Prof. Dr. Dwi Prasetyo, dr., Sp.A(K)., M. Kes: Infeksi Helicobacter Pylori Mengganggu Kualitas Hidup Anak

[unpad.ac.id, 10/11/2017] Infeksi Helicobacter pylori (H. pylori)  pada anak masih menjadi masalah kesehatan yang cukup besar. Infeksi ini tersebar di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Infeksi ini pun dapat menyebabkan berbagai penyakit, hingga pada akhirnya dapat menggangu kualitas hidup anak.

Prof. Dr. Dwi Prasetyo, dr., Sp.A(K)., M. Kes saat membacakan orasi ilmiah berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Kesehatan Anak pada Fakultas Kedokteran, di Grha Hardjadinata, kampus Unpad Jln. Dipati Ukur No.35 Bandung, Jumat (10/11).

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Dwi Prasetyo, dr., Sp.A(K)., M. Kes., saat membacakan orasi ilmiah berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Kesehatan Anak pada Fakultas Kedokteran di Grha Hardjadinata, kampus Unpad Jln. Dipati Ukur No.35 Bandung, Jumat (10/11). Orasi ilmiah tersebut berjudul “Pendekatan Diagnosis dan Tatalaksana Infeksi Helicobacter Pylori untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Anak”.

Prof. Dwi menjelaskan, iInfeksi H. pylori dapat menyebabkan berbagai penyakit, yaitu gastritis, ulkus peptikum, adenokarsinoma gaster, mucosa associated lymphoid tissue lymphoma, anemia defisiensi besi, dan gangguan pertumbuhan. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat mengganggu kualitas hidup anak, seperti tidak masuk sekolah, masalah tidur, masalah makan, serta terbatasnya kegiatan fisik dan kegiatan sosial.

“Anak merupakan aset yang sangat berharga bagi masa depan bangsa. Dengan diagnostik yang tepat dan tata laksana yang komprehensif, diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan akibat infeksi H. pylori, sehingga kualitas hidup anak meningkat dan pada akhirnya dapat memaksimalkan potensi tumbuh kembang anak sebagai cikal bakal penerus bangsa,” ujar Prof. Dwi.

Cara penularan infeksi H. Pylori masih belum diketahui dengan pasti. Meski demikian, dugaan yang paling kuat adalah melalui rute transmisi dari orang ke orang, yaitu melalui fekal-ral, oral-oral, dan melalui air.

Lebih lanjut Prof. Dwi mengungkapkan bahwa diagnosis infeksi H. pylori seringkali luput dari pengamatan dokter, dan biasanya anak hanya diobati secara simtomatis saja dikarenakan keterbatasan sarana dan biaya pemeriksaan yang mahal. Untuk mengatasinya, Prof. Dwi membuat suatu skoring untuk mendeteksi infeksi H. pylori yang mempunai sensitivitas dan spesifitas cukup tinggi.

“Diharapkan skoring ini dapat digunakan secara luas oleh dokter di tingkat pelayanan terdepan, sehingga dapat membantu dalan mendiagnostik infeksi H. pylori di Indonesia,” harap Prof. Dwi.*

Laporan oleh Artanti Hendriyana