Kakecili, Ajarkan Anak Tanggung Jawab dan Cinta Lingkungan

[Unpad.ac.id, 17/09/2015] Sebagai media edukasi anak-anak agar bisa lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan, Kalung Kecambah Cinta Lingkungan (Kakecili) bisa jadi pilihan. Melalui Kakecili, anak-anak dapat belajar untuk merawat tanaman dari benih hingga menjadi kecambah.

Tim Kakecili, kiri ke kanan Rakean Hafidz Suardaya, Rina Nurlina, Neneng Chulliyah, dan dosen pendamping Gema Wibawa Mukti, SP., MP *

Tim Kakecili, kiri ke kanan Rakean Hafidz Suardaya, Rina Nurlina, Neneng Chulliyah, dan dosen pendamping Gema Wibawa Mukti, SP., MP *

Berawal dari tugas mata kuliah media tanam di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian (Faperta) Unpad, Kakecili ternyata bisa membawa Neneng Chulliyah, Rina Nurlina, dan Rakean Hafidz Suardaya menjadi salah satu tim delegsi Unpad untuk Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) di Universitas Halu Oleo Kendari, 5-9 Oktober 2015 mendatang. Tim ini juga dibimbing oleh Gema Wibawa Mukti, SP., MP dari Fakultas Pertanian Unpad selaku dosen pendamping.

“Setelah beres tugas, kenapa kita enggak coba bikin usaha saja, selagi ada Program Kreativitas Mahasiswa. Jadi kita bikin kelompok, lalu melakukan pengembangan ide,” ungkap Rina saat diwawancarai Humas Unpad beberapa waktu lalu.

Dalam Kakecili ini, telah tertanam benih sayuran dengan media tanam rockwool. Anak-anak pun dilatih tanggung jawabnya dengan selalu menjaga media tanam ini agar tetap lembab dan tanamannya tidak rusak.

“Anak itu harus ngerawat benihnya sampai kecambah, minimal sampai 7 hari. Baru bisa pindah tanam ke pot,” ujar Rina.

Karena berbentuk kalung, maka si anak dapat membawa tanamannya ini kemanapun. Kalung pun sengaja didesain menarik, agar anak-anak menyukainya, tidak hanya bagi anak perempuan tapi juga laki-laki.

“Sebelumnya kami survei ke sekolah-sekolah, bentuknya apa. Dan ternyata banyak anak-anak yang lebih memilih binatang,” ungkap Rina. Mereka pun menggandeng pengrajin kayu di Bandung dalam proses produksi kalung ini.

kakeciliHingga saat ini, sudah ratusan item yang terjual. Selain dijual secara online, Kakecili juga dijual di sejumlah sekolah di Bandung. Untuk penjualan di sekolah, tim terlebih dahulu melakukan penyuluhan dan pengenalan produk kepada para guru, untuk kemudian dikenalkan ke anak-anak. Di beberapa sekolah, Kakecili dititipkan di kantin sekolah.

“Responnya bagus, karena memang di sekolah mereka ada kurikulum tentang lingkungan hidup,” ungkap Rina.

Kakecili juga sudah terjual di beberapa kota di Indonesia, dan memiliki reseller di Batam, Padang, dan Madiun. “Semoga produk ini bisa berkembang, yang pasti lebih bermanfaat untuk orang-orang, pemasarannya juga ingin lebih dikembangkan lagi. Inginnya go international,” harap Rina.

Rina dan tim pun bertekad untuk melakukan yang terbaik di Pimnas nanti. Ditargetkan, emas dapat mereka peroleh di ajang ini.*

POSTER KAKECILI (KALUNG KECAMBAH CINTA LINGKUNGAN)

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh