Angkat Tema “Reaktualisasi Konsep Melayu”, Mahasiswa Unpad Teliti Hubungan Indonesia – Malaysia

[Unpad.ac.id, 01/10/2015] Indonesia memiliki kesamaan rumpun dengan negara di kawasan Asia Tenggara. Namun, adanya kesamaan rumpun ini tidak lantas membuat Indonesia memiliki “suara”. Saat ini, Indonesia memiliki arah kebijakan yang kurang jelas terkait politik internasional dengan negara lain.

Tim Penelitian "Reaktualisasi Melayu (Foto oleh: Purnomo Sidik)*

Tim Penelitian “Reaktualisasi Konsep Melayu (Foto oleh: Purnomo Sidik)*

Fenomena ini menjadi ketertarikan sendiri bagi Nour Andriani (Sejarah FIB), M. Fadlullah (Sejarah FIB), M. Zul Karami (Hubungan Internasional FISIP), Rizal Bagus RJ. (Ilmu Pemerintahan FISIP), dan Mahbub Ubaedi (Ilmu Komunikasi Fikom) untuk menemukan solusi terkait bagaimana seharusnya sikap Indonesia di mata ASEAN.

Nour mengungkapkan, penelitian yang dilakukan ialah melakukan representasi paradigma keserumpunan yang dulu dibangun oleh pemerintah Orde Baru. Dalam paradigma tersebut, Indonesia dan negara-negara di ASEAN berdasar pada satu rumpun suku Melayu, namun dipisah oleh perbedaan negara dan sistem politik.

Kasus yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan Indonesia dengan Malaysia. Menurut Nour, dua negara ini acapkali terjadi “ketegangan” dari segi politik, budaya, hingga sosial. Hal inilah yang ingin dikaji oleh kelimanya, apakah paradigma keserumpunan tersebut masih relevan diaplikasikan di zaman sekarang ataukah tidak.

“Kita tidak bisa mengabaikan, sejak dulu kita sudah bertetangga. Dan selalu saja kita bermasalah, padahal Indonesia dan Malaysia itu adalah satu saudara,” kata Nour.

Menggunakan metode ilmu Sejarah, kelompok tersebut mengolaborasikan berbagai disiplin ilmu Sosial. Metode tersebut dikolaborasikan dengan pendekatan ilmu Hubungan Internasional, Ilmu Pemerintahan, dan Ilmu Komunikasi, sesuai dengan asal program studi setiap anggota kelompok.

indo-malay2Capaian utama dari penelitian ini ialah mengumpulkan sumber referensi sebanyak mungkin tentang topik yang dikaji, serta menganalisisi berbagai referensi tersebut untuk ditemukan kemungkinan berhasil tidaknya paradigma tersebut dijalankan di masa lalu. Hasilnya, kata Nour, paradigma keserumpunan masih relevan dengan saat ini.

“Semangat itu masih relevan untuk mengungkit semangat persaudaraan untuk dijadikan landasan bersama membanguan Asia Tenggara. Apalagi saat ini kita tengah menghadapi MEA,” papar Nour.

Nour dan kawan-kawan telah menghasilkan 4 bundel sumber referensi. Sumber tersebut didapat dari beberapa lembaga, perpustakaan, hingga buku-buku lama di beberapa wilayah. Selain 4 bundel tersebut, kelimanya juga menghasilkan sebuah buku berjudul “Merajut Kebersamaan, Membangun Kesepahaman, Menuju Persaudaraan” yang akan diterbitkan oleh penerbit Unpad Press.

Penelitian tersebut diajukan menjadi proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM-P) bidang Sosial Humaniora dengan judul “Reaktualisasi Konsep Melayu sebagai Kerangka Kebijakan Luar Negeri RI Menuju Cita-cita Perdamaian Dunia (Tinjauan Analitik Terhadap Kebijakan Normalisasi Hubungan RI-Malaysia pasca Konfrontasi 1967-1972). Kelompok dengan dosen pendamping Drs. Taufik Ampera, M.Hum., akhirnya lolos di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-28 di Universitas Halu Oleo (UHO), 5 – 9 Oktober mendatang.

“Target kita adalah emas,” kata Rizal.*

Poster PKMPSH Pimnas 2_2

Laporan oleh: Arief Maulana / eh