Rektor Dorong Kawasan Sains dan Teknologi Ciptakan Ekosistem Komunikasi untuk Hilirkan Inovasi

[unpad.ac.id, 5/11/2018] Hadirnya Kawasan Sains dan Teknologi (KST) di perguruan tinggi bukan sekadar menjadi etalase inovasi hasil penelitian. Kawasan ini harus menjadi bagian integral dalam menghilirkan berbagai inovasi penelitian akademik menjadi sesuatu yang bermanfaat di masyarakat.

Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Tri Hanggono Achmad saat membuka seminar internasional “The Padjadjaran International Conference on Science & Technology Parks and Incubators in Innovation Ecosystems” (PICS) di Unpad Training Center, Jalan Ir. H. Djuanda, No. 4, Bandung, Senin (5/11). (Foto: Tedi Yusup)*

“Pengembangan KST oleh pemerintah diharapkan bisa punya kontribusi kuat bagi pembangunan bangsa,” ujar Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Tri Hanggono Achmad saat membuka seminar internasional “The Padjadjaran International Conference on Science & Technology Parks and Incubators in Innovation Ecosystems” (PICS) di Unpad Training Center, Jalan Ir. H. Djuanda, No. 4, Bandung, Senin (5/11).

Selaras dengan rencana strategis pengembangan KST, hadirnya kawasan ini merupakan fasilitasi penting dalam menghasilkan inovasi di perguruan tinggi. Namun, upaya ini tidak mungkin dapat dijalankan oleh perguruan tinggi saja.

Rektor menjelaskan, harus ada ekosistem interaksi yang melibatkan berbagai sektor strategis. Melalui interaksi dan kolaborasi yang baik, berbagai inovasi tersebut akan dihilirkan dan memiliki keterkaitan kuat dengan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat.

“Inovasi ini supaya dapat dinikmati masyarakat memang harus diskalabesarkan, yang jembatannya adalah pelaku bisnis atau industri,” kata Rektor.

Di sisi lain, industri akan tertarik apabila inovasi itu dibutuhkan pasar. Rektor mengatakan, sekalipun inovasi yang dihasilkan merupakan penemuan luar biasa, jika pasar menilai kebutuhannya tidak banyak, industri belum tentu mau memproduksi secara besar.

“Berikutnya, kalaupun dibutuhkan pasar, proses ini menguntungkan tidak? Saya yakin tidak ada industri yang mau berbisnis kalau tidak menguntungkan,” jelasnya.

Penciptaan ekosistem interaksi dalam wahana KST diharapkan dapat menjembatani inovasi dengan kebutuhan masyarakat dan bisnis pelaku industri. Meski saat ini perkembangan bisnis rintisan (start up) sebagian besar bukan berasal dari pengembangan keilmuan, Rektor meyakini kekuatan akademik tetapi menjadi kunci membangun kekuatan bangsa.

Melalui seminar internasional ini, diharapkan terbangun ekosistem dan saling keterbukaan dalam pengembangan KST Unpad. Hal ini didasarkan, banyak peserta seminar yang bukan berasal dari kalangan akademisi.

Jalin Kerja Sama

Di sela pembukaan kegiatan PICS 2018, Unpad juga menjalin kerja sama dengan perusahaan venture kapital Shanghai Neobay Venture Capital, Co., Ltd. Kerja sama ini diwujudkan melalui penandatanganan naskah MoU antara Rektor dan CEO Neobay Zhang Zhigang, PhD.

Ketua Pusat Inkubasi Bisnis/Oorange Unpad yang juga menjadi salah satu divisi KST Unpad Diana Sari, PhD, mengatakan, kerja sama ini dilakukan untuk menginkubasi berbagai potensi bisnis yang dimiliki Unpad.

“Bisnis yang telah diinkubasi di Oorange akan dipromosikan oleh Neobay, diharapkan terjalin banyak investor,” ujar Diana.

Kerja sama dengan Neobay ini dinilai sangat menguntungkan. Sebagai perusahaan model venture besar di China, Unpad memiliki peluang untuk mengintegrasikan berbagai potensi bisnis dan inovasi riset dengan sektor bisnis dan industri di tingkat global.

Selain kerja sama tersebut, Rektor juga mengharapkan Neobay menerima sejumlah mahasiswa Unpad untuk magang. “Ini baik untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa,” kata Rektor.*

Laporan oleh Arief Maulana