Beri Kuliah Umum di ITB, Rektor Dorong Generasi Muda Peduli Kesehatan

[unpad.ac.id, 28/2/2018] Menyiapkan generasi muda Indonesia yang sehat merupakan upaya penting dalam menghadapi bonus demografi. Upaya ini bukan hanya menjadi peran sektor kesehatan, tetapi melibatkan seluruh sektor yang ada di masyarakat.

Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Tri Hanggono Achmad saat memberikan kuliah umum bertema tantangan kesehatan untuk generasi muda di hadapan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) di Aula Barat kampus ITB, Bandung, Rabu (28/2). (Foto: Tedi Yusup)*

“Definisi sehat saat ini tidak cukup berbicara bebas dari penyakit, tetapi mental dan sosialnya juga sehat,” ujar Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Tri Hanggono Achmad saat memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang digelar di Aula Barat Kampus ITB, Bandung, Rabu (28/2).

Rektor mengatakan, ukuran kesehatan saat ini dinilai dari perilaku dan lingkungannya. Aspek perilaku secara khusus memberikan peran pada tingkat kesehatan generasi muda. Banyaknya penyakit yang menyerang generasi muda saat ini lebih diakibatkan oleh gaya hidup yang berlebihan.

Kondisi ini membuat sektor kesehatan Indonesia perlu mendapatkan perhatian. Rektor menilai, sebelumnya Indonesia disebut sebagai negara ketiga karena banyaknya penyakit yang disebabkan faktor infeksi dan kekurangan gizi.

Dua faktor tersebut rupanya belum sepenuhnya hilang dari negara ini. Jika ditambah dengan permasalahan maraknya penyakit kardiovaskuler, maka bisa jadi tingkat kesehatan Indonesia bergeser lebih rendah dari apa yang dipersepsikan sebagai negara ketiga.

Di hadapan mahasiswa, Rektor memaparkan data permasalahan pada generasi muda yang mengancam kesehatan. Obesitas, perundungan, narkotika dan penyalahgunaan obat-obat terlarang menjadi tiga sektor yang mendominasi penyebab kematian pada generasi muda.

Faktor selanjutnya yaitu pelecehan terhadap anak, konten nakal, rokok, kekerasan di sekolah, depresi, hingga seks bebas. Sementara penyebab kematian terbesar saat ini banyak diakibatkan oleh penyakit kardiovaskuler dan kecelakaan lalu lintas. “(Penyebab) ini semua akibat perilaku,” imbuh Rektor.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi juga dinilai mengancam generasi muda. Di satu sisi penggunaan teknologi dapat membantu meningkatkan pelayanan kesehatan. Namun di sisi lain, teknologi juga memberikan risiko terhadap kesehatan.

Lebih lanjut Rektor menjelaskan, teknologi digital berisiko mengganggu kondisi mental dan sosial generasi muda. Muncul sindrom Internet Gaming Disorder atau bahaya psikopatologi akibat terlalu banyak bermain permainan daring menjadi salah satu faktor risiko tersebut. Dampak lainnya adalah cenderung mengisolasi diri dan menyebabkan beberapa penyakit Computer Vision Syndrome.

“Teknologi saat ini memang diperlukan, tetapi tetap secara nature kita membutuhkan sosialisasi lainnya,” kata Rektor.

Untuk itu, Rektor mendorong agar mahasiswa dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Meskipun angka harapan hidup pada bonus demografi ini diperkirakan naik, generasi muda juga perlu memikirkan kesehatan generasi selanjutnya.

“Saudara merupakan makhluk sosial yang akan bereproduksi, jadi harus ada keberlangsungan. Jika kesehatannya saat ini tidak diperhatikan, kesehatan generasi selanjutnya juga akan tidak sehat,” pesan Rektor.*

Laporan oleh Arief Maulana