Unpad Perkuat Sistem Surveilans dan Respons Covid-19

Rilis: Kantor Komunikasi Publik

unpad

Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor. (Foto: Dadan Triawan)*

[unpad.ac.id, 27/6/2020] Rektor Universitas Padjadjaran, Prof. Rina Indiastuti mencanangkan sistem surveilans dan respons Covid-19 bagi dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa Unpad. Hal ini sejalan dengan upaya untuk menjamin kesehatan dan keselamatan warga Unpad.

Terkait hal itu, Unpad telah mengembangkan sistem e-learning Covid-19 untuk memastikan tingkat literasi warga Unpad. Sistem ini berupa pola edukasi daring tentang pengetahuan akan virus Corona, penyakit Covid-19, dan berbagai tindakan pencegahannya. Keberhasilan dalam mengikuti kursus daring ini dibuktikan dengan sertifikat dan menjadi prasyarat bagi warga Unpad yang akan bertugas kembali di kampus.

(baca juga: Masyarakat Bisa Manfaatkan Amari Covid-19 untuk Lakukan Pemeriksaan Dini dari Covid-19)

Selain itu, dikembangkan pula Aplikasi Mawas Diri (Amari) Campus 2.0 yang menjadi sistem surveilans dan monitoring Covid-19. Setiap kali akan masuk kampus, sehari sebelumnya setiap warga Unpad harus mengisi Amari Campus 2.0. Apabila ditemukan risiko tinggi berdasarkan hasil pengisian, maka ditindaklanjuti dengan tes PCR.

Rektor Unpad beserta tim Satgas Covid-19 Unpad telah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mendapatkan fasilitas pemeriksaan apabila diperlukan.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan juga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendapatkan alat tes yang mencukupi,” tutur Rektor.

Khusus untuk warga Unpad yang terlibat dalam kegiatan pelayanan kesehatan baik di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unpad di Kota Bandung, Klinik Unpad, Laboratorium BSL-3, maupun di RSHS sebagai RS Pendidikan Utama Unpad, telah dilakukan tes swab terarah (targetted swab).

Sampel pemeriksaan swab ini telah dilakukan ekstraksi untuk menentukan hasilnya. Dari sampel tenaga yang bertugas  di Lab BSL-3 Unpad, Jatinangor, telah disimpulkan bahwa semua yang bertugas dinyatakan negatif Covid-19.

Pemeriksaan juga dilakukan kepada tenaga yang bertugas RSGM Unpad, Kamis (25/6). Pemeriksaan dilakukan untuk persiapan pembukaan kembali pelayanan elektif spesialistik dan kamar operasi tanggal 1 Juli 2020,

Hasil tes swab menyatakan, terdapat delapan orang terdeteksi positif tanpa gejala (OTG).

Saat ini kedelapan OTG sedang menjalani isolasi mandiri.  Sebagian melakukan isolasi mandiri di tempat tinggal masing-masing, sebagian melaksanakan di RSHS dan kemungkinan akan pindah ke fasilitas Dinas Kesehatan Jawa Barat.

(baca juga: Jalani Pemeriksaan PCR, Petugas Lab Sentral Unpad Negatif Covid-19)

Analisis kasus positif menunjukkan, walaupun kedelapan OTG merupakan petugas di RSGM, lokasi kerja setiap petugas selama ini berbeda. Bahkan ada yang lebih banyak menghabiskan kegiatan di RSHS. Artinya, tidak terjadi kontak antar OTG tersebut yang mengarah ke sumber infeksi yang sama.

Berdasarkan hasil ini, tim Satgas Covid-19 Unpad bersama RSGM melakukan pelacakan kontak dan memantau kondisi sampai 14 hari ke depan. Selama masa isolasi mandiri, Unpad memberikan dukungan kepada keluarga kedelapan OTG tersebut.

Sementara itu, pihak RSGM dengan dibantu oleh tim Sarana Prasarana Unpad telah melakukan tindakan pencegahan dan sterilisasi dengan menggunakan disinfektan di lingkungan sekitar rumah sakit. Tindakan tersebut untuk memastikan fasilitas layanan kesehatan ini tetap aman bagi masyarakat.

(baca juga: Peneliti Unpad Kembangkan Dua Inovasi Alternatif Alat Tes Covid-19)

Selain targetted swab, tim Satgas Covid-19 Unpad juga telah melakukan pemeriksaan kesehatan berdasarkan hasil laporan dari aplikasi Amari Covid-19. Ketua Satgas Covid-19 Unpad, Dr. med. Setiawan, dr. AIFM, menyatakan sejauh ini baru ditemukan satu orang terverifikasi risiko tinggi dari sekitar 1900 data valid yang masuk melalui AMARI, dan dinyatakan negatif Covid-19 setelah dilakukan tes PCR.

“Hasil tersebut memperlihatkan sistem AMARI yang dikembangkan cukup efisien untuk kewaspadaan dan respons terhadap Covid-19,” ujar Setiawan.

Aplikasi ini juga digunakan untuk mendukung upaya contact tracing yang dilakukan terhadap pihak-pihak yang sempat melakukan hubungan langsung dengan kedelapan pegawai RSGM yang dinyatakan positif Covid-19.(ds/art)*