Peneliti Unpad Ciptakan Font Aksara Sunda Secara Fonetis

[unpad.ac.id, 24/7/2018] Tim peneliti Universitas Padjadjaran menciptakan huruf digital (font) aksara Sunda untuk digunakan di komputer dengan metode fonetis. Huruf digital ini bisa langsung digunakan di berbagai perangkat lunak pengolah kata.

Tim peneliti Universitas Padjadjaran mengembangkan huruf digital (font) aksara Sunda dengan metode fonetis yang bisa digunakan di berbagai perangkat lunak pengolah kata pada komputer. (Foto: Arief Maulana)*

Adalah Rahmat Sopian, M.Hum., (Fakultas Ilmu Budaya), Aditya Pradana, M.Eng., (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), Mamat Ruhimat, M.Hum., (Fakultas Ilmu Budaya), dan Riki Nawawi, S.Hum., (Alumni Fakultas Ilmu Budaya) yang mengembangkan font yang diberi nama “Font Sunda Versi Unpad (Font Sunda V Unpad)” ini.

Rahmat mengatakan, seiring dengan digelorakannya lagi penggunaan aksara Sunda dalam aktivitas masyarakat sejak 1997 silam, penggunaan aksara Sunda di masyarakat kembali berkembang pesat. Tidak hanya di media tulis menulis, aksara Sunda juga mulai digunakan di perangkat komputer.

Meskipun font aksara Sunda ini bukan terbilang baru di masyarakat, font Sunda Unpad merupakan versi lain dari font sebelumnya. Rahmat menjelaskan, tim menemukan adanya perbedaan antara hasil ketikan dan ketentuan pengaksaraan Sunda di masyarakat.

“Kesalahan tersebut dalam hipotesis kami disebabkan adanya kebiasaan masyarakat yang mengetik dengan sistem fonetis,” ujar Rahmat saat dihubungi melalui surat elektronik, Senin (23/7).

Lebih lanjut Dosen Sastra Sunda Unpad ini menjelaskan, font aksara terdahulu didesain berdasarkan silabis. Ini didasarkan pada karakteristik setiap gambar aksara ngalagena (konsonan)  pada aksara Sunda sudah mengandung bunyi vokal “a”. Maka, setiap tombol pada keyboard komputer mengandung satu bunyi suara atau silabe, misalnya tombol (k) berarti (ka).

Sementara Font Sunda V Unpad telah didesain berdasarkan fonetis. Jadi, setiap tombol huruf pada keyboard hanya mengandung satu fon saja. Sebagai contoh, tombol (k) berarti (k) saja, tidak didesain menjadi (ka).

“Misalkan untuk mengetik kata ‘Cicaheum Bandung’, font aksara Sunda sebelumnya pada keyboad setingan Latin (umum digunakan) harus menekan (c), (i), (c), (h), (]), (m), (;), (spasi), (b), (n), (;), (d), (u), dan (N). Sementara pada Font Sunda V Unpad, tombol yang harus ditekan yaitu: (C), (i), (c), (a), (h), (e), (u), (m), (spasi), (B), (a), (n), (d), (u), (n), dan (g), sama dengan ketika mengetik menggunakan font Latin,” papar Rahmat.

Rahmat menampik jika aplikasi font sebelumnya dianggap tidak baik. Ia menilai, penelitiannya ini hanya soal perbedaan metode yang diterapkan pada setiap aplikasi font saja. Jika aplikasi sebelumnya berpatokan pada silabis, maka Font Sunda V Unpad lebih pada fonetis.

Mudah Digunakan

Font Sunda V Unpad hampir bisa digunakan di seluruh perangkat lunak pengolah kata di komputer apa pun sistem operasinya. Aksara digital ini bisa diunduh secara gratis di laman resmi milik tim peneliti, yaitu http://sundanesewords.com/.

Proses instalasi font sangat mudah, semudah menginstalasi font lainnya pada komputer. Setelah diinstalasi, pengguna sebaiknya memahami mekanisme penggunaan font. Karena ada beberapa penyetelan sederhana yang harus dilakukan.

Sebagai contoh, jika pada perangkat lunak Micorsoft Office versi 2010 ke atas, pengguna terlebih dahulu mengeset ligature atau kemampuan untuk mengikat dua huruf yang berdekatan sehingga menjadi satu karakter.

Bermula dari Riset Unggulan Universitas


Pengembangan Font Sunda Unpad bermula dari dilakukannya aktivitas riset unggulan yang didorong oleh Unpad. Pengembangan font ini merupakan bagian dari proyek riset besar “Ancient Manuscripts Digilization and Indexation (Amadi)”.

Proyek Amadi merupakan upaya digitalisasi naskah Sunda Kuno koleksi Kabuyutan Ciburuy, Garut. Proyek riset ini digawangi Dr. Setiawan Hadi (FMIPA) dan Dr. Undang Ahmad Darsa (FIB). Rahmat menjelaskan, pengembangan Font Sunda Unpad ini merupakan upaya untuk melengkapi berbagai kajian yang telah dilakukan dalam proyek Amadi.

Selama hampir setahun, Rahmat dan tim melakukan observasi awal mengenai penggunaan font aksara Sunda di masyarakat.  Setelah diidentifikasi adanya perbedaan, tim mulai merancang font Sunda yang dikembangan secara fonetis.

Font Sunda Unpad resmi dirilis ke masyarakat sejak pertengahan Juli lalu melalui media sosial. Rahmat dan tim menerima respons yang luar biasa dari masyarakat umum, komunitas, hingga kalangan guru bahasa Sunda.

“Bahkan sudah ada beberapa pihak yang meminta izin melalui email kami untuk menggunakan Font Sunda Unpad untuk produknya. Selain itu ada juga beberapa kritik dan masukan yang sangat baik dari para penggiat font untuk pengembangan Font Sunda Unpad selanjutnya,” kata Rahmat.

Pengembangan font aksara Sunda ini dirasa penting. Ini disebabkan, font merupakan aplikasi yang selalu digunakan untuk membuat dokumen di komputer. Dengan demikian, masyarakat akan lebih mudah mengenal dan menggunakan aksara Sunda jika dikembangkan secara digital. Pada akhirnya, khazanah aksara Sunda akan tetap lestari.

Ke depan, Rahmat dan tim berharap dapat mengembangkan lebih lanjut mengenai Font Sunda Unpad ini. Beberapa apresiasi masyarakat yang masuk dan menjadi rencana tim selanjutnya adalah mengembangkan Font Sunda Unpad untuk sistem Android dan menyempurnakannya dari sisi Unicode-nya.*

Laporan oleh Arief Maulana