Menakar Dampak Negatif Bonus Demografi, Kualitas Kompetensi Usia Produktif Harus Ditingkatkan

[unpad.ac.id, 7/09/2017] Bonus Demografi yang diprediksi terjadi di Indonesia pada 2020-2030 harus menjadi perhatian seluruh pihak. Jika tidak, peningkatan jumlah usia produktif dibanding angka usia ketergantungan ini akan memicu sejumlah masalah.

Guru Besar Fakultas Pertanian Unpad Prof. Dr. Ganjar Kurnia, DEA, (kedua dari kanan) saat menjadi pembicara dalam Sarasehan Mahasiswa Nasional “Menghadapi Bonus Demografi” di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Kamis (7/09). (Foto: Tedi Yusup)*

“Hati-hati dengan istilah Bonus Demografi. Itu hanya gambaran peningkatan usia produktif, tetapi jumlah usia produktif itu belum tentu sudah produktif,” ujar Guru Besar Sosiologi Pertanian Unpad Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, saat menjadi pembicara dalam Sarasehan Mahasiswa Nasional bertajuk ‘Menghadapi Bonus Demografi’ di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Kamis (7/09).

Istilah Bonus Demografi didasarkan pada penurunan angka usia ketergantungan terhadap angka usia produktif. Meski terjadi peningkatan jumlah usia produktif, Prof. Ganjar menyebut kualitas generasi muda saat belum optimal untuk menunjang Bonus Demografi. Dari aspek tingkat pendidikan, sebagian besar tingkat pendidikan Indonesia berada pada level rendah.

Mengutip data Badan Pusat Statistik, angka partisipasi sekolah Indonesia sebagian besar hanya sampai 7-8 tahun. Sementara angka partisipasi kasar (APK) ke perguruan tinggi saat ini berada di angka 17,91. Di Jawa Barat sendiri, waktu lama tinggal di sekolahnya hanya sampai 8 tahunan saja.

Selain menghadapi Bonus Demografi, Indonesia juga akan menghadapi periode Aging Population, atau peningkatan jumlah usia penduduk di atas 64 tahun. Guru Besar FEB Unpad Prof. Armida Salsiah Alisyahbana, S.E., M.A., PhD, mengatakan, berdasarkan data BPS dan Bappenas awal 2014, proyeksi pertambahan kelompok Aging Population pada 2010– 2035 akan berjumlah 167,2 juta jiwa.

“Sedangkan, selama periode 2010-2035 jumlah penduduk 15 – 64 tahun bertambah 31 juta jiwa saja. Kita ramainya saat ini Bonus Demografi, padahal di saat yang sama kita juga menuju Aging Population,” kata Prof. Armida.

Lebih lanjut Prof. Armida mengatakan, berdasarkan proyeksi para ahli di Jepang, Indonesia saat ini tengah berproses menuju periode Aging Population dan puncaknya akan terjadi pada 2046 mendatang. Melihat data proyeksi ini, Indonesia termasuk cepat dalam memasuki periode Aging Population, mengalahkan negara-negara di kawasan Eropa yang membutuhkan waktu 100 tahun untuk menuju periode itu.

“Mudah-mudahan, ketika masuk di Aging Population, kita sudah tergolong negara dengan pendapatan perkapita tertinggi, sehingga mampu me-manage berbagai permasalahan yang ditimbulkan dari Aging Population,” kata Prof. Armida.

Siapkan Strategi

Walaupun kesiapan sumber daya manusia dalam menyongsong Bonus Demografi ini belum maksimal, Prof. Ganjar mendorong Pemerintah harus segera merespons. Salah satu strategi yang harus dikembangkan adalah penyediaan ruang-ruang pendidikan vokasi.

Dengan menitikberatkan pada pendidikan vokasi, masyarakat dapat memperoleh akses pendidikan yang siap menghadapi tantangan dunia kerja. Pola pendidikan ini juga dapat dikaitkan dengan potensi dan strategi pengembangan wilayah.

“Pembukaan program studi di luar kampus seharusnya lebih dititikberatkan pada pendidikan vokasi,” kata Prof. Ganjar.

Prof. Dr. Sutyastie Soemitro, M.S., Guru Besar FEB Unpad mengatakan, kelompok usia produktif ini harus disiapkan seoptimal mungkin. Sinergi dan sinkronisasi antar lembaga terkait perlu disiapkan dalam penyiapan tersebut. Ia menilai, pendidikan, kesehatan, dan penyediaan lapangan kerja harus dikembangkan secara bersamaan.

Di sisi lain, kurikulum pendidikan tinggi saat ini harus menjawab tuntutan modernitas zaman. Alumni Unpad yang banyak berprestasi di kancah nasional maupun internasional Panji Aziz Pratama mengungkapkan, kurikulum pendidikan tinggi saat ini harus dikembangkan ke arah digital marketing, kewirausahaan, hingga pemanfaatan sosial media.

“Ini yang sedang dibutuhkan anak muda generasi milenial sekarang. Jika pemangku kebijakan ini belum mampu merespons, akan kehilangan kesempatan baik bagaimana caranya generasi muda ini dapat menghadapi Bonus Demografi,” kata Panji.*

Laporan oleh Arief Maulana