Waktunya Generasi Muda Jadi Ahli Pemulia Tanaman

[unpad.ac.id, 27/02/2018] Meski semakin “seksi” dan sangat menguntungkan, tidak banyak generasi muda yang tertarik bergelut di dunia pertanian. Petani muda yang mau melanjutkan bisnis pertanian keluarga pun sedikit.

Sejumlah pembicara mengisi Seminar Nasional dan Kongres Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia (Peripi) Komda Jabar, yang digelar di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad kampus Jatinangor, Selasa (27/02). (Foto: Tedi Yusup)*

“Ini adalah paradoks yang terjadi saat ini. Di sisi lain harga naik, di sisi lain future sepertinya cerah di pertanian. Tapi di sisi lain, yang mengarah kesana sedikit sekali,” kata Managing Director PT East West Seed Indonesia (Ewindo), Ir. Glenn Pardee, MBA, saat menjadi salah satu pembicara pada Seminar Nasional dan Kongres Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia (Peripi) Komda Jabar, yang digelar di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad kampus Jatinangor, Selasa (27/02).

Dalam kesempatan tersebut, Glenn mengatakan bahwa pemuliaan tanaman merupakan suatu kegiatan mulia. Seorang ahli pemulia tanaman dapat membuat nilai tambah bagi tanaman sehingga dapat lebih berharga, dan itu bukanlah pekerjaan yang sepele.

Menurut Glenn, seorang pemulia harus tahu mengapa mereka itu harus memuliakan tanaman. Salah satu yang terpenting adalah untuk membantu para petani. Jika petani terbantu, maka keuntungan pun akan didapat.

Dalam industri benih yang digeluti Glenn misalnya. Dengan menghasilkan produk yang sangat dibutuhkan petani, maka konsumen (masyarakat) akan terpuaskan, sehingga petani akan mendapat keuntungan tinggi dari hasil produksinya itu.

“Jadi kalau kalian sekarang sudah ada di breeding, saya sampaikan it’s the right choice. Karena tugasnya adalah seorang pemulia. Seorang pemulia itu tugasnya sangat mulia. Dalam dunia bisnis, seorang pemulia akan mendapatkan penghargaan yang lebih besar daripada yang lain. Tapi yang paling utama tugas seorang pemulia adalah bisa membantu petani,” kata Glenn kepada para mahasiswa yang hadir.

Dengan demikian, imbuh Glenn, pekerjaan pertama seorang pemulia tanaman adalah datang ke petani dan berbicara kebutuhan petani secara spesifik,  sehingga dapat membuat produk yang dibutuhkan dan disukai petani.

Pembicara lain, Guru Besar Emeritus Fakultas Pertanian Unpad Prof. Achmad Baihaki, Ir. M.Sc. Ph.D, mengungkapkan bahwa peran pendidikan tinggi pemuliaan tanaman dalam akselerasi pembangunan pertanian di Indonesia akan lebih kompleks. Permasalahan yang dihadapi selama ini diantaranya adalah lahan pertanian yang semakin sempit, sangat kontras dengan jumlah dan pertambahan penduduk.

Ditegaskan Prof. Baihaki, penelitian di perguruan tinggi, khususnya pemuliaan tanaman, harus mempunyai manfaat. Penelitian harus mampu menghasilkan produk, mengembangkan ilmu dan teknologi secara sinambung, menghasilkan generasi baru di bidang pemuliaan tanaman, serta menghasilkan karya ilmiah dan bahan untuk pengabdian.

“Kemudian menghasilkan informasi baru untuk mengajar. Terus menerus bahan ajar itu diperbarui dari hasil penelitian, dan dibuat menjadi text book,” ujarnya.

Hasil Seminar dan Kongres

Seminar dan Kongres Peripi tahun ini mengangkat tema “Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Pemanfaatan Kenakeragaman Hayati Guna Mendukung Program Pertanian Secara Berkelanjutan”. Dalam kesempatan tersebut dicetuskan Deklarasi Bandung sebanyak tujuh butir. Deklarasi Bandung ini bertujuan untuk meningkatkan peran pemuliaan dalam pembangunan pertanian Indonesia. Sementara itu, dari hasil kongres terpilih Dr. Sc. Agr. Agung Karuniawan dari Fakultas Pertanian Unpad sebagai Ketua Peripi Komda Jawa Barat periode 2018-2022.*

 

Laporan oleh Artanti Hendriyana/am