Populasi Lebah Indikator Kualitas Lingkungan

[unpad.ac.id, 22/7/2019] Penggunaan pestisida kimia pada tanaman dapat menurunkan populasi lebah. Dengan demikian, diperlukan upaya khusus agar lebah tetap memiliki peran dalam proses penyerbukan tanaman dan tidak kehilangan habitatnya.

Foto bersama Seminar Internasional dan Workshop Ideathlon di Ruang Serba Guna, Gedung 2 Lantai 4, Unpad, jalan Dipati Ukur No. 35 Bandung, Minggu (7/7).*

Hal tersebut disampaikan staf pengajar dan peneliti serangga dari Sekolah Ilmu dan Teknik Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung Ramadhani Eka Putra, S.Si., M.Si., Ph.D. dalam Seminar Internasional dan Workshop Ideathlon di Ruang Serba Guna, Gedung 2 Lantai 4, Unpad, jalan Dipati Ukur No. 35 Bandung, Minggu (7/7).

Acara tersebut diselenggarakan oleh Unpad sebagai salah satu anggota konsorsium proyek Smart Apiculture Management Services (SAMS) yang diketuai oleh Dr. Dwi Purnomo, STP., MT. Acara tersebut juga merupakan kegiatan penutupan dari Workshop User Center Design Proyek SAMS. Tema yang diangkat dari seminar Internasional ini adalah “Beekeeping 4.0: The Role of Beekeeping Activities In Protecting The Environment In The Era Of Climate Change & Complexities”.

Selain dari SITH ITB, pembicara yang hadir juga berasal dari Agrartechnik Witzenhausen Universität Kassel (Jerman), University of Graz (Austria), Holetha (Ethiopia) dan Universitas Padjadjaran sendiri yang di wakili oleh Dr.Dwi Purnomo.

Tujuan digelarnya acara ini di antaranya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya lebah dalam konteks pelestarian lingkungan dan masyarakat dapat mengetahui peran lebah dalam membantu manusia mengukur kualitas lingkungan. Pemaparan materi dilakukan berdasarkan studi kasus dari Eropa, Ethiopia, dan Indonesia.

“Peternakan lebah merupakan kegiatan sampingan yang dilakukan secara tradisional dengan 1,8 juta rumah tangga yang terlibat. Kegiatan ini memberikan kontribusi besar bagi peningkatan pendapatan pedesaan terutama bagi perempuan dan pemuda yang tidak memiliki tanah untuk digarap menjadi ladang pertanian. Ethiopia sendiri adalah salah satu negara penghasil madu terkemuka di dunia dengan produksi tahunan sekitar 61.000 ton,” jelas Kibebew dari Holeta-Ethiopia.

Setelah sesi seminar internasional, acara dilanjutkan dengan workshop ideathlon di mana para peserta diminta untuk membuat ide bisnis dengan metode Design Thinking yang berfokus pada User Center Design yang dikompetisikan. Peserta yang hadir dibagi menjadi beberapa kelompok dan tema yang berbeda yaitu pengembangan bisnis teknologi SAMS, bisnis madu dan produk turunannya, serta bisnis dalam budidayanya. *

Rilis/art