserta dari negara-negara lain seperti India, Mexico, Malaysia, Filipina, Perancis, Thailand, Vietnam, dan Iran.*

Laporan oleh: Indra Nugraha/mar

Tautan

 

 

Media Sosial