Solahen, Solusi Listrik Daerah Terpencil Karya Mahasiswa Unpad

[unpad.ac.id, 17/07/2017] Hampir 72 tahun Indonesia merdeka, masih banyak daerah-daerah yang belum terjangkau aliran listrik. Sulitnya akses dan kontur wilayah rata-rata menjadi penyebab mengapa pasokan listrik belum merata di Indonesia. Padahal, listrik menjadi kebutuhan dasar masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Andika Lipo Sumatara (kiri) dan Fadhulloh Nugraha Setiawan, dua mahasiswa FEB Unpad penggagas produk Solahen. (Foto: Tedi Yusup)*

Kondisi ini menggugah sekelompok mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran. Mereka mengembangkan sistem pasokan listrik mandiri dan sederhana dengan menggunakan solar panel sebagai sumber energinya. Sistem pembangkit listrik rumahan sederhana ini diberi nama “Solahen” (Solusi Lampu Hemat Energi).

Adalah Andika Lipo Sumatara, Ronaldo Hadyanto Manik, Fadhulloh Nugraha Setiawan, dan Rhesa Setyo Santoso, sang pengembang ide Solahen. Lipo, penggagas ide ini mengatakan, produk Solahen dibuat sesederhana mungkin agar dapat diaplikasikan langsung ke masyarakat, terutama di wilayah terpencil.

Ditemui Humas Unpad, Jumat (14/07) lalu, Lipo menjelaskan, ide Solahen berawal dari pengalamannya saat mengikuti KKNM Unpad di Desa Mekarjaya, Kecamatan Mande, Cianjur, 2014 silam. Di desa tersebut, ada satu dusun dengan 66 kepala keluarga belum mendapatkan aliran listrik.

Sepulangnya dari KKN, Lipo kemudian berpikir solusi apa yang bisa dikembangkan agar masyarakat di daerah terpencil dapat mendapatkan listrik. Setelah beberapa kali pengembangan, Lipo kemudian menggunakan solar panel dan aki sebagai sumber energi untuk menghasilkan listrik di rumah.

Secara teknis, Solahen memanfaatkan energi matahari untuk dikonversi ke dalam solar panel. Energi kemudian disimpan dalam aki dan dialirkan ke dalam lampu-lampu rumah. Sistem dibuat sederhana agar masyarakat dapat melakukan instalasi dengan mudah, bahkan dapat dilakukan oleh kelompok usia apa saja.

Diakui Lipo, pengembangan Solahen diambil dari komponen yang banyak di pasaran. Meski minim inovasi produk, ia lebih mengutamakan komponen banyak di pasaran agar lebih mudah diinstalasi.

Harga satu set Solahen cukup menghabiskan biaya 2 juta rupiah. Khusus, untuk program penjangkauan ke masyarakat terpencil, Lipo dan rekannya menggratiskan seluruh biaya pengadaan alat dan pemasangan instalasi. “Kita memang targetkan masyarakat mendapat produk ini dengan gratis,” ujar Lipo.

Produk ini kemudian dikembangkan lebih luas dengan nama “Indonesia Terang” sejak 2015. Berbeda dengan program Indonesia Terang milik pemerintah, program milik Lipo dan kawan-kawan sudah jauh diaplikasikan di masyarakat sejak 2014. Sampai saat ini sudah banyak wilayah yang dibantu oleh Lipo. Mulai dari pelosok Sumatera Barat, Riau, Maluku, Papua Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, hingga Kalimantan Timur.

Saat ini, Lipo tengah menjalankan pemasangan Solahen di lima desa di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Sebanyak 218 unit rumah di 5 Desa tersebut dipasangkan Solahen. Lipo menjelaskan, biaya instalasi Solahen di 5 desa tersebut murni mengandalkan anggaran dana desa (ADD).

Di lima desa tersebut, Solahen dipasangkan terdiri atas tiga unit, berkekuatan 20 watt pico (wp), 50 wp, dan 100 wp. Untuk solar panel berkekuatan 50 wp dan 100 wp, daya listrik yang dihasilkan bisa untuk konsumsi televisi.

Tidak mudah untuk memasangkan Solahen di lima desa tersebut. Lipo bercerita, lima desa tersebut berada jauh di tengah hutan perbatasan Indonesia-Malaysia, dengan menyusuri jalan setapak terjal. Di beberapa lokasi, perjalanan harus ditempuh dengan menyusuri sungai menggunakan perahu warga.

Meski sangat sulit, perjuangan mereka berbuah kebahagiaan warga. Segenap warga desa akhirnya bisa merasakan terangnya lampu di dalam rumah. Kondisi yang selama ini masih menjadi mimpi bertahun-tahun bagi warga.

Aksi ini merupakan upaya yang diwujudkan Lipo dan kawan-kawan dalam memberikan solusi ketersediaan listrik di wilayah terpencil. Dibandingkan aksi kritik ke pemerintah melalui demo-demo jalanan, Lipo lebih memilih melakukan kerja nyata dengan cara memberikan Solahen gratis kepada masyarakat terpencil.

Target Solahen sederhana, dapat menjangkau wilayah-wilayah yang belum teraliri listrik. Untuk itu, Lipo dan tim berusaha untuk mendapatkan hibah atau dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk melanjutkan program Solahen ke wilayah-wilayah selanjutnya. Selama ini, mereka hanya mengandalkan dana-dana anggaran desa.

Saat ini pihaknya tengah mengejar untuk mendapatkan hibah program sosial dari Kedutaan Besar Australia. Jika berhasil, hibah tersebut akan digunakan untuk pemasangan Solahen bagi 66 kepala keluarga di Desa Mekarjaya, lokasi yang pernah ditempatinya selama KKNM.

Lebih lanjut mahasiswa tingkat akhir tersebut menjelaskan, dana yang didapat oleh tim bukan hanya sekadar dikeluarkan untuk program instalasi saja. Tetapi, ada sebagian dana yang dimasukkan ke dalam kas sebagai modal untuk pemasangan di wilayah selanjutnya.

Mereka pun mengaku, ilmu yang didapat di prodi Manajemen FEB Unpad sangat bermanfaat bagi pengelolaan proyek mereka. Mereka pun berharap, program Solahen ini dapat terus dijalankan dan diregenerasikan kepada adik kelas mereka.

Lipo pun berharap, banyak pihak dapat mendukung program Solahen. Ia menilai, program ini setidaknya berkontribusi dalam mewujudkan pemerataan listrik di Indonesia. Menjelang 72 tahun merdeka, masyarakat Indonesia seharusnya sudah tidak ada lagi yang berharap takpasti kapan nyala terang lampu listrik bisa hadir di tengah mereka.*

Laporan oleh Arief Maulana