Jelang Masa PMB, Waspadai Penipuan Mengaku Bisa Meluluskan Masuk Unpad

[Unpad.ac.id, 8/05/2015] Berbagai bentuk penipuan yang mengatasnamakan Universitas Padjadjaran harus diwaspadai terutama oleh orang tua calon mahasiswa baru. Salah satu modus penipuan yang marak terjadi menjelang masa penerimaan mahasiswa baru (PMB) adalah memfasilitasi siswa untuk masuk ke Unpad dengan mentransfer sejumlah uang ke rekening oknum.

Wakil Rektor Bidang Pembelajaran dan Kemahasiswaan Unpad, Prof. Dr. Engkus Kuswarno, M.S. (Foto oleh: Dadan T.)*

Wakil Rektor Bidang Pembelajaran dan Kemahasiswaan Unpad, Prof. Dr. Engkus Kuswarno, M.S. (Foto oleh: Dadan T.)*

Wakil Rektor Bidang Pembelajaran dan Kemahasiswaan Unpad, Prof. Dr. Engkus Kuswarno, M.S., mengungkapkan, Unpad tidak pernah menugaskan siapapun termasuk dosen dan tenaga kependidikan, untuk memiliki wewenang bisa memasukkan menjadi mahasiswa. Jika ada oknum yang mengaku bisa memasukkan, maka itu jelas penipuan.

“Unpad tidak pernah memprogramkan kewenangan untuk bisa memasukkan siswa. Semua basisnya karena nilai akademis,” kata Prof. Engkus, Rabu (06/05) di ruang kerjanya.

Berdasarkan laporan dari beberapa korban, mereka percaya karena oknum selalu mengatasnamakan modus ini sebagai Program Bina Lingkungan-nya Unpad. Padahal, kata Prof. Engkus, Program Bina Lingkungan sejatinya adalah program pemberian beasiswa bagi mereka yang sudah menjadi mahasiswa Unpad. Hal ini merupakan bentuk komitmen Unpad terhadap para mahasiswa yang memiliki kesulitan membayar biaya kuliah.

“Melalui Program Bina Lingkungan, kami akan perhatikan ketika dia sudah masuk menjadi mahasiswa. Ini program yang terus menerus disempurnakan, dan kami sudah mencarikan sumber beasiswa baru,” jelasnya.

Dengan demikian, program ini bukan sebagai fasilitasi siswa untuk masuk menjadi mahasiswa Unpad. Prof. Engkus mengingatkan, apabila oknum tersebut lantas meminta untuk mentransfer sejumlah uang, itu jelas penipuan.

Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi tersebut menambahkan, Unpad hanya membuka dua jalur seleksi untuk program Sarjana (S1), yakni SNMPTN dan SBMPTN. Untuk seleksi SNMPTN murni basisnya diambil dari nilai akademik siswa. Jika nilai tersebut tidak memenuhi standar penilaian, maka siswa tersebut tidak bisa lolos seleksi.

“Proses seleksi juga murni didasarkan pada data nilai yang masuk ke dalam sistem dengan tidak melihat nama dan siapapun. Begitu hasil nilainya keluar barulah diketahui nama-namanya,” tutur Prof. Engkus.

Orang tua pun perlu mewaspadai apabila ada oknum yang menawarkan jasa untuk membantu registrasi pada saat registrasi adminitrasi dilakukan. Menurut Prof. Engkus, registrasi administrasi mesti dilakukan sendiri oleh calon mahasiswa dengan membawa berkas-berkas persyaratan yang telah ditetapkan.

“Yang jelas tidak boleh percaya kepada siapapun yang menawarkan jasa. Tidak ada biro jasa apapun yang bisa membantu, baik itu yang mengaku dosen atau pejabat di Unpad. Unpad tidak pernah menugaskan dan mengakomodasi,” tegasnya.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh