Resmi Diluncurkan, InJabar Unpad Ambil Bagian dalam Penanganan Dampak Coronavirus di Jawa Barat

Rilis

Direktur Institut Pembangunan Jawa Barat (InJabar) Prof. Dr. Keri Lestasi, M.Si., Apt., saat memaparkan mengenai potensi tanaman kina sebagai alternatif terapi obat untuk mengatasi Coronavirus dalam Rapat Koordinasi Pembahasan Dampak Ekonomi dan Penanganan COVID-19 di Jawa Barat yang digelar di Kantor Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat, Bandung, Kamis (19/3). (Foto: Arif Maulana)*

[unpad.ac.id, 22/3/2020] Universitas Padjadjaran meluncurkan Institut Pembangunan Jawa Barat (InJabar) bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. InJabar didirikan sebagai wujud konkret Tridarma Unpad dalam menyelesaikan berbagai isu pembangunan di Jawa Barat.

Peluncuran awal InJabar dilakukan saat Rapat Koordinasi Pembahasan Dampak Ekonomi dan Penanganan COVID-19 di Jawa Barat yang digelar di Kantor Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat, Bandung, Kamis (19/3).

Rapat tersebut dihadiri langsung Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil, Kepala Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Jawa Barat Herawanto, Rektor Unpad Prof. Dr. Rina Indiastuti, M.SIE., Ketua Dewan Profesor Unpad Prof. Dr. Sutyastie Soemitro, serta Direktur InJabar Unpad Prof. Dr. Keri Lestasi, M.Si., Apt.

Pendirian InJabar diprakarsai langsung oleh Rektor Unpad dan Ridwan Kamil. Dalam aktivitasnya, InJabar berkolaborasi langsung dengan Pemprov dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengembangkan kebijkana publik yang didasarkan atas rekomendasi akademik.

“InJabar memiliki sejumlah inovasi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di Jawa Barat. Mulai dari permasalahan lingkungan, sosial, hingga ekonomi,” ujar Prof. Keri.

Beragam inovasi yang antara lain solusi penanganan sungai Citarum, solusi inovasi pembiayaan pembangunan, solusi peningkatan kesejahteraan, rekayasa sosial, penguatan Bumdes, hingga solusi mengenai mitigasi kebencanaan di Jabar.

InJabar juga menjalin kerja sama dengan beberapa pemangku kepentingan. Sektor pemerintah daerah, Badan Pusat Statistik, BUMN, hingga kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi internasional, seperti Massachuset Institute of Technology, Redbound University, National University of Singapore.

Terkait permasalahan pandemi Coronavirus (COVID-19) yang melanda Indonesia, khususnya di Jabar, Prof. Keri mengatakan, pihaknya juga ikut ambil bagian dalam mengatasi masalah ini. Fokus sektor yang digarap adalah penelitian mengenai potensi tanaman kina Jawa Barat sebagai salah satu alternatif terapi obat untuk mengatasi Coronavirus.

Prof. Keri yang juga Guru Besar Fakultas Farmasi Prof. Dr. Keri Lestari, M.Si., Apt., bersama dosen Fakultas Kedokteran Unpad dr. Trully Sitorus, M.Si., Sp.FK., tengah mengkaji potensi tanaman kina sebagai alternatif penangkal Coronavirus.

Prof. Keri menjelaskan, kajian mengenai potensi kina berangkat dari riset awal yang sudah dilakukan China untuk menidentifikasi pola virus Corona. Dari riset awal tersebut, ditemukan bahwa Coronavirus masuk dalam virus RNA yang satu jenis dengan virus HIV dan Hepatitis C.

Peneliti kemudian memindai sejumlah obat yang selama ini digunakan untuk menangani virus HIV dan Hepatitis C. Salah satu obat yang direkomendasikan adalah Klorokuin Fosfat yang sudah lama beredar di Indonesia.

Meski demikian, Indonesia masih mengimpor Klorokuin Fosfat. Dikhawatirkan, adanya masa karantina wilayah di sejumlah negara akan berdampak pada berkurangnya impor obat ini. Karena itu, Prof. Keri bekerja sama dengan sejumlah pemangku kepentingan mencoba menganalisis kandungan dari Klorokuin Fosfat.

Hasil dari analisis tersebut ditemukan bahwa struktur Klorokuin Fosfat memiliki kesamaan dengan Quinine Sulfat. Zat ini terkandung dalam tanaman kina. Mengingat Indonesia memiliki tanaman kina, sehingga hal ini bisa menjadi potensi untuk dikembangkan sebagai obat.

Saat ini, Prof. Keri dan tim bersama dokter ahli farmakologi yang tergabung dalam Ikatan Ahli Farmakologi (IKAFI), Persatuan Dokter Spesialis Ahli Farmakologis Indonesia (PERDAFKI), UI, ITB, serta peneliti dari Wuhan Institut of Virology tengah melakukan riset terkait dosis dan cara pemakaian untuk pasien. Diharapkan temuan ini dapat bermanfaat bagi penanganan Coronavirus di Indonesia.(am)*