Ayesha Nadya Muna Wakili Indonesia pada Pertemuan Mahasiswa Tingkat Dunia di Jerman

[unpad.ac.id, 10/6/2019] Mahasiswa Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Ayesha Nadya Muna, menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam pertemuan mahasiswa tingkat internasional terbesar di dunia, yaitu “International Student Week in Ilmenau” (ISWI) di Technische Universität Ilmenau, Jerman, 17 – 26 Mei lalu.

Mahasiswa Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Ayesha Nadya Muna, menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam pertemuan mahasiswa tingkat internasional “International Student Week in Ilmenau” (ISWI) di Technische Universität Ilmenau, Thuringia, Jerman, 17 – 26 Mei lalu.*

ISWI diikuti oleh lebih dari 300 peserta dari 70 negara di dunia. Kegiatan ini merupakan pertemuan mahasiswa tingkat dunia dengan tujuan untuk membentuk masyarakat global yang toleran dan terbuka.

“ISWI membuka diri sebagai tempat yang kondusif dan efektif untuk mendiskusikan berbagai persoalan global dari sudut pandang lokal yaitu sudut pandang budaya tiap-tiap pesertanya dan mencari solusinya bersama-sama. Pertukuran informasi dan budaya pun menjadi menu sehat para peserta ISWI,” ujar Ayesha.

Mengangkat tema “Tradition and Transition”, ISWI memiliki beragam kegiatan. Mulai dari festival kuliner dunia, diskusi panel, hingga sejumlah lokakarya pengembangan diri.

Ayesha menjelaskan, ada dua diskusi panel yang digelar. Diskusi pertama membahas mengenai “Integration and Participation of Refugees and Migrants” dengan pembicara dari Uganda Red Cross Society dan Migration Hub Network.

Sementara diskusi kedua membahas mengenai “Environmental Conservation in a Globalised World” dengan pembicara dari Sri Lanka Youth Climate Action Network (SLYCAN) dan University Vienna.

Ayesha sendiri mengikuti kelompok diskusi tentang konservasi lingkungan. Diskusi ini membahas sejumlah isu lingkungan yang saat ini terjadi di dunia. Dalam diskusi tersebut, Ayesha mencoba mengutarakan solusi dari permasalahan lingkungan melalui sudut pandang antropologi.

Di ajang festival kuliner dunia, Ayesha dan delegasi Indonesia lainnya menyajikan beragam kuliner khas Nusantara, seperti dodol, kue gapit, rendang, jinten manis, serundeng, amplang, dan abon.

Tidak ketinggalan, para delegasi juga menggunakan busana kebaya dan batik sebagai simbol busana khas Indonesia. Di sela festival, delegasi Indonesia menyuguhkan penampilan lagu daerah “Yamko Rame Yamko”.*

Rilis/am