Ronggeng Amen, Kisah Selanjutnya dari Ronggeng Gunung

[Unpad.ac.id, 14/12/2013] Sejak tahun 1965, salah satu seni pertunjukkan khas Jawa Barat, Ronggeng Gunung sudah mulai redup popularitasnya. Padahal sebelumnya, Ronggeng Gunung cukup diminati masyarakat, terutama untuk acara-acara ritual. Dalam perkembangannya, pada tahun 1992 muncul kesenian Ronggeng Amen, sebagai pengayaan dari Ronggeng Gunung yang mulai punah.

Penampilan Ronggeng Amen pada Apresiasi Pagelaran, Diskusi, Workshop Seni “Ronggeng Amen” yang dilaksanakan di PSBJ Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad, Jumat (13/12). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Penampilan Ronggeng Amen pada Apresiasi Pagelaran, Diskusi, Workshop Seni “Ronggeng Amen” yang dilaksanakan di PSBJ Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad, Jumat (13/12). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Tidak seperti Ronggeng Gunung yang lebih menonjolkan unsur ritual, Ronggeng Amen ini lebih menonjolkan unsur hiburan. Di Ciamis, Ronggeng Amen pun diminati oleh semua lapisan masyarakat.  “Ronggeng Amen ini sangat diminati oleh semua kalangan. Dari anak kecil, orang muda, orang tua, laki-laki, perempuan. Semuanya suka,” ujar pemrakarsa Ronggen Amen, Nana Sumriana, S.Pd saat menjadi pembicara pada acara Apresiasi Pagelaran, Diskusi, Workshop Seni “Ronggeng Amen” yang dilaksanakan di Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad, Jumat (13/12).

Acara ini digelar atas kerja sama Dinas Pariwisata & Kebudayaan Provinsi Jawa Barat dengan Unit Kesenian Unpad dan Paguyuban Mahasiswa Sastra Sunda (Pamass) Unpad dalam rangka pembinaan apresiasi seni di Jawa Barat. Acara ini juga menghadirkan Studi Grup Budaya Sunda II  (SBGS II) dari Dusun Ciberti, Desa Sukahurip, Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis. Turut pula hadir pada kesempatan tersebut Kepala Dinas Pariwisata & Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Drs. Nunung Sobari, MM.

Berbeda dengan Ronggeng Gunung yang hanya menggunakan tiga jenis alat musik, yakni kendang indung, kenong, dan goong indung, Ronggeng Amen menggunakan alat musik yang lebih banyak dan bervariasi sehingga lebih menarik dan meriah. Selain itu, perbedaan lainnya adalah pada Ronggeng Amen penyanyi tidak merangkap sebagai penari. Namun gaya penyajian Ronggen Amen tetap menggunakan pola lingkaran dengan titik sentral.

“Ronggeng Amen menjadi lebih menarik karena beberapa hal, terutama yaitu musiknya yang tidak monoton, ada sindennya, serta ronggong yang cantik-cantik,” tutur Nana.

Senada dengan Nana, pembicara lain, Yatun R. Awaliah, S.Pd selaku pemerhati Ronggeng Amen mengatakan bahwa walaupun Ronggeng Gunung sudah mulai punah, namun Ronggen Amen sebagai perkembangan dari Ronggeng Gunung sedang memiliki banyak peminat, terutama di daerah asalnya, Kabupaten Ciamis. “Walapun Ronggeng Gunung dulu cukup populer, tapi kini sudah tidak lagi. Karena sudah jarang pentas, para pelaku Ronggeng Gunung kemudian banyak yang beralih profesi ke Ronggeng Amen,” ungkapnya.

Ditemui di sela-sela acara, Kepala Bidang Seni & Perfilman Dinas Pariwisata & Kebudayaan Provinsi Jabar, Sajidin Aries mengatakan bahwa acara ini digelar sebagai bagian dari pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan seni-seni tradisional, terutama untuk mengantisipasi kesenian yang hampir punah. Pada acara ini, dikaji mengapa kesenian tersebut, dalam hal ini Ronggeng Gunung, sudah hampir punah, dan upaya apa yang harus dilakukan.

“Kebetulan di Unpad ada Fakultas Ilmu Budaya yang condong ke arah itu, makanya acara ini diawali dengan workshop agar dapat dikaji oleh para mahasiswa Unpad,” tuturnya. Selain untuk dikaji, acara ini juga digelar sebagai bentuk sosialisasi seni pertunjukkan yang ada di Jawa Barat. *

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh *