Jatinangor Juga Menyimpan Potensi Bencana, Apa yang Harus Dilakukan?

[unpad.ac.id, 10/10/2018] Terjadinya gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi di Palu, Donggala, dan Sigi, beberapa waktu lalu kembali menyadarkan kita bahwa Indonesia adalah negara rawan bencana. Setiap wilayah menyimpan potensi bencana tersendiri.

Gedung Rektorat Universitas Padjadjaran di kampus Jatinangor. Di balik difungsikannya Jatinangor sebagai kawasan pendidikan dan permukiman, wilayah ini menyimpan potensi bencana yang sewaktu-waktu terjadi. (Foto: Dok. Humas Unpad)*

Pascabencana tersebut, masyarakat Jawa Barat, khususnya Kota Bandung, diingatkan akan ancaman pergerakan Sesar Lembang yang juga berpotensi menimbulkan gempa bumi. Belum lagi jika aktivitas gunung berapi di Jawa Barat mulai aktif, masyarakat juga harus mewaspadai dan mulai tanggap untuk mengurangi dampak dari bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Dosen Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran Dr. Dicky Muslim, mengatakan, kawasan Jatinangor juga berpotensi menyimpan bencana. Di balik fungsinya sebagai kawasan pendidikan dan permukiman padat, potensi bencana ini juga menjadi ancaman serius yang bisa menelan kerugian jiwa dan materi.

“Kita harus mewaspadai potensi bencana seperti di Lombok (dan juga Palu) bisa terjadi di Bandung,” ujar Dr. Dicky saat diwawancarai Humas Unpad, Agustus lalu.

Dua tahun lalu, Dr. Dicky pernah mengungkap tiga potensi bencana di Jatinangor. Tiga potensi tersebut yaitu, longsor, gempa bumi, dan kemungkinan aktifnya Gunung Manglayang. Tiga potensi ini sewaktu-waktu bisa terjadi secara bersamaan.

Ihwal kemungkinan aktifnya Gunung Manglayang, Dr. Dicky menengarai bahwa gunung yang terletak di sebelah timur Kota Bandung ini merupakan bagian dari gunung api. Namun, belum ada penelitian terkait hal tersebut sampai hari ini.

“Saya menengarai Gunung Manglayang bagian dari gunung api. Akan tetapi kita tidak tahu, karena belum ada penelitiannya, sampai kedalaman berapa adanya keaktifan magmanya yang menghubungkan dengan Gunung Tangkuban Parahu ataupun Gunung Patuha,” kata Dr. Dicky.

Hal ini serupa dengan proses erupsi Gunung Sinabung di Sumatera Utara. Dr. Dicky mengatakan, Gunung Sinabung mengalami proses “tidur” selama 700 tahun dan bahkan dianggap sebagai gunung mati. Namun, gunung ini kembali bergejolak dan menyebabkan kerugian jiwa maupun materi di wilayah terdampak.

Jika fenomena ini bisa saja terjadi di gunung manapun, maka kita berhak mewaspadai ancaman “bangunnya” Gunung Manglayang dari tidur panjangnya. Dr. Dicky mengatakan, prediksi ini penting dilakukan untuk mengurangi risiko.

Sebagai wilayah di timur Bandung, Jatinangor juga dekat dengan lokasi Sesar Lembang. Dr. Dicky mengatakan, ujung dari Sesar Lembang sebelah timur berada di belakang kaki Gunung Manglayang. Unpad sendiri berada di wilayah lereng Gunung Manglayang. Ketika patahan ini mengalami pergeseran, kawasan kampus Unpad juga akan terkena imbasnya

Mengacu pada penelitian yang telah dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2012 silam, sekira 2.000 tahun lalu pernah ditemukan jejak gempa besar di Bandung dengan intensitas kekuatan 6,3 – 6,5 skala Richter.

Selanjutnya, berdasarkan hasil penelitian sivitas akademika FTG Unpad selama bertahun-tahun, Dr. Dicky juga menemukan banyak wilayah di Jatinangor yang rawan longsor. Apalagi ketika gempa dan hujan terjadi bersamaan, sedangkan beban permukiman di atasnya yang padat, bukan tidak mungkin akan mengalami longsor.

Sekalipun bencana tidak dapat diprediksi datangnya, kita bisa melakukan mitigasi untuk mengurangi risiko bencana. Dr. Dicky mengungkapkan, kesigapan masyarakat saat dan pasca terjadi bencana harus terus disadarkan.

Secara sederhana, setiap instansi ataupun wilayah harus memiliki sistem peringatan dini bencana maupun sistem penanggulangan bencana. Sistem peringatan dini dapat mempercepat masyarakat bereaksi terhadap gejala kebencanaan. Selain itu, jalur-jalur evakuasi juga harus disiapkan. Hal ini sebagai upaya mengarahkan masyarakat untuk bisa mencapai tempat yang aman saat bencana terjadi.

Dr. Dicky juga menyarankan setiap keluarga menyiapkan kotak siaga darurat (emergency kit) yang berisi barang-barang vital yang dibutuhkan ketika bencana, seperti air mineral, sejumlah makanan, kotak P3K, senter, alas koran, jas hujan, topi, pakaian, hingga komponen yang bisa berfungsi dalam keadaan gelap.

Gedung perkantoran pun harus menyiapkan berbagai tanda dan peralatan evakuasi, seperti jalur evakuasi, pintu darurat, APAR, hingga peralatan kegawatdaruratan lainnya.

“Hal seperti itu sebetulnya sederhana, tetapi banyak yang melupakan,” ujarnya.*

Laporan oleh Arief Maulana