Mahasiswa FK Unpad Raih Perunggu di Ajang Seoul International Invention Fair, Korea Selatan

[unpad.ac.id, 5/12/2019] Tim mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran berhasil meraih medali perunggu pada ajang “Seoul International Invention Fair (SIIF) 2019” yang diselenggarakan oleh Korea Invention Promotion Association (KIPA) di Seoul, Korea Selatan, 27-30 November 2019. SIIF 2019 merupakan gelaran inovasi tingkat internasional yang diikuti oleh para pelajar, mahasiswa, dan inventor dari seluruh dunia.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unpad meraih medali perunggu pada ajang “Seoul International Invention Fair (SIIF) 2019” yang diselenggarakan oleh Korea Invention Promotion Association (KIPA) di Seoul, Korea Selatan, 27-30 November lalu.*

Tim tersebut terdiri dari Annisa Dewi Nugrahani, Manik Intan Gumilang, Ivan Christian Channel, Mochammad Farhan Fajrial Aditama Ridzki, dan Mitra Alparisa. Pada acara SIIF 2019 ini, tim dengan dosen pembimbing Prof. Dr. Ida Parwati, dr., Sp.PK(K), PhD menorehkan prestasi tersebut atas inovasi yang berjudul “Free Antimicrobial Resistance (Fairmont) Project”.

“Inovasi yang ditawarkan adalah mengenai langkah-langkah strategis dan inovatif untuk mencegah dan mengendalikan resistensi antibiotik yang saat ini menjadi salah satu masalah utama kesehatan di seluruh dunia melalui metode berbasis upaya promotif dan preventif pada era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0,” ujar Annisa.

Dikatakan Annisa, resistensi antibiotik diantaranya terjadi karena tidak bijaknya penggunaan antibiotik. Untuk itu, timnya melakukan dua pendekatan untuk mengatasinya. Pertama, melalui modifikasi kurikulum di pendidikan kedokteran. Modifikasi kurikulum dilakukan melalui media melalui poster, video, game digital, dan e-book. Salah satu permainan digital yang ditawarkan tim adalah gameboard monopoli antibiotik.

Kedua, timnya juga mengusulkan inovasi yoghurt beku (frozen yoghurt) dari kambing hibridisasi etawa. Selain mudah diproduksi, yoghurt beku  diyakini sangat menyehatkan karena kaya akan probiotik dan bisa dikonsumsi oleh orang yang alergi terhadap susu sapi.

Dikatakan Annisa, saat ini banyak generasi millenials cenderung memilih yoghurt beku ketimbang produk dessert lainnya seperti gelato ataupun es krim sehingga prospek implementasinya sangat menjanjikan. Tidak hanya itu, pemanfaatan yoghurt beku dari kambing etawa juga dapat  memberdayakan masyarakat lokal di Desa Cimalaka, Kabupaten Sumedang.

Frozen yoghurt yang kaya akan probiotik berpotensi untuk mencegah terjadinya infeksi pada pencernaan dan meningkatkan kekebalan tubuh sehingga dapat mengurangi penggunaan antibiotik,” ujarnya.*

Laporan oleh Artanti Hendriyana