Berita Terbaru
Seni Tradisi Meriahkan Jamuan Makan Malam Peserta AMEA
Laporan oleh: Anton Sumantri
[Unpad.ac.id, 6/10] Ekspresi kagum akan tarian tradisional Indonesia terlihat jelas di wajah para tamu mancanegara yang menjadi peserta konferensi Asian Medical Education Association (AMEA). Tak hanya itu, pun mereka tidak segan-segan mengekspresikan ketakjubannya dengan ikut menari bersama.
Suasana ini terekam jelas ketika Unpad melalui Fakultas Kedokteran (FK) menjamu mereka dalam jamuan makan malam di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Selasa malam (6/10). Acara yang merupakan bentuk apresiasi dan penerimaan Unpad terhadap para tamu undangan ini memang sengaja didesain dengan menampilkan beberapa tarian sebagai hiburan. Tidak hanya itu, sajian musik keroncong turut menemani para tamu. Jamuan makan malam tersebut juga dihadiri Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia, dan segenap sivitas akademika Unpad.
Tarian tradisional Indonesia yang dipertujukkan di hadapan tamu adalah Tari Merak, Jaipongan, Penca, Gatot Kaca, Topeng dan Rampak Kendang. Jika biasanya kesemua tarian itu disajikan satu persatu, namun ada yang berbeda dalam bentuk penyajian tarian tersebut semalam. Ketika telah selesai membawakan tarian, para penari tidak turun panggung namun berkolaborasi dengan tarian berikutnya, hingga tarian terakhir.
Keindahan gerak dan harmonisasi alunan nada dari alat musik tradisional Indonesia yang memang jarang mereka temui membuat para tamu tampak menikmati sajian tersebut. Mata mereka seakan enggan berpindah ke hal lain. Air muka yang memancarkan antusiasme sangat jelas tergambar di wajah mereka. Ketika semua tarian telah dibawakan, para penari kemudian mengajak para tamu untuk menari bersama atau ngibing. Tak ayal lagi, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh mereka. Dengan gaya dan gerak tari yang mereka bisa, para tamu undangan dari mancanegara itu larut dan membaur ngibing bersama para penari.
Prof. James Ware, salah satu undangan yang turut ngibing malam itu, tampak tampil spontan dan berusaha mengikuti gerakan penari. “Saya menikmati ketika menari bersama tadi. Saya hanya berusaha menirukan gerak tari dan memodifikasi dengan gerakan yang saya bisa, dan itulah hasilnya,” ungkapnya antusias.
Pria berkulit putih yang kini bermukim di Kuwait tersebut mengaku pernah melihat dan menghadiri acara-acara yang berbau tradisional selain di Indonesia. Namun menurutnya pertunjukkan tadi merupakan yang paling berkesan. “Kostumnya sangat bagus, gerakannya indah, dan suara yang keluar dari alat musik tradisional tadi saya suka. Untuk tari Merak, saya suka sekali. The peacock were so realistic! Mimiknya, geraknya, semuanya. Dia begitu nyata. Saya juga memperhatikan bagaimana sang penabuh memainkan kendang,” ujarnya.
Ia juga berharap agar produk-produk budaya tradisional seperti ini terus dipertontonkan sebagai salah satu cara melestarikan budaya negeri sendiri. “You have to preserved it! Saya tekankan sekali lagi, kalian (bangsa Indonesia) harus mempertahankannya. Dengan memainkan dan memperkenalkan budaya, anda turut melestarikannya. Dengan begitu tarian tradisional (Indonesia) akan terus hidup,” pungkasnya.
Selain pertunjukan tari tradisional, para undangan juga dihibur dengan alunan musik keroncong. Sembari menikmati makan malam, telinga para tamu disuguhi berbagai lagu baik yang berbahasa Indonesia maupun Inggris yang diringi musik keroncong. Beberapa di antaranya menunjukkan ekspresi tak percaya ketika mendengar lagu When You Tell Me That You Love Me dibawakan dengan musik keroncong.
Pada bagian ini, sejumlah hadirin turut menyumbangkan suaranya untuk menyanyi. Rektor Unpad pun tak luput diminta menyumbang suara. Ia bersama dengan salah satu sesepuh FK Unpad, Prof. (e) Koestedjo, membawakan lagu My Way. Hingga akhir acara, para tamu enggan beranjak dari tempat duduk mereka. (eh)*




