Penerimaan Mahasiswa Baru 2019/2020, Unpad Buka Jalur Mandiri untuk Program Sarjana Reguler

[unpad.ac.id, 22/1/2019] Proses seleksi penerimaan mahasiswa baru Universitas Padjadjaran tahun akademik 2019/2020 jenjang Sarjana mengikuti pola seleksi yang telah ditetapkan secara nasional. Selain jalur SNMPTN dan SBMPTN, mulai 2019 Unpad akan membuka seleksi penerimaan jenjang Sarjana melalui jalur mandiri.

Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Tri Hanggono Achmad didampingi Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Dr. Arry Bainus, M.A., saat menggelar jumpa pers Penerimaan Mahasiswa Baru Unpad tahun akademik 2019/2020 di ruang Executive Lounge Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Selasa (22/1) sore. (Foto: Tedi Yusup)*

Rektor Unpad Prof. Tri Hanggono Achmad menjelaskan, pada tahun ini seleksi jalur SBMPTN maupun jalur mandiri hanya menggunakan satu metodologi ujian, yaitu Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Penyelenggaraan UTBK akan dikelola oleh Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT).

(baca juga: Resmi Diluncurkan, Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Akan Mengelola Ujian Tulis Berbasis Komputer)

Saat menggelar jumpa pers di ruang Executive Lounge Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Selasa (22/1) sore, Rektor mengatakan, UTBK dilakukan sebelum masa pendaftaran SBMPTN. Dengan demikian, peserta mendaftar UTBK tanpa memilih dahulu program studi yang diinginkan.

“Mereka (peserta) tinggal ikut mau ujian apa, apakah ikut kelompok Eksakta, Sosial Humaniora, atau Bahasa,” ujar Rektor.

Pendaftaran UTBK dibuka pada 1 Maret hingga 1 April 2019. Pelaksanaan UTBK dilakukan mulai 13 April hingga 26 Mei 2019. “Setiap peserta diberi kesempatan maksimal 2 kali ujian. Kalau dia ujian di bidang (kelompok) yang sama, nilai tertinggi yang akan diambil. Kalau di bidang berbeda, tergantung program studi mana yang dia ambil di SBMPTN,” jelas Rektor.

Hasil UTBK sendiri akan diterima oleh setiap peserta. Hasil yang diterima menjabarkan seluruh nilai (subskor) dari komponen tes yang diujikan. Upaya ini merupakan upaya dari Kemenristekdikti untuk memperoleh calon mahasiswa lebih tepat berdasarkan kemampuan yang terlihat dari hasil tes.

“Sebagai contoh berdasarkan pengalaman tahun lalu, seseorang ingin masuk Kedokteran tapi nilai Biologinya 0, tapi dia tetap bisa masuk karena nilai totalnya besar. Sekarang, tidak hanya bergantung pada nilai total tetapi pada pembobotan subskornya,” paparnya.

Dengan demikian, setiap prodi di tiap PTN akan punya pembobotan tersendiri. Ini akan memungkinkan calon mahasiswa menentukan program studi yang sesuai berdasarkan ukuran kemampuan potensinya. Proses ini yang mendorong pelaksanaan UTBK digelar terlebih dahulu dari pendaftaran SBMPTN.

Daya tampung setiap jalur berbeda dengan kuota pada tahun 2018. Kemenristekdikti pada tahun ini menetapkan kuota minimal untuk SNMPTN sekitar 25%. Sementara kuota minimal SBMPTN 2019 sekitar 40%, dan kuota jalur mandiri maksimal 30% dari total daya tampung.

“Jadi terjadi penurunan di SNMPTN, terjadi peningkatan di SBMPTN dan jalur mandiri,” kata Rektor.

Selanjutnya, bagi calon mahasiswa yang dinyatakan lulus dari SNMPTN, sistem otomatis akan menolak calon untuk mendaftar ke SBMPTN maupun jalur mandiri. Ketetapan ini bertujuan untuk memaksimalkan terpenuhinya daya tampung yang sudah ditetapkan setiap PTN.

Jalur Mandiri

Rektor menjelaskan, pada tahun ini pula, Unpad membuka seleksi penerimaan mahasiswa baru tingkat Sarjana reguler melalui jalur mandiri atau jalur Seleksi Masuk Universitas Padjadjaran (SMUP). Sebelumnya, SMUP hanya dibuka untuk seleksi program Sarjana Terapan, Sarjana Program Studi di Luar Kampus Utama, dan Pascasarjana.

Rektor mengatakan, tidak semua program studi Sarjana membuka pendaftaran untuk jalur mandiri. Jalur mandiri akan dibuka terutama bagi program studi yang membutuhkan ujian tambahan di luar hasil UTBK.

“Ini adalah upaya optimasi bagaimana perguruan tinggi bisa menemukan mahasiswa yang tepat. Tahun ini masing-masing prodi diberi kesempatan oleh Panitia Pusat untuk mengembangkan strategi tes tambahan,” kata Rektor.

Beberapa prodi di Unpad telah menyiapkan materi ujian tambahan. Ada bentuknya wawancara, tes TOEFL, portofolio, tes Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI), dan tes praktikum. “Jalur mandiri disediakan sebagai bagian untuk menyempurnakan pola tes ini,” kata Rektor.

Selain untuk Sarjana reguler, jalur mandiri tahun ini juga dibuka untuk kelas internasional program Sarjana. Kelas internasional ini akan dibuka di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Hukum, dan Fakultas Farmasi.

Kelas internasional ini dapat diikuti oleh mahasiswa domestik maupun mahasiswa asing. Ada beberapa perbedaan mendasar dengan program Sarjana reguler, seperti bahasa pengantar perkuliah menggunakan bahasa Inggris, hingga standar kurikulum yang melebihi standar di Sarjana reguler.

Secara keseluruhan, presentasi alokasi daya tampung Sarjana reguler di Unpad, yaitu minimal 25% untuk SNMPTN, 50% untuk SBMPTN, dan 25% untuk jalur mandiri. Rektor menegaskan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) di Unpad tidak akan mengalami kenaikan.

Program Kedokteran Gratis Dihentikan

Dalam jumpa pers yang dihadiri sejumlah awak media, Rektor menjelaskan mengenai program pembebasan biaya kuliah bagi dokter dan dokter spesialis. Mulai tahun ini, Unpad menghentikan program tersebut.

Rektor mengatakan, pertimbangan utama dihentikannya program tersebut adalah terpenuhinya kebutuhan calon dokter dan dokter spesialis, terutama untuk ditempatkan di wilayah Jawa Barat. Selama tiga tahun berjalan, program ini telah menjaring sekitar 900an mahasiswa program Dokter Spesialis dan 800an mahasiswa program Sarjana Pendidikan Dokter.

Rektor menekankan bahwa program ini bukan semata menggratiskan biaya pendidikan dokter dan dokter spesialis. Tujuan utama program ini adalah untuk memenuhi kebutuhan dokter dan dokter spesialis di daerah Jawa Barat. Mahasiswa harus siap ditempatkan sebagai dokter atau dokter spesialis di seluruh wilayah di Jabar. Sebagai apresiasinya, Unpad membebaskan mahasiswa tersebut dari biaya kuliah.

Selain itu, program ini merupakan program kerja dari Rektor 2015-2019 yaitu Prof. Tri Hanggono Achmad. Berkenaan dengan proses pemilihan Rektor Unpad 2019-2023 yang sedang berlangsung, maka keberlanjutan dari kebijakan program ini bergantung sepenuhnya pada rektor terpilih mendatang.*

Laporan oleh Arief Maulana