Potensi Lokal Kuatkan Sektor Farmasi Indonesia

Laporan oleh Arif Maulana

Dua guru besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Marline Abdassah, M.S., Apt., dan Prof. Dr. Sri Adi Sumiwi, M.S., Apt., dikukuhkan sebagai guru besar oleh Rektor Unpad Prof. Dr. Rina Indiastuti, M.SIE., dalam upacara Penerimaan Jabatan Guru Besar yang digelar di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Jumat (7/2). (Foto: Arif Maulana)*

[unpad.ac.id, 7/2/2020] Perguruan tinggi didorong untuk meningkatkan dan mengaplikasikan penelitian terkait alternatif produksi bahan baku obat dari ketersediaan keanekaragaman hayati di Indonesia. Ini untuk menekan ketergantungan impor bahan baku mentah obat, sehingga pemenuhan bahan baku mentah obat dalam negeri dapat terpenuhi.

Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Marline Abdassah, M.S., Apt., mengatakan, produk lokal yang digunakan harus memenuhi persyaratan pharmaceutical grade sehingga dapat digunakan oleh industri farmasi. Hal itu diungkapkan Prof. Marline dalam orasi ilmiah yang digelar di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Jumat (7/2).

Orasi ilmiah berjudul “Eksplorasi dan Pengembangan Eksipien Farmasi Berbasis Kearifan Lokal” disampaikan Prof. Marline dalam rangka Penerimaan Jabatan Guru Besar dalam bidang Ilmu Farmaseutika dan Teknologi Farmasi pada Fakultas Farmasi Unpad.

Dalam pengembangan bahan baku farmasi, Prof. Marline bersama tim melakukan eksplorasi sejumlah tanaman lokal sebagai sumber alternatif baru eksipien farmasi. Ia menggunakan dua tanaman lokal, yaitu jagung sebagai sumber bahan baku untuk pati serta tanaman rami sebagai sumber bahan baku untuk Micro Crystalline Cellulose (MCC).

“Pati digunakan dalam sediaan farmasi sebagai bahan pengisi (filler) pada sediaan tablet. Selain sebagai bahan pengisi tablet, pati banyak digunakan sebagai bahan pembantu dalam sediaan farmasi antara lain bahan 5 pengikat, dan bahan penghancur,” kata Prof. Marline.

Meski demikian, kebutuhan pati jagung sebagai pengisi sediaan tablet belum dapat dipenuhi dari produksi jagung domestik dan masih diimpor. Dibutuhkan kulitivar jagung unggul yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi serta memenuhi standar industri obat di Indonesia.

Karena itu, Prof. Marline meluaskan penelitiannya dengan adanya Tim Pengembangan Jagung Klaster Pangan Fakultas Pertanian Unpad. Hasilnya, tim mengembangkan varietas hibrida jagung unggul yang berdaya hasil dan kandungan nutrisi yang tinggi.

Selain itu, tanaman rami dapat digunakan sebagai selulosa mikrokristal. Selama ini, MCC sebagai eksipien farmasi selama ini diperoleh dari impor.

“Penggunaan tanaman rami lokal sebagai sumber untuk MCC yang memiliki potensi tinggi serta memenuhi standar industri obat di Indonesia dirasa sangat penting untuk dikembangkan dalam rangka meningkatan mutu dan kuantitas bahan baku khususnya selulosa mikrokristal untuk pemenuhan kebutuhan eksipien farmasi di dalam negeri,” paparnya.

Tanaman Obat Sebagai Antiinflamasi

Di sisi lain, keanekaragaman hayati juga bisa dimanfaatkan sebagai obat herbal. Hal ini tentunya menjadi potensi besar yang harus dimanfaatkan untuk menunjang sektor kesehatan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Guru Besar Fakultas Farmasi Unpad Prof. Dr. Sri Adi Sumiwi, M.S., Apt., menjelaskan, tanaman obat dapat dikembangkan menjadi sumber penemuan obat baru dilakukan dengan mengisolasi senyawa aktif yang menimbulkan aktivitas.

Dalam orasi ilmiah berjudul “Peta Jalan Penelitian Tanaman Obat sebagai Antiinflamasi” yang dibacakan Prof. Sri berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar dalam bidang Ilmu Farmakologi, ada dua jalur peta jalan dalam penelitian tanaman obat. Pertama, pencarian simplisia berdasarkan khasiatnya yang dapat mengatasi berbagai gangguan pada tubuh manusia.

“Penelitian ini biasanya dilatarbelakangi oleh penggunaan tanaman obat secara empiris yang turun temurun sebagai obat tradisional yang termasuk kategori jamu, baik jamu godog yang diminum air rebusannya, jamu yang diseduh, maupun jamu gendong,” kata Prof. Sri.

Sementara peta jalan kedua adalah penelusuran senyawa aktif untuk penemuan obat baru atau ditemukan senyawa obat dengan aktivitas baru. Dengan mempelajari sejarah penemuan obat, akan diketahui bahwa beberapa obat yang digunakan sampai sekarang, berasal dari tanaman.

Prof. Sri memaparkan, sebagai contoh, morfin yang diindikasikan sebagai analgesik kuat merupakan metabolit sekunder yang berasal dari getah buah candu (Papaver somniferum), digitoksin yang diindikasikan sebagai kardiotonik berasal dari daun digitalis (Digitalis lanata) yang mengandung glikosida jantung.

“Hal ini membuka peluang untuk melakukan penelitian dalam 5 rangka pencarian senyawa obat,” kata Prof. Sri.*