Prof. Ir. Mega Fatimah Rosana, M.Sc., Ph.D, “Konservasi Cegah Eksploitasi Berlebihan”

[Unpad.ac.id, 10/01/2017] Seiring dengan terus berkembangnya populasi manusia, konsumsi bahan tambang juga meningkat. Hal ini juga diikuti dengan meningkatnya industrialisasi dan urbanisasi masyarakat modern. Jika tidak digunakan dan dikelola dengan baik, akan mengakibatkan kelangkaan bahan tambang dan dapat menggangu keseimbangan ekologi. Untuk itu, perlu adanya upaya melestarikan bahan tambang melalui konservasi.

Prof. Ir. Mega Fatimah Rosana, M.Sc., Ph.D saat membacakan Orasi Ilmiah berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Geologi Eksplorasi pada Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Selasa (10/01). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Prof. Ir. Mega Fatimah Rosana, M.Sc., Ph.D saat membacakan Orasi Ilmiah berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Geologi Eksplorasi pada Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Selasa (10/01). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

Hal tersebut disampaikan  Prof. Ir. Mega Fatimah Rosana, M.Sc., Ph.D saat membacakan Orasi Ilmiah berjudul “Eksplorasi Sumber Daya Geologi: Eksploitasi dan Konservasi untuk Pembangunan yang Berkelanjutan” berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Geologi Eksplorasi pada Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Selasa (10/01).

“Konservasi adalah pengelolaan yang baik dari bahan tambang untuk mencegah eksploitasi yang berlebihan, kerusakan, atau degradasi. Konservasi adalah jumlah total kegiatan, yang dapat memperoleh manfaat dari bahan tambang, tetapi pada saat yang sama mencegah penggunaan berlebihan yang akan menyebabkan kerusakan atau degradasi,” papar Prof. Mega.

Prof. Mega menjelaskan, dalam arti geologi, pembangunan berkelanjutan berkaitan erat dengan bagaimana mencari jalan untuk memajukan ekonomi dalam jangka panjang, tanpa menghabiskan sumber daya alam. Tetapi, hal ini menjadi permasalahan tersendiri karena sumber daya alam non hayati itu terbatas dan umumnya tidak dapat diperbaharui. Untuk itu, Prof. Mega pun menekankan pentingnya merubah paradigma eksplorasi sumber daya alam yang bersifat eksploratif (ekstraktif) kepada yang bersifat konservatif demi pertumbuhan perekonomian dan pembangunan yang berkelanjutan.

Pada paradigma eksplorasi untuk konservatif, eksplorasi sumber daya alam lebih ditekankan pada pengoptimalisasi sumber daya tersebut untuk meningkatkan keuntungan demi pembangunan berkelanjutan yang berpilar pada pertumbuhan (pro-growth), mengurangi kemiskinan (pro-poor), memberikan lapangan kerja (pro-job), dan memperhatikan keseimbangan lingkungan (pro-environment).

“Sehingga, sumber daya alam tersebut juga dilihat fungsinya sebagai warisan alam yang bernilai, jadi perlu dilindungi,” ujar Prof. Mega.

Prof. Mega pun mengungkapkan bahwa salah satu upaya konservasi sumber daya alam yang saat ini sedang mulai digiatkan di berbagai belahan dunia adalah melalui penetapan kawasan “Taman Bumi” atau Geopark yang diakui oleh PBB melalui International Geoscience and Geoparks Programme (IGP) di bawah UNESCO. Geopark adalah sebuah model pengelolaan keragaman geologi, hayati, dan budaya secara holistik untuk kepentingan konservasi, edukasi, dan pertumbuhan perekonomian yang berkelanjutan dengan menyertakan masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.

Menurut Prof. Mega, peranan seorang ahli geologi eksplorasi dalam penetapan kawasan geopark menjadi hal penting, dimana hasil eksplorasi sumber daya alam tersebut perlu dilakukan identifikasi, karakterisasi, klarifikasi, dan evaluasi, serta menetapkan urutan (ranking) sumber daya geologi untuk kepentingan utilisasi, konservasi, dan proteksi.

“Ciletuh Palabuhan Ratu Geopark adalah contoh pengelolaan kawasan yang memiliki potensi keragaman geologi yang sangat terkemuka dan keragaman hayati yang ada di atasnya, serta keragaman budaya masyarakat yang tinggal di dalam kawasan tersebut,” ujar Prof. Mega.

Kawasan Ciletuh Palabuhan Ratu yang dahulu hanya dikenal oleh para calon dan ahli geologi, secara berangsur telah berubah menjadi kawasan geowisata yang berbasis konservasi, edukasi, dan pendidikan berkelanjutan, yang melibatkan regulasi dari pemerintah daerah dan pusat, pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat.

“Sehingga menumbuhkan perekonomian masyarakat untuk pembangunan berkelanjutan,” kata Prof. Mega.*

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh