21 Mei 2013

Melalui Program BIPA, Bahasa Indonesia Semakin Banyak Dipelajari oleh Orang Asing

[Unpad.ac.id, 21/05/2013] Bahasa Indonesia telah dipelajari oleh sedikitnya 72 negara di dunia. Bahkan dalam perkembangannya, Bahasa Indonesia telah menjadi pusat studi di beberapa universitas di dunia. Ini membuktikan bahwa Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa yang banyak diminati oleh orang asing.

Dr. Dian Ekawati saat menjadi narasumber di Vivat Academia Seminar bertema “Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Media Diplomasi Budaya” di Bale Sawala Unpad (Foto oleh: Tedi Yusup) *

“Pemerintah sudah paham betul memberikan nilai jual yang lebih terhadap Bahasa Indonesia, salah satunya melalui program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA),” ujar dosen Sastra Jerman FIB Unpad, Dr. Dian Ekawati, saat memberikan presentasi “Pengajaran Bahasa Indonesia Sebagai Media Diplomasi Budaya” dalam seminar Vivat Academia, Selasa (21/05) di Bale Sawala Kampus Unpad Jatinangor.

Upaya pemerintah tersebut ialah dengan tersedianya beasiswa bagi mahasiswa asing untuk belajar Bahasa Indonesia sejak tahun 1974. Lebih dari itu, Presiden SBY pun saat ini tengah merancang dibukanya “Rumah Budaya”, lembaga yang berfungsi untuk mengenalkan lebih jauh bahasa dan kebudayaan Indonesia. Rumah Budaya sendiri direncanakan akan dibuka di 11 negara.

“Selama ini, gambaran umum tentang Indonesia adalah sekadar negara tujuan wisata. Dengan mengajarkan Bahasa Indonesia, adalah kunci utama dalam membukan pintu pengetahuan dan memahami kebudayaan Indonesia,” ujar Dr. Dian yang pernah menjadi pengajar BIPA di negara Jerman.

Dr. Dian pun mengisahkan pengalaman menjadi pengajar BIPA di negara Jerman. Di Jerman sendiri, BIPA telah berkembang pada tahun 1970-an dan saat ini dipelajari di 9 universitas. Ia pun menyimpulkan beberapa motivasi orang Jerman untuk belajar Bahasa Indonesia. “Ada beberapa motivasi, yaitu aspek tourism, kerjasama politik, sosial budaya, ekonomi, agama, dan pendidikan,” ujarnya.

Bagaimana dengan BIPA di dalam negeri? BIPA di dalam negeri telah dibuka di beberapa universitas, termasuk di FIB Unpad. BIPA di FIB Unpad telah diikuti oleh 30 negara, dengan prodi Sastra Indonesia yang menjadi tujuan mahasiswa asing belajar bahasa Indonesia.

“FIB Unpad sendiri telah bekerjasama dengan beberapa universitas di dunia, bukan hanya membuka BIPA di sini tapi mengirimkan dosen untuk menjadi pengajar BIPA di sana,” ujar Dr. Dian.

Sementara itu, Nani Darmayanti, Ph.D., dosen Sastra Indonesia di FIB Unpad yang pernah menjadi pengajar BIPA di Polandia mengungkapkan, BIPA di Polandia sendiri baru berkembang sejak tahun 2011. Namun, Bahasa Indonesia di sana telah dimasukkan ke dalam sistem SKS dengan bobot 4 SKS.

Nani pun menjelaskan manfaat dari program BIPA tersebut. Beberapa diantaranya adalah adanya pemahaman yang baik terhadap Indonesia dan meningkatnya kunjungan wisata ke Indonesia. “Di sana kita juga bukan sekadar mengajarkan bahasa, tetapi juga seni dan budaya Indonesia,” ungkapnya.

Dengan meluasnya program BIPA ke beberapa negara di hampir setiap benua, terbuka pula kesempatan yang luas untuk menjadi pengajar BIPA. “Intinya adalah akar diperkuat, cabang diperbanyak. Kuatkan Bahasa Indonesia, kuasai bahasa asing,” pungkas Nani.*

Laporan oleh: Maulana / eh

© 2014 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang | Humas Unpad | DCISTEM Unpad