Unpad dan Polban Kerja Sama Riset Bidang Peningkatan Pelayanan Kesehatan Masyarakat

[Unpad.ac.id, 13/3/2014] Unpad akan melakukan kerja sama riset dengan Politeknik Negeri Bandung (Polban) di bidang peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat. Rencananya, kerja sama tersebut akan segera dilakukan pada tahun ini. Sebagai wujud faktual awal kolaborasi tersebut, Kamis (13/3) digelar Seminar bersama Unpad-Polban di Ruang Aula Lantai 6 Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Jalan Eijckman No. 38 Bandung.

Seminar bersama Unpad-Polban di Aula Lantai 6 Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Jalan Eijckman No. 38 Bandung (Foto oleh: Arief Maulana)*

Seminar bersama Unpad-Polban di Aula Lantai 6 Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Jalan Eijckman No. 38 Bandung (Foto oleh: Arief Maulana)*

Seminar ini dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerja Sama Unpad, Dr. med. Seiawan, dr., Wakil Direktur IV Polban, Ir. Rachmat Imbang T, M.T., PhD., serta peneliti, dosen, dan mahasiswa dari Unpad dan Polban.

Ada tiga pembicara yang mengisi seminar itu, yaitu Ediyana dari Polban tentang Aplikasi low-cost, high quality mobile telehealth system; Dwi Agustian dari Departemen Epidemiologi dan Biostatistik, Fakultas Kedokteran Unpad tentang potensi penggunaan teknologi informasi dan komunikasi bagi deteksi dini wabah flu burung; serta Erick Paulus, M.Kom., dari Departemen Teknik Informatika, FMIPA Unpad tentang sistem cerdas Posyandu.

Setelah dipresentasikan dan didiskusikan bersama, kedua institusi tersebut sepakat melakukan kolaborasi riset dengan judul tentatif yaitu “Burden Disease and Risk Factor Mapping with Mobile Telehealth: A Pilot Study in Jatinangor, Year 2014”, atau studi pengaplikasian teknologi mobile telehealth pada layanan kesehatan di Jatinangor tahun 2014.

Adapun teknologi mobile telehealth menurut Ediyana adalah suatu sistem mobile telemedicine yang terdiri dari 2 unit, yaitu unit yang dipasang di sisi pasien, serta unit lain di sisi dokter. Fungsi dari unit tersebut adalah menangkap informasi kondisi pasien seperti data, rekam, medis, maupun bio sinyal, untuk disimpan atau dikirim ke unit yang dipegang dokter.

“Teknologi ini sebenarnya baik digunakan di layanan kesehatan plural, terutama di rumah sakit dimana tidak ada dokter rujukan,” kata Ediyana.

Teknologi ini sebelumnya pernah diterapkan di wilayah Sukabumi. Namun, diakui Edi, teknologi tersebut belum sepenuhnya maksimal. Oleh karena itu, melalui kolaborasi ini pihaknya pun akan mengembangkan lebih lanjut teknologi tersebut agar bekerja secara lebih maksimal.

Adapun menurut Dr. Setiawan, kolaborasi nanti akan melibatkan 2 aspek, yaitu pengembangan model teknologi, serta aspek sosiokultural. Pengembangan model teknologi sendiri akan dilakukan oleh tim eksakta, baik dari Unpad maupun dari Polban. Sementara untuk aspek sosiokultural, pihaknya akan melibatkan peneliti dari FISIP Unpad untuk melakukan rekayasa sosial terkait teknologi tersebut.

“Sehingga ke depannya, kolaborasi ini bukan lagi disebut riset tetapi menjadi inovasi teknologi untuk masyarakat,” lanjut Dr. Setiawan.

Sementara itu, Dwi pun mengusulkan agar kolaborasi riset itu lebih banyak dilakukan oleh mahasiswa, baik dari Unpad maupun dari Polban.

Jatinangor sendiri dipilih sebagai lokasi kolaborasi karena dua pembicara lain, yaitu Dwi dan Erick sudah melakukan penelitian kesehatan di wilayah Jatinangor sehingga lokasi tersebut sudah terpetakan dengan baik untuk digunakan teknologi tersebut ke depannya.

“Mudah-mudahan ini bisa berjalan, yang penting bagaimana secara konstruktif kita bisa buat proposalnya bersama-sama,” ujar Dr. Setiawan.

Sementara itu, Rachmat Imbang pun mengapresiasi kolaborasi ini. Soal pembiayaan, Unpad dan Polban pun sepakat untuk mengalokasikannya dari dana instutusi. “Insya Allah akan kita alokasikan dengan funding dari institusi,” kata Rachmat.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh *