Selamatkan Karya Budaya Sunda, Unpad Miliki Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda

[unpad.ac.id, 13/11/2019] Universitas Padjadjaran kini memiliki lembaga yang khusus melakukan inventarisasi kekayaan budaya tulis, audio, dan visual milik masyarakat Sunda. Tidak hanya melakukan inventarisasi, lembaga bernama “Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda Unpad” ini juga mengolahnya ke dalam bentuk digital.

Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Rina Indiastuti, M.SIE., bersama Wakil Rektor Bidang Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Korporasi Akademik Dr. Keri Lestari, M.Si., dan Ketua Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda Unpad Prof. Ganjar Kurnia melihat aktivitas pemindaian media cetak yang dilakukan  Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda Unpad di Grha Soeria Atmadja, Jalan Dipati Ukur No. 46, Bandung, Rabu (13/11). (Foto: Arief Maulana)*

Inisiasi dari inventarisasi khazanah kebudayaan Sunda ini muncul dari Rektor ke-10 Unpad Prof. Dr. Ganjar Kurnia, DEA. Sejak 2013, Prof. Ganjar bersama tim mulai mengumpulkan berbagai karya tulis seperti buku dan media berbahasa Sunda, hingga berbagai arsip gambar dan rekaman suara.

Dalam acara sosialisasi sekaligus peresmian berdirinya Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda Unpad di Grha Soeria Atmadja, Jalan Dipati Ukur No. 46, Bandung, Rabu (13/11), Prof. Ganjar menjelaskan, upaya yang dilakukan bertujuan untuk menyelamatkan kekayaan tulis, audio, dan video orang Sunda dari kepunahan serta menyebarluaskan kembali kepada khalayak.

Berdasarkan hasil penelusuran, tercatat sekira 100 jenis media berbahasa Sunda pernah terbit di Jawa Barat. Ada pula media berbahasa asing yang mengupas tentang kebudayaan Sunda. Selain itu, puluhan ribu buku berbahasa Sunda atau tentang Sunda, ribuan arsip gambar, rekaman suara, hingga dokumen penting pernah beredar dan menjadi koleksi pribadi.

“(Arsip budaya) ini diperkirakan akan rusak atau hilang. Atau banyak yang masih menyimpan tetapi kondisinya sudah tidak baik. Inilah yang menyebabkan kami melakukan digitalisasi,” ujar Prof. Ganjar.

Prof. Ganjar menilai, kekayaan budaya ini patut diselamatkan. Setidaknya, upaya ini menjadi salah satu jejak warisan para leluhur Sunda yang diharapkan masih bisa dirasakan di masa depan. “Kalau kita tidak selamatkan, maka kita akan kehilangan satu jejak peradaban,” imbuhnya.

Upaya digitalisasi dilakukan dengan cara melakukan pemindaian dan konverter. Berbagai karya media cetak telah dilakukan pemindaian menjadi format digital. Begitu pula rekaman suara yang berasal dari pita maupun piringan hitam dikonversi secara sederhana sehingga menjadi berformat digital. Seluruh data digital ini disimpan dalam satu pusat data.

Prof. Ganjar menjelaskan, ada tiga peran penting dari digitalisasi arsip budaya Sunda ini. Tiga peran penting tersebut antara lain: mampu membangun peradaban dengan berpijak pada kebudayaan, penyedia kronologi kebudayaan, serta menumbuhkan masyarakat yang melek literasi.

Nantinya, data digital kebudayaan Sunda ini bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat melalui situs khusus. Saat ini, Prof. Ganjar dan tim tengah mengembangkan situs khusus untuk menampilkan data tersebut. Diharapkan, ke depannya pusat ini bisa menjadi museum digital milik Unpad.

Adapun tim yang tergabung dalam Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda Unpad tersebut, yaitu: Dr. Tedi Muhtadin, M.Hum., Drs. Abdul Hamid, M.Hum., Dr. Gani Ahmad Jaelani, DEA., serta sejumlah tenaga pendukung lainnya.

Rektor Unpad Prof. Dr. Rina Indiastuti, M.SIE., mengapresiasi berdirinya pusat digitalisasi arsip budaya Sunda ini. Melalui pusat digitalisasi ini, fakta sejarah masa lalu dirunut secara baik dengan menggunakan teknologi digital.

“Ini adalah bagian dari aset Unpad dan harus dilestarikan kapan pun,” kata Rektor.

Pendekatan digitalisasi dipandang efektif terutama bagi generasi muda. Dengan media digital, generasi muda diharapkan mengenal lebih dekat berbagai khazanah kebudayaan Sunda yang mungkin secara fisik sudah susah dicari dan ditemukan.

Rektor juga berharap, beragam data digital kebudayaan Sunda ini juga bisa dilakukan internasionalisasi. “Rasanya kita perlu mengumandangkan nilai-nilai dari sejarah yang baik ke internasional,” kata Rektor.*

Laporan oleh Arief Maulana