Kecamuk Asmara dan Dendam dalam Lakon “Apun Geuncay”

Laporan oleh Arif Maulana

Aktris Fani Hatinda memerankan tokoh Apun Geuncay dalam pementasan monolog “Apun Geuncay” yang digelar di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Jumat (21/2). Pementasan ini merupakan Pidangan Budaya Rumawat Padjadjaran ka-82 yang digelar Universitas Padjadjaran melalui Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda. (Foto: Arif Maulana)*

[unpad.ac.id, 21/2/2020] Universitas Padjadjaran melalui Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda menggelar Pidangan Budaya Rumawat Padjadjaran ka-82 berupa pementasan Monolog “Apun Geuncay” yang digelar di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Jumat (21/2).

Monolog ini merupakan adaptasi dari cerita pendek “Apun Geuncay” karya sastrawan Sunda Prof. Yus Rusyana dengan judul yang sama. Naskah monolog disampaikan dalam bahasa Indonesia dengan penerjemah Prof. Dr. Ganjar Kurnia, DEA., serta dibawakan dengan apik oleh aktris Fani Hatinda.

Mengambil latar pada masa Hindia Belanda. “Apun Geuncay” merupakan nama seorang perempuan asal Cikembar, Sukabumi. Perempuan ini dikenal sebagai kembang desa, dengan parasnya yang sangat cantik. Tidak heran jika banyak pemuda desa yang menggoda Apun.

Meski menjadi primadona, ternyata Apun telah “diikat” oleh seorang pemuda asal Cipamingkis. Pemuda yang kerap dipanggil “akang” oleh Apun ini berjanji akan meminangnya ketika masa panen selesai. Apun, dengan senang hati menunggu sang pujaan meminangnya.

Takdir berkata lain, Apun rupanya “diincar” oleh seorang menak yaitu Dalem (Bupati) Cianjur. Sang Bupati kemudian menjadikan “Apun” sebagai selir. Janji sehidup semati dengan pemuda asal Cipamingkis kandas sudah.

Awal pernikahannya dengan Dalem, Apun merasa tidak bahagia. Ia tidak betah tinggal di rumah sang bangsawan tersebut. Lambat laun, rasa tidak betah Apun pun memudar karena ternyata Dalem begitu menyayanginya.

Sikap lembut Dalem kemudian membuat Apun nyaman dan bahagia. Hingga suatu hari, kebahagiaan yang dirasakannya berubah menjadi luka yang dalam. Suatu pagi, Apun menemukan suaminya tergeletak bersimbah darah dengan sebilah pisau menancap di dadanya. Dalem meninggal akibat huru hara yang terjadi di kediamannya saat pagi hari.

Melihat suaminya meninggal secara mengenaskan. Rasa asmara yang tengah memuncak dengan Dalem harus kandas dengan cara yang menyedihkan. Rupanya, Dalem meninggal di tangan “akang”, pemuda Cipamingkis, sosok lelaki yang dicintai Apun sebelum Dalem dan telah berjanji untuk meminangnya kala itu.

Pada kondisi ini, batin Apun terbelit antara dua asmara. Walau pada ujungnya, “akang” juga harus mati dengan cara mengenaskan akibat konsekuensinya membunuh Dalem. Apun, perempuan cantik asal Cikembar, Sukabumi, ini harus menerima kenyataan bahwa dua lelaki pujaannya harus mati mengenaskan akibat asmara.

Sang aktris, Hana Fatinda menyuguhkan kemampuan akting yang luar biasa. Monolog sekira 1 jam tersebut berhasil menghadirkan nuansa emosi kepada penonton. Mulai dari kebahagiaan, kecemasan, hasrat, kesedihan, hingga kehilangan. Penonton pun larut dalam pertunjukan yang disutradarai oleh Asep Supriatna tersebut.

Ihwal naskah berbahasa Indonesia, Prof. Ganjar menyampaikan, hal ini menjadi bukti bahwa karya sastra Sunda bisa diterjemahkan dan dikembangkan oleh berbagai jenis bahasa. “Ini akan menjadikan karya Sunda bisa dikenal lebih luas,” kata Prof. Ganjar.*