Peneliti Unpad Kembangkan Inovasi VTM yang Tahan Suhu Ruang

Laporan oleh Arif Maulana

VTM; VitPAD;

VitPAD-iceless Transport System. (Foto: Dadan Triawan)*

[unpad.ac.id, 25/6/2020] Sejumlah peneliti dari Universitas Padjadjaran menghasilkan inovasi alat Viral Transport Medium (VTM) untuk menyimpan sampel pemeriksaan swab Covid-19. Inovasi bernama “Viral Transport Medium Unpad (VitPAD)-Iceless Transport System” ini diklaim memiliki beberapa kelebihan dibanding alat VTM komersial lainnya.

Inovasi ini dikembangkan oleh para peneliti Unpad dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, antara lain Dr. Hesti Lina Wiraswati, Dr. Shabarni Ghaffar, Dr.rer.nat. Shavira Ekawardhani, Lia Faridah, dr., M.Si., dan Nisa Fauziah, dr., M.Kes.

Dr. Hesti menjelaskan, VitPad dikembangkan untuk menjawab beragam permasalahan yang terjadi pada proses pemeriksaan swab Covid-19. Selama ini, Indonesia masih mengandalkan produk VTM impor untuk menyimpan spesimen sampel swab Covid-19. Apalagi, di masa awal pemeriksaan swab sempat terjadi kelangkaan persediaan VTM.

“Pas awal Maret-April kita sempat mengalami penipisan persediaan VTM. Meski sekarang sudah tidak langka, tetapi Indonesia masih memiliki ketergantungan impor VTM sampai saat ini,” jelas Dr. Hesti dalam Webinar Covid-19 Series Fakultas Kedokteran Unpad melalui aplikasi Zoom, Kamis (25/6).

Kendala lainnya adalah keterbatasan akan transportasi sampel swab dari sejumlah daerah di Jawa Barat. Dr. Hesti menjelaskan, jika menggunakan VTM komersial yang berbasis medium memiliki sifat infeksius yang tinggi, sehingga membutuhkan sistem transportasi dengan pengamanan berlapis dan harus disimpan pada boks pendingin (coolbox).

Sampel swab sendiri harus dijaga pada suhu 2 – 8 derajat Celcius. Mengingat saat ini gencar dilakukan pemeriksaan swab massal, maka dibutuhkan banyak boks pendingin untuk menyimpan sampel swab.

Peneliti dari Divisi Parasitologi FK Unpad ini kemudian mengembangkan VTM spesifik yang bisa mengatasi permasalahan di lapangan. Alat VTM yang dihasilkan dapat memudahkan proses pengiriman sampel dari faskes ke laboratorium pengujian dengan tetap mengutamakan keamanan sampel.

Tahan Suhu Kamar

Alat VitPAD dikembangkan dengan sejumlah modifikasi. Dikembangkan di Laboratorium Rumah Sakit Pendidikan dan Lab Biokimia Unpad, VitPAD dibuat dari bahan standar mikrobiologi biasa. “Bahan ini relatif lebih mudah didapatkan sehingga kita mudah memproduksinya,” imbuhnya.

Ujii coba sudah dilakukan dengan memasukkan sampel ke dalam VitPAD. Hasilnya, sampel pada VitPAD bisa disimpan pada suhu kamar hingga 15 hari. Hal ini cukup membantu memudahkan proses transportasi sampel. Pasalnya, sampel pada VTM komersial biasanya harus dijaga pada suhu 2 – 8 derajat Celcius.

Dengan ketahanan yang lebih baik, VitPAD tentunya dapat digunakan untuk menaruh sampel tanpa menggunakan boks pendingin. Dengan demikian, alat ini bisa menjangkau sampel di lokasi yang jauh dari fasilitas pemeriksaan Covid-19.

Murah

Keunggulan lain dari VitPAD adalah mampu menekan harga jual daripada produk impor. Dr. Hesti menjelaskan, harga satu kit VTM komersial saat ini berkisar antara Rp 70 ribu – 120 ribu. Berdasarkan estimasi harga, harga satu kit VitPAD skala laboratorium berada di kisaran Rp 40 ribu.

“Kerja sama dengan industri diharapkan bisa lebih efisien dan harganya lebih murah,” ujar Dr. Hesti.

Saat ini, VitPAD sedang dalam tahap perizinan proses produksi. Untuk skala lab, pihaknya sudah memproduksi sebanyak 100  buah. Selanjutnya, dengan bantuan hibah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, VitPAD direncanakan akan produksi sebanyak 3.000 buah yang akan didistribusikan ke sejumlah fasilitas kesehatan di Jawa Barat.*