Berita Terbaru
- Segera Terbentuk, Forum Pembantu / Wakil Rektor Bidang Pengembangan dan Kerja Sama
- Surat Edaran Kebijakan Unggah Karya Ilmiah dan Jurnal
- Jalin Kerja Sama dengan Micromine, FTG Unpad Dapat Software Senilai Rp 2,275 Miliar
- Lowongan Pekerjaan Real Estate G4N Group
- Ikuti Pertukaran Mahasiswa ke Perancis, 5 Mahasiswa Unpad Dapat Pengalaman Menarik
Melihat Dunia di Unpad
Laporan oleh: Anton Sumantri
[Unpad.ac.id, 6/11] Guratan kagum terpancar jelas di hampir setiap wajah pengunjung Unpad International Day. Keindahan penampilan seni dan presentasi dari mahasiswa asing yang kuliah di Unpad seakan menjadi magnet hingga pengunjung tak ingin meninggalkan Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Bandung, Kamis (5/11) kemarin.
Unpad International Day merupakan kegiatan yang diselenggarakan untuk mengenal seni dan budaya negara-negara di dunia. Kegiatan ini sanggup menyedot banyak pengunjung baik dari sivitas akademika Unpad sendiri maupun masyarakat umum. Ungkapan ekspresi kegembiraan ini setidaknya tergambar dari pernyataan Iman Muhamad. Ia yang datang bersama temannya merasa senang dengan diadakannya acara ini.
“Acaranya bagus sekali. Saya harap acara ini dilakukan tidak hanya tahun ini, mungkin akan lebih bagus lagi kalau diadakan setiap tahun,” paparnya. Dalam Unpad International Day, pengunjung tidak hanya disajikan kesenian negara-negara partisipan namun juga mendapat kesempatan mencicipi makanan khas negara-negara pengisi acara.
Unpad International Day menampilkan stan-stan dari 15 negara termasuk Indonesia ditambah stan komunitas Hong dan Bagian Kerjasama Luar Negeri Unpad. Setiap stan berusaha memanjakan pengunjung dengan berbagai cara. Selain makanan khas, ada yang sengaja memberikan kesempatan bebas berfoto lengkap dengan kostum khas negara tersebut seperti Hongaria. Bahkan ada yang sengaja menjual cinderamata cantik seperti yang bisa ditemui di stan negara Kamboja.
Menurut mahasiswa asal Kamboja, Bun Li, ia bersama teman-temannya sengaja menyajikan 4 makanan khas negerinya, yaitu Sach Kor Ang yang mirip sate, Nyom Spey Kdob, dan dua makanan penutup yaitu, Sangkya Lpov dan Tao Suan. Ia sendiri mengenakan pakaian tradisional Kamboja. “Pakaian yang saya pakai bernama Av Sot. Pakaian ini dikenakan pada saat acara-acara atau upacara-upacara yang bernuansa gembira atau bersenang-senang,” ungkapnya.
Mahasiswa S2 Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik (FISIP) Unpad ini juga menceritakan beberapa olah raga tradisional negaranya. “Kami memiliki Kmher Boxing yang hampir mirip dengan Thai Boxing dari Thailand. Lalu ada olah raga lain yang juga hampir sama yaitu Labok Kator yang artinya bertarung melawan Singa,” ujar pria yang berasal dari negeri Angkor Wat ini. Ia menambahkan, mengapa olah raga terakhir disebut melawan Singa karena sang petinju mengenakan aksesoris yang mencirikan Singa. Olah raga ini juga memiliki beragam gaya atau gerakan seperti gerakan Singa atau binatang lainnya.
Selain Bun Li, mahasiswa asing lainnya pun mengenakan pakaian tradisional dari negerinya masing-masing. Pengetahuan pengunjung mengenai negara-negara tersebut semakin bertambah saat mereka memberikan presentasi di atas panggung. Tak hanya itu, berbagai macam tarian dan lagu yang menandakan ciri negara-negara tersebut pun dipentaskan. Tepuk tangan riuh membahana kala mahasiswa Madagaskar, Thailand, Indonesia dan negara-negara lain menyajikan tarian khas negerinya. Penampilan berbeda disuguhkan mahasiswa dari Jepang yang menampilkan pakaian negeri Sakura layaknya peragaan busana. Pengetahuan pengunjung menjadi bertambah mengenai pakaian Jepang. Tak hanya Kimono atau model Harajuku yang banyak diketahui, Yukata, Zin Bei, dan pakaian khas lainnya pun turut ditampilkan. Tak kalah dengan yang lainnya, mahasiswa dari Filipina dan Myanmar menyumbangkan suaranya.
Menurut ketua panitia, Muhammad Megantoro Brennaf, konsep Unpad International Day merupakan adopsi dari perhelatan serupa yang ia ikuti saat menjadi mahasiswa program pertukaran di Korea. Kala itu ia dan teman-teman lain dari Indonesia menampilkan gamelan dan kuliner khas Indonesia di negeri Ginseng tersebut pada acara serupa.
“Konsep International Day diadopsi dari acara serupa yang kami lihat ketika mengikuti pertukaran mahasiswa di Korea. Namun ada yang kami sesuaikan dengan kondisi yang ada di sini. Tujuannya untuk memperkenalkan kebudayaan di setiap negara yang mengikuti acara ini,” paparnya.
Acara ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa yang belajar di Unpad, namun ada juga yang dari universitas lain. Hal ini setidaknya diperlihatkan mahasiswa dari Myanmar yang mengundang teman-teman senegaranya yang sedang kuliah di Yogyakarta dan Surabaya untuk turut mengikuti acara ini. “Kami mencoba mengumpulkan mahasiswa asing yang kuliah di Unpad dan ternyata banyak. Kemudian mereka sendiri mengundang teman-temannya yang kuliah di universitas lain untuk bergabung. Alhamdulillah teman-teman mereka sangat antusias mengikuti acara ini,” sambungnya.
Unpad International Day diikuti oleh mahasiswa asing dari 14 negara tetangga. Mereka berasal dari Perancis, Jepang, Uganda, Madagaskar, Hongaria, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, Myanmar, Kamboja, Brasil, Filipina, Malaysia, Papua Nugini, dan Indonesia sebagai tuan rumah. Perhelatan ini seakan membuka mata pengunjung bahwa tidak sedikit mahasiswa asing yang menimba ilmu di Unpad. Hal ini mengindikasikan Unpad menjadi salah satu daya tarik pendidikan di Indonesia. Kondisi ini semakin mengukuhkan niat Unpad untuk menjadi universitas kelas dunia. (eh)*





