Institut STIAMI dan Universitas Muhammadiyah Bandung Jalin Kerja Sama dengan Unpad

Laporan oleh Arif Maulana
Foto oleh Arif Maulana 

 

[unpad.ac.id, 8/2/2020] Universitas Padjadjaran menjalin kerja sama dengan dua perguruan tinggi nasional, yaitu Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI dan Universitas Muhammadiyah Bandung. Kerja sama diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman yang digelar di ruang Executive Lounge Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Jumat (7/2).

Penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Institut STIAMI dilakukan oleh Rektor Unpad Prof. Dr. Rina Indiastuti, M.SIE., dengan Rektor Institut STIAMI Dr. Ir. Panji Hendrarso, M.M. Sementara penandatanganan Nota Kesepahaman dengan UM Bandung dilakukan oleh Rektor Unpad dan Rektor UM Bandung Prof. Dr. Suyatno, M.Pd.

Dalam sambutannya, Rektor mengatakan, kerja sama antara perguruan tinggi penting dilakukan untuk meningkatkan kapasitas dan kinerja. Karena itu, poin kerja sama yang akan dilakukan harus memiliki pengaruh terhadap peningkatan kinerja.

“Apa pun operasional kerja samanya, tetap harus meningkatkan kinerja baik Unpad maupun perguruan tinggi mitra,” kata Rektor.

Selain itu, Rektor juga membuka tawaran kerja sama riset. Dengan demikian, aktivitas Tridarma Perguruan Tinggi dapat berjalan dengan baik melalui kerja sama tersebut.

Sementara itu, Dr. Panji menjelaskan, maksud kerja sama yang dijalin Institut STIAMI dengan Unpad khususnya fasilitasi tenaga pendidik untuk mengajar di Institut STIAMI. “Kami saat ini berencana membuka program S3. Karena itu kami membutuhkan beberapa tenaga dosen (dari Unpad) yang memenuhi kriteria,” kata Dr. Panji.

Ia pun sepakat bahwa kerja sama yang dilakukan harus memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.

Rektor UM Bandung Prof. Suyatno mengatakan, kerja sama yang akan dibangun dengan Unpad bertujuan untuk pengembangan UM Bandung ke depan. Sebagai perguruan tinggi yang baru beroperasi, UM Bandung membutuhkan banyak mitra pengembangan.

“Kami Muhammadiyah ingin hadir memberikan solusi bagi masyarakat. Supaya tidak menjadi trouble maker, kami datang ke Unpad untuk mendapat masukan,” ujar Prof. Suyatno.*