Berita Terbaru
Obat Propofol Dapat Selamatkan Pasien COT
Laporan oleh: Ratih Anbarini
[Unpad.ac.id, 15/09] Cedera Otak Traumatik (COT) merupakan penyebab utama kematian pada kelompok usia produktif di seluruh dunia. Dalam setahun, COT yang paling sering disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas dan olah raga ini menimpa 200 hingga 400 per 100.000 penduduk di dunia. Pasien pasca-COT umumnya mengalami penurunan kadar glutation sulfil hidril (GSH) dan peningkatan kadar malondialdehid (MDA) yang menyebabkan kematian. Penggunaan propofol sebagai seditavum terbukti dapat meningkatkan kedua kadar tersebut, sehingga dapat menyelamatkan pasien COT.
Demikian hasil penelitian kandidat Doktor Bambang Joewono Oetoro yang dipresentasikan dalam Sidang Terbuka Ujian Disertasi Program Doktor (S-3) Program Pascasarjana Unpad di Gedung Pascasarjana, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Selasa (15/09). Bambang menyampaikan disertasinya berjudul “Efek Antioksidan Propofol sebagai Sedativum terhadap Kadar GSH dan MDA Cairan Serebrospinal Beruk Model COT Sedang” itu di hadapan Ketua Sidang, Prof. Dr. Ir. Mahmud Arifin, M.S., tim promotor, dan tim oponen ahli.
Bambang mengungkapkan bahwa COT diawali oleh cedera primer yang apabila cukup berat atau luas menyebabkan iskemi otak yang memicu kaskade cedera sekunder. Pada tahap itu, jelas Bambang, terjadi produksi molekul-molekul radical oxygen species (ROS) yang berlebihan. Kelebihan produksi molekul ROS akan menimbulkan cekaman oksidatif. Penghambatan proses cekaman oksidatif dapat dilakukan dengan menetralkan molekul-molekul ROS yang terbentuk atau menghambat proses peroksidasi lipid yang terjadi.
“Berdasarkan pengujian hasil penelitian terbukti bahwa propofol sebagai sedativum dengan dosis kurang lebih 50 persen dosis anestesi dengan lama pemberian lebih dari 24 jam, memiliki efek neuroproteksi dengan cara menghambat cekaman oksidatif pasca-COT,” ujar Bambang.
Penelitian yang dilakukan pada beruk, lanjut Bambang, membuktikan bahwa propofol sebagai sedativum mampu meningkatkan kadar GSH dan menurunkan kadar MDA cairan serebrospinal beruk model COT sedang. Ia juga mengungkapkan bahwa penggunaan propofol ini dapat segera diterapkan pada manusia, mengingat keberhasilan penelitian obat ini pada beruk.
“Otak beruk memiliki banyak persamaan dengan otak manusia. Elastisitas tengkoraknya pun mirip dengan manusia. Struktur anatomi, struktur tubuh, jalan napas, pembuluh darah, saluran cerna, dan kemih sangat mirip dengan manusia. Selain itu, beruk yang hidup di dataran Asia Tenggara membuatnya sangat ideal digunakan sebagai satwa coba COT,” ungkap Tahir Neuroscience Center Rumah Sakit Mayapada, Tangerang ini. (eh)*


