KKN Tematik, Mahasiswa Diharapkan dapat Menyentuh Akar Permasalahan di Citarum

[unpad.ac.id, 13/10/2018] Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Tematik Universitas Padjadjaran di kawasan DAS Citarum harus benar-benar menyentuh akar permasalahan yang ada. Ini dilakukan agar sumber masalah tersebut bisa menjadi solusi terhadap penanganan masalah di sungai Citarum.

Kiri ke kanan: Koordinator Dosen Pendamping Lapangan (DPL) KKN Tematik Unpad Citarum Harum Dr. Teguh Husodo, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Asep Kusumah, Kepala Badan Pengelola Waduk Cirata Wawan Darmawan, dan Dosen Biologi Unpad Asri Peni Wulandari, PhD, dalam acara pembekalan program KKN Tematik Unpad Citarum Harum di Kantor Pusat Unggulan Lingkungan dan Ilmu Keberlanjutan (Puslik) Unpad, Jalan Sekeloa Selatan Nomor 1, Bandung, Sabtu (13/10). (Foto: Tedi Yusup)*

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Asep Kusumah mengatakan, kegiatan KKN Tematik Unpad diharapkan tidak sekadar menyelesaikan permasalahan di permukaan saja. Ia menilai, penanganan masalah sampah dan lingkungan di Citarum berakar dari bagaimana mengubah perilaku masyarakatnya.

“KKN itu tidak lagi simbolnya hanya memberi tong sampah, membangun bak sampah, atau membangun MCK, kalau tidak dibangun sistemnya percuma,” terang Asep saat memberikan pembekalan kepada mahasiswa dan dosen pendamping lapangan KKN Tematik Unpad Citarum Harum di Kantor Pusat Unggulan Lingkungan dan Ilmu Keberlanjutan (Puslik) Unpad, Jalan Sekeloa Selatan Nomor 1, Bandung, Sabtu (13/10).

Sekira 3,6 juta masyarakat Kab. Bandung berdampak terhadap resistansi Citarum. Asep menilai, inti sari dari penanganan Citarum adalah perlunya pembangunan tata nilai untuk meningkatkan peran serta warga. Upaya ini yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup maupun pemerintah terkait secara masif.

Saat ini Pemkab Bandung memiliki banyak program untuk meningkatkan kesadaran warganya dalam mengelola sampah rumah tangga. Pemkab tidak lagi menjadi otoritas untuk menghimpun sampah domestik, tetapi memaksa warga untuk memenuhi kewajibannya dalam menjaga lingkungan.

Mahasiswa KKN Unpad diharapkan dapat mengadvokasi perangkat desa untuk merumuskan penanganan sampah secara mandiri. Asep mengatakan, mahasiswa perlu mendesak desa untuk membentuk peraturan desa terkait pengelolaan sampah. Dengan demikian, ada komitmen untuk meningkatkan peran masyarakat dalam menangani sampah.

“Berbicara perilaku, tidak mungkin hanya bisa diselesaikan dengan masalah teknis, perlu ada kesadaran individu. Kesadaran individu ini akan menjadi kekuatan kolektif,” ujar Asep.

Jadi Model bagi Wilayah Lain

Sementara itu, Kepala Badan Pengelola Waduk Cirata Wawan Darmawan menjelaskan, permasalahan pencemaran di Waduk Cirata juga cukup kompleks. Mahasiswa dan dosen KKN Tematik Unpad diharapkan dapat menyentuh masalah utama di waduk dengan luasan terendamnya sebesar 6.200 hektar tersebut.

Di hadapan mahasiswa dan dosen ia mengungkapkan, pencemaran akibat limbah dari keramba jaring apung (KJA) merupakan masalah utama di Waduk Cirata. Sekalipun peraturan Gubernur Jawa Barat membatasi operasional KJA di Cirata sebanyak 12.000, nyatanya dalam beberapa tahun terakhir jumlah KJA di Cirata sebanyak 98.000 keramba.

“Ini artinya sudah lebih 8 kali lipat dari yang ditetapkan,” kata Wawan.

Pencemaran limbah ini diakibatkan pakan ikan yang tidak termakan. Wawan menjelaskan, pakan yang tidak termakan menyatu dengan feses yang dikeluarkan ikan. Penyatuan ini menghasilkan nutrien di dalam waduk. Jika terjadi reaksi kimia dengan zat lain, nutrien ini akan menjadi racun.

Racun yang terakumulasi terlalu banyak di waduk perlahan akan mengendap di dasar. Wawan mengatakan, jika terjadi cuaca ekstrem, dimana terjadi perubahan suhu panas menjadi dingin, maka kondisi dalam air akan terjadi pembalikkan massa air (upwelling), atau pergerakan air di dasar yang jauh lebih dingin ke permukaan.

“Jika arus bawah naik ke atas, ikan-ikan seketika akan mati masal. Ini karena racun dari bawah ikut naik ke atas,” jelasnya.

Upaya penanganan limbah KJA KJA telah dilakukan Wawan bersama pemangku kepentingan. Namun, butuh kerja sama yang lebih luas dengan berbagai pemangku kepentingan lainnya, terutama bagaimana untuk mendorong masyarakat sekitar beralih usaha atau melakukan budidaya ikan dengan metode bioflok.

Ia berpendapat, jika model penanganan KJA di Cirata efektif, model ini bisa diterapkan pada KJA di sejumlah waduk di daerah lainnya. Wawan mengatakan, selain Waduk Cirata, ada 26 waduk ber-KJA lainnya di Indonesia.

Program Kreativitas Mahasiswa

Berbagai solusi penanganan masalah dalam KKN Tematik Unpad Citarum Harum ini juga didorong untuk dijadikan program kreativitas mahasiswa (PKM). Dengan hal tersebut, kinerja kemahasiswan Unpad juga akan meningkat.

Dosen Biologi Unpad sekaligus tim pembina PKM Unpad Asri Peni Wulandari, PhD, mengatakan, PKM merupakan ajang yang bergengsi. Semakin banyak mahasiswa yang terlibat di PKM akan mendorong naiknya pemeringkatan institusi. Selain itu, PKM ini juga melibatkan kerja sama yang baik antar mahasiswa dan dosen.

Program kreativitas ini merupakan program besar dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI setiap tahunnya. Luaran dari PKM ini adalah keikutsertaan institusi dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) hingga publikasi ilmiah.

Asri menjelaskan, ada 6 model PKM yang dikompetisikan dalam Pimnas. Enam model tersebut yaitu PKM Penelitian (P), PKM Kewirausahaan (K), PKM Pengabdian kepada Masyarakat (M), PKM Karsa Cipta, dan PKM Teknologi (T), dan PKM Gagasan Tertulis (GT). Sementara model PKM Artikel Ilmiah (A) tidak dikompetisikan di Pimnas tapi harus dipublikasikan di jurnal ilmiah terakreditasi dan e-journal.

Dari beragam penyampaian tantangan dalam pembekalan tersebut, Asri mendorong mahasiswa untuk merealisasikannya menjadi konsep proposal PKM. Dalam hal ini, mahasiswa jangan sampai salah memilih model PKM yang diinginkan.

“Setiap PKM punya kriteria berbeda. Anda jangan salah kamar, kalau judulnya PKM P tapi arahnya ke pengabdian kepada masyarakat, dari awal proposalnya sudah ditolak,” kata Asri.*

Laporan oleh Arief Maulana