Internet Indonesia Masih Digunakan untuk Media Sosial

[Unpad.ac.id, 24/03/2017]  Indonesia menduduki ranking kedua terendah dari 31 negara dalam hal kefasihan digital (digital fluency) menggunakan media internet. Ranking ini cukup mencengangkan, mengingat Indonesia selalu menempati peringkat kedua tertinggi dalam jumlah pengguna media sosial (Facebook dan Twiiter) terbanyak di dunia.

Country Managing Director Accenture Indonesia Neneng Goenadi, dalam Seminar Literasi Digital dalam Perspektif Gender di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Jumat (24/03). (Foto: Arief Maulana)*

Temuan ranking tersebut merupakan hasil riset yang dilakukan perusahaan konsultan dunia Accenture di 31 negara, termasuk Indonesia. Hasil riset tersebut dipaparkan oleh Country Managing Director Accenture Indonesia Neneng Goenadi, dalam Seminar Literasi Digital dalam Perspektif Gender di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Jumat (24/03).

Seminar digelar atas kerja sama SDGs Center Unpad dengan Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad. Acara yang dimoderatori Dosen Fikom Unpad Wina Erwina, dra., M.A., ini secara resmi dibuka oleh Sekretaris Eksekutif SDG’s Center Unpad, Arief Anshory Yusuf, PhD. Turut hadir Dekan Fikom Unpad, Dr. Dadang Rahmat Hidayat.

Neneng mengatakan, secara objektif riset yang dilakukan bersama Majalah Femina pada 2016 lalu ini bertujuan untuk melihat benefit internet terhadap pria dan wanita dilihat dari sudut pandang gender. Sementara kefasihan digital didefinisikan sebagai bagaimana laki-laki dan perempuan memanfaatkan internet untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan, konektivitas, dan efektivitas kerja.

Faktor kefasihan digital ini akan menentukan bagaimana hubungan internet dengan peningkatan edukasi, efektivitas kerja, dan kemajuan individu antara laki-laki dan perempuan.

Melihat posisi ranking kedua terendah, Neneng menyimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia memanfaatkan internet hanya untuk bermedia sosial. Padahal, jika dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas, Neneng optimis Indonesia mampu meraih ranking tertinggi.

“Orang Indonesia itu sangat gaul, tetapi pakai digitalnya hanya untuk gaul juga, seperti chatting dan media sosial. Padahal kalau digital fluency-nya tinggi, education outcome-nya akan bagus,” papar Neneng.

Jika dikategorikan secara gender, faktor kefasihan digital level edukasi untuk kelompok perempuan Indonesia berada di posisi 26. Neneng mengatakan, sebagian besar perempuan menggunakan internet untuk chatting dan mendukung hobi, seperti mencari resep masakan atau mencari pola pembelajaran suatu bahasa.

Kendati digunakan untuk hobi adalah sesuatu yang baik, Neneng berpendapat, sebagian besar tidak menggunakannya lebih serius. “Ini hanya bersifat periodik, tidak digunakan secara konsisten,” kata Neneng.

Sedangkan pada kelompok laki-laki juga sama. Posisi kefasihan digital untuk edukasi laki-laki berada di angka 25. Padahal, lanjut Neneng, banyak sekali program-program pembelajaran dan pelatihan di jagat maya dari seluruh dunia yang bisa dimanfaatkan secara gratis. “Di Indonesia, tidak terlalu banyak yang menggunakan,” tambahnya.

Pada level kerja, penggunaan teknologi digital belum banyak dimanfaatkan kaum perempuan. Untuk mencapai kesetaraan, teknologi digital memungkinkan perempuan untuk bisa bekerja jauh lebih efektif. Sementara pada level peningkatan kapasitas,pria lebih memiliki ambisi untuk peningkatan karir daripada perempuan.

“Digital bisa membantu untuk peningkatan karir, salah satunya dengan mengasah kemampuan,” kata Neneng.

Ia menilai, jika teknologi informasi dapat dimanfaatkan dengan baik, ia optimis peningkatan ekonomi nasional akan semakin meningkat. “Ini akan jauh lebih baik,” ujar Neneng.*

 

Laporan oleh Arief Maulana