Prof. Rovina, dr.,SpPD, PhD: Mengobati Tuberkulosis, Perlu Pengobatan yang Lebih Singkat dan Sederhana

[unpad.ac.id, 10/11/2017] Tuberkulosis (TB) bukanlah penyakit baru. Penyakit ini dapat diobati,  disembuhkan, bahkan dapat dicegah. Meski demikian, hingga saat ini TB masih menjadi masalah global. Salah satu permasalahan yang dihadapi adalah masih kompleksnya upaya pengobatan untuk pasien TB.

Prof. Rovina, dr.,SpPD, Ph.D. saat membacakan orasi ilmiah berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Farmakologi dan Terapi pada Fakultas Kedokteran di Grha Hardjadinata, kampus Unpad Jln. Dipati Ukur No.35 Bandung, Jumat (10/11). (Foto oleh: Tedi Yusup)*

“Melihat kondisi saat ini, untuk bidang pengobatan, satu-satunya jalan adalah dengan membuat pengobatan TB yang lebih singkat dan lebih sederhana, sehingga angka drop out atau tidak patuh minum obat dapat ditekan,” ujar Prof. Rovina, dr.,SpPD, PhD, saat membacakan orasi ilmiah berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Farmakologi dan Terapi pada Fakultas Kedokteran di Grha Hardjadinata, kampus Unpad Jln. Dipati Ukur No.35 Bandung, Jumat (10/11).

Pada kesempatan tersebut, Prof. Rovina membacakan orasi ilmiah berjudul “Farmakologi dan Dunia Bebas Tuberkolosis”.  Dalam orasinya itu ia menjelaskan bahwa pengobatan TB kompleks dan lama. Jika pasien minum obat sesuai dengan yang seharusnya, maka penyakit TB dapat disembuhkan. Permasalahannya adalah jika pasien tidak patuh minum obat, maka akan muncul berbagai masalah.

“Ketidakpatuhan minum obat mengakibatkan kegagalan pengobatan, resistensi obat, dan terus terjadinya penularan,” ujar Prof. Rovina.

Menurutnya, dalam upaya perbaikan pengobatan TB, yang paling mudah dilakukan adalah dengan memodifiksi terapi (pemberian obat). “Hal ini sesuai dengan tujuan utama Ilmu Farmakologi Klinik, yaitu bagaimana kita dapat mengoptimalkan pemberian obat, dosis dan cara pemberiannya, dalam mengobati suatu penyakit,”  imbuhnya.

Pada pengobatan TB, kadar obat dalam tubuh merupakan penghubung antara jumlah obat yang diresepkan, yang diminum, dan respon pengobatan yang didapat. Ketidakpatuhan minum obat, dosis obat yang kurang, dan variasi farmakokinetik akan meningkatkan risiko tidak optimalnya kadar obat. Sebaliknya, kadar obat yang berlebihan juga dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan.

Dijelaskan Prof. Rovina, TB merupakan penyakit dengan spektrum yang sangat luas, dari yang ringan sampai sangat berat dan mematikan. Meningitis TB, atau TB selaput pembungkus otak, merupakan bentuk TB yang terberat, dengan kematian dan kecacatan pada 50% pasien. Hingga 10 tahun lalu, penyakit ini seakan “terlupakan”, dan saat ini menjadi tantangan besar bagi klinisi dan peneliti untuk menyelamatkan pasien tersebut. Berbagai penelitian pun telah dilaksanakan Prof. Rovina dan tim untuk memperbaiki pengobatan Meningitis TB dan mencegah kematian pasien.

“Penelitian ini merupakan penelitian yang sulit, berhadapan dengan pasien yang sakit berat yang setiap hari kondisinya dapat berubah sangat cepat. Mereka harus menjalani pengambilan sampel darah dan cairan pembungkus otak untuk mendapatkan data yang sangat penting sebagai dasar perbaikan pengobatan Meningitis TB. Jelas penelitian ini membutuhkan komitmen yang tinggi dari tim peneliti serta dukungan dari berbagai pihak,” ujar Prof. Rovina.*

Laporan oleh Artanti Hendriyana