Senam Cegah Stunting Karya Sivitas Akademika FK dan FIB Unpad Diapresiasi Pemerintah Pusat

[unpad.ac.id, 10/1/2019] Untuk meningkatkan kesadaan masyarakat mengenai pentingnya mencegah stunting, sivitas akademika Universitas Padjadjaran menciptakan “Senam Cegah Stunting” dengan lagu yang energik dan gerakan yang mudah diikuti. Sejak diciptakan November 2018 lalu, senam ini sudah banyak digunakan dan diapresiasi pada sejumlah kegiatan di beberapa kota, mulai dari lingkungan Unpad hingga lingkungan Pemerintah Provinsi dan Pusat.

Sivitas akademika dan tenaga kependidikan Universitas Padjadjaran melakukan “Senam Cegah Stunting” di Plaza Gedung Rektorat, Jatinangor, Rabu (2/1) lalu. Senam cegah stunting merupakan kreasi sivitas akademika Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Budaya Unpad dalam mendukung gerakan cegah stunting di Indonesia. Gerakan senam ini sudah banyak digunakan dan diapresiasi pada berbagai kegiatan di berbagai kota, mulai dari lingkungan Unpad hingga pemerintah Provinsi dan pusat. (Foto: Arief Maulana)*

Kreasi “Senam Cegah Stunting” tercipta dari kolaborasi Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Budaya Unpad. Untuk lirik lagu, diciptakan oleh dosen FK Unpad  Melani Sari, dr., SpA., M.Kes dan  Rodman Tarigan, dr.,SpA(K)M.Kes., dengan melibatkan pengaransemen (arranger) lagu dari Bandung. Sementara gerakan senam diciptakan oleh dosen FIB Unpad Taufik Ampera, M.Hum bersama mahasiswanya Muhamad Nurdin Jamil.

Diungkapkan dr. Melani, upaya meningkatkan kesadaran masyarakat salah satunya dapat dilakukan melalui lagu. Selain menarik, menyampaikan pesan lewat lagu juga dapat membuat masyarakat awam dapat lebih paham mengenai stunting.

“Lagu merupakan salah satu atribut yang perlu dibuat untuk melengkapi sosialisasi kegiatan supaya pesan yang ada di lagu mudah dipahami dan ditangkap oleh masyarakat,” ungkap dr. Melani saat dihubungi Kamis (10/1).

Mulanya, senam tersebut diciptakan untuk kegiatan “Academic Health System” yang digelar Unpad di Kabupaten Karawang pada awal Desember 2018 lalu. Namun apresiasi ternyata juga muncul dari pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kantor Staf Presiden dengan menampilkan dan memperagakan  senam tersebut pada acara deklarasi cegah stunting di Lapangan Gasibu Bandung, November 2018 lalu.

Selain itu, senam ini juga telah ditampilkan dan diperagakan oleh sejumlah masyarakat pada program cegah stunting  di Surabaya dan Yogyakarta.

“Masyarakat sangat antusias karena lagunya sangat energik, suasana gembira, dan inspiratif,” ujar dr. Rodman.

Senada dengan dr. Rodman, dr. Melani pun mengungkapkan bahwa senam tersebut mampu menarik minat masyarakat untuk mengikuti setiap gerakannya.

“Karena lagu mudah dihapal, notasi yang easy listening dan gerakannya pun sederhana cocok untuk digunakan senam masal,” ujar dr. Melani.

Sementara itu, sebagai pencipta gerakan, Taufik mengungkapkan bahwa gerakan yang dibuat bukanlah gerakan untuk mencegah stunting, melainkan gerakan senam sederhana sebagai bentuk kampanye program cegah stunting.

“Kami mencoba gerankan-gerakan disesuaikan lirik, irama, lagu yang ada. Gerakan itu merupakan gerakan yang sederhana dan mudah diikuti,” ungkap Taufik.

Menurut Taufik, “Senam Cegah Stunting” merupakan salah satu bukti bahwa berbagai keilmuan yang ada di Unpad dapat bersatu untuk menghasilkan karya inovatif yang diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Lagunya dibuat oleh tim kedokteran, kemudian gerakannya dari FIB, ini juga akan mencerminkan bahwa keilmuan kedokteran dengan keilmuan budaya itu bisa harmonis menghasilkan satu karya inovatif,” ujarnya.

Diharapkan tim, senam ini dapat menjadi media edukasi mengenai stunting. Masyarakat pun dapat sadar untuk berkontribusi dalam pencegahan stunting, serta tergerak untuk memeriksakan pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga dapat tercegah dari stunting.

“Stunting itu bisa dicegah dengan kesadaran keluarga mengenai tumbuh kembang anak demi mencapai generasi yang lebih baik. Semua perlu peduli stunting. Tidak mengenal usia, siapa pun bisa berkontribusi dengan mencegah stunting saat kita menjadi remaja, usia produktif, dan juga orang tua,” ujar dr. Melani.

Dijelaskan dr. Melani, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang tidak sempurna, yang disebabkan kurang gizi kronis pada anak usia dibawah dua tahun. Stunting dapat terjadi mulai dari sejak dalam kandungan ibu. Untuk itu, stunting dapat dicegah dengan memberikan nutrisi maksimal, terutama pada 1000 hari pertama awal kehidupan.*

Laporan oleh Artanti Hendriyana/am