Pesantren Jadi Basis Pembangunan Desa Mandiri di Jawa Barat

[unpad.ac.id, 10/12/2018] Tim Aliansi Strategis Universitas Padjadjaran-Jawa Barat (ASUP Jabar) memberikan rekomendasi pembangunan wilayah Jawa Barat melalui peningkatan kapasitas pesantren. Pesantren didorong bukan hanya menjadi basis penyebaran agama, tetapi menjadi unsur pembangun desa.

Ketua Aliansi Strategis Universitas Padjadjaran-Jawa Barat (ASUP Jabar) Prof. Dr. Reiza D. Dienaputra, M.Hum., menjadi pembicara dalam acara “Seminar dan Pelatihan Pemberdayaan Ekonomi Pesantren: Membangun Kemandirian Pesantren yang Bermanfaat secara Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan” yang diselenggarakan oleh LP3M (Lembaga Pengembangan, Pemberdayaan Pesantren dan Masjid) “Baitul Iman” Jawa Barat, di Gedung PGRI, Bandung, Rabu (28/11) lalu.*

Ketua ASUP Jabar Prof. Dr. Reiza D. Dienaputra, M.Hum., menyampaikan, model pembangunan desa berbasis pesantren merupakan agen perubahan dari pembangunan. Hal tersebut disampaikan Prof. Reiza saat menjadi pembicara dalam acara “Seminar dan Pelatihan Pemberdayaan Ekonomi Pesantren: Membangun Kemandirian Pesantren yang Bermanfaat secara Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan” yang diselenggarakan oleh LP3M (Lembaga Pengembangan, Pemberdayaan Pesantren dan Masjid) “Baitul Iman” Jawa Barat, di Gedung PGRI, Bandung, Rabu (28/11) lalu.

Model pembangunan berbasis pesantren meliputi pemberdayaan masyarakat dengan tahapan pemetaan dan penguatan potensi pesantren, Pesantren Membangun Desa, Pembangunan Desa berbasis IDM (Indeks Desa Membangun).

Dalam rilis yang diterima Humas Unpad, Prof. Reiza menjelaskan Indeks Desa Membangun/IDM terdiri 4 Dimensi, yaitu Dimensi Sosial (34 indikator), Dimensi Ketahanan Ekonomi (12 indikator), Dimensi Ekologi (6 Indikator), dan Dimensi Potensi Desa.

“Saat ini, tantangan pesantren tradisional dan modern saat ini khususnya di Jawa Barat; belum terintegrasinya database profil pesantren yang akurat dan up-to-date, belum terpetakan dengan baik potensi yang ada dari tiap pesantren, optimalisasi pemberdayaan masyarakat lokal berbasis pesantren setempat, standarisasi kualitas pesantren, serta internasionalisasi pesantren agar mendunia,” jelas Prof. Reiza.

Prof. Reiza juga mendorong terutama kepada santri dan pimpinan pondok pesantren di desa sangat tertinggal di Jawa Barat untuk bersama-sama membangun desa. Pembangunan dilakukan secara bertahap, mulai dari desa sangat tertinggal (IDM <0,491) menjadi desa tertinggal (IDM > 0,491 dan < 0,599), desa berkembang (IDM > 0,599 dan ≤ 0,707), desa maju (IDM > 0,707 dan≤ 0,815), yang akhirnya menjadi klasifikasi desa mandiri (IDM > 0,815).

Jawa Barat setidaknya memiliki 5.312 desa hingga 2018. Persentase terbanyak berada pada klaisifikasi desa berkembang, yaitu 3.603 desa atau 68% dari total desa di Jawa Barat. “Diharapkan pesantren-pesantren yang tradisional/modern bersama-sama dengan stakeholder dapat meningkatkan status Desa nya menjadi Desa Maju dan Mandiri,” kata Prof. Reiza.

Unpad sendiri, lanjut Prof. Reiza, telah berkontribusi membangun desa untuk menuju kemandirian desa di Jawa Barat. Berbagai program telah dijalankan, seperti Kuiah Kerja Nyata (KKN), Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Profesor masuk Desa (PMD), dan Tahapan Persiapan Bersama.

Kolaborasi menjadi aktivitas penting dalam upaya tersebut. Diharapkan, kerja sama antara Unpad dan pesantren di Jawa Barat dapat menjadi langkah efektif membangun desa mandiri.*

Rilis: ASUP Jabar/am