Penilaian Usai, Penelitian di Geopark Ciletuh Terus Berlanjut

[unpad.ac.id, 4/08/2017] Tim Asesor UNESCO Global Geopark (UGG) menuntaskan rangkaian kunjungannya di kawasan Geopark Nasional Ciletuh-Palabuhanratu, Jumat (4/08). Kunjungan yang telah dilaksanakan sejak 1 Agustus lalu ini bertugas menilai kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu untuk menjadi kawasan Geopark dunia versi UNESCO.

Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Unpad yang juga ketua Pusat Penelitian Geopark dan Kebencanaan Geologi Unpad Prof. Ir. Mega Fatimah Rosana, M.Sc., PhD, (kanan), saat menjelaskan riset yang dilakukan akademisi Unpad di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu di hadapan tim asesor UNESCO Global Geopark di Gedung Bumi Walagri Padjadjaran, Surade, Kamis (3/08). (Foto: Tedi Yusup)*

“Insyaallah (dengan penilaian ini), kita akan dapat sertifikasi. Itu artinya kita bisa membangun standar pengelolaan geopark yang baik,” ujar Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Tri Hanggono Achmad usai acara pelepasan tim Asesor UGG di Aula Kantor Sekda Kabupaten Sukabumi, Jumat (4/08).

Keterlibatan Unpad dalam membangun kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu terus digulirkan oleh Rektor. Pada saat penilaian, Tim Asesor UNESCO juga didampingi Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Unpad Prof. Ir. Mega Fatimah Rosana, M.Sc., PhD. Bahkan, tim asesor juga diajak untuk mengunjungi gedung Bumi Walagri Padjadjaran yang ada di kecamatan Surade.

Lebih lanjut Rektor menuturkan, berbagai riset Unpad di Ciletuh menunjukkan bahwa produk akademik Unpad diakui dengan baik. Kontribusi ini menjadikan keunggulan tersendiri bagi Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, yaitu satu-satunya kawasan Geopark yang melibatkan unsur perguruan tinggi.

“Membangun Global Geopark itu (kuncinya) networking,” kata Rektor.

Saat ini, Unpad telah membentuk Pusat Penelitian Geopark dan Kebencanaan Geologi yang diketuai Prof. Mega. Pusat unggulan Unpad ini diharapkan menjadi rujukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan terhadap pengelolaan sumber daya geologi, biologi, dan budaya untuk dapat dikembangkan melalui konsep taman kebumian.

Melihat potensi Geopark Ciletuh-Palabuhanratu yang terfokus pada tiga aspek, yaitu geologi, biodiversitas, dan keragaman budaya, Rektor berkomitmen agar aktivitas riset yang dilakukan harus tetap berlanjut.

“Riset ini harus tetap didorong secara transdisipliner,” kata Rektor.

Adapun tim asesor UNESCO yang melakukan penilaian di Geopark Ciletuh-Palabuhanratu adalah Alexandru Andrassanu (Rumania), Soo Jae Lee (Korea Selatan), serta Advisor Global Geopark Network Hanang Samodra. Selama melakukan penilaian, tim diajak untuk melihat berbagai lokasi potensial di kawasan Ciletuh dan Palabuhanratu.

Di Bumi Walagri Padjadjaran, tim melihat berbagai hasil riset civitas academica Unpad di kawasan Ciletuh Palabuhanratu dari beragam keilmuan. Satu persatu, Prof. Mega menjelaskan mengenai rincian dan luaran yang dihasilkan dari penelitian tersebut. Alexandru pun sempat memuji aktivitas Unpad yang terus aktif melakukan riset di kawasan tersebut.

Secara keseluruhan, tim mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemkab Sukabumi, Unpad, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam mendorong pengembangan Geopark Ciletuh.

Dalam sambutan pelepasan, Alex mengungkapkan, kunjungan ke Ciletuh dan Palabuhanratu ini menjadi pengalaman tersendiri. Berbagai keragaman potensi geologi, alam, dan budaya di Ciletuh-Palabuhanratu dapat menjadi daya tarik tersendiri.

“Kita temukan satu wilayah dengan keragaman keunikan identitas, hanya di Geopark Ciletuh-Palabuhanratu,” ungkapnya.

Dalam acara pelepasan tersebut, turut hadir Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, Bupati Sukabumi Marwan Hamami, serta perwakilan pemangku kepetingan yang terlibat dalam pengembangan Geopark Ciletuh.*

Laporan oleh Arief Maulana