Berita Terbaru
Jumlah Dokter Gigi di Indonesia Jauh dari Ideal
Laporan oleh: Ratih Anbarini
[Unpad.ac.id, 6/11] Di Indonesia, jumlah rasio ideal antara dokter gigi dengan penduduknya adalah 1:9.000. Namun karena masih kurangnya tenaga dokter gigi di Indonesia, rasio itu membengkak hingga 1 berbanding 24.000. Jumlah rasio ideal ini sangat jauh dengan standar yang ditetapkan World Health Organization (WHO), yaitu 1:2.000. Kondisi memprihatinkan ini masih ditambah dengan belum meratanya persebaran dokter gigi, di mana 70 persennya masih terpusat di Pulau Jawa.
Demikian disampaikan Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Unpad, Prof. Dr. H. Eky S. Soeria Soemantri, drg., Sp.Ort.(K) kepada wartawan usai pembukaan acara Peringatan Tahun Emas FKG Unpad, Jumat (6/11) di Hotel Horison, Jln. Pelajar Pejuang 45 Bandung. Ia mengungkapkan bahwa belum meratanya persebaran dokter gigi di Indonesia disebabkan belum banyaknya perguruan tinggi yang membuka fakultas kedokteran gigi di luar pulau Jawa.
“Kalau kita perhatikan, dokter gigi memilih wilayah kerja yang tidak jauh dari tempatnya belajar. Lulusan Unpad rata-rata memilih bekerja di wilayah Jawa Barat atau Jakarta. Begitu juga dengan lulusan UGM yang lebih memilih bekerja di Yogyakarta atau di Jawa Tengah,” papar Prof. Eky.
Menurut Prof. Eky, tidak idealnya rasio antara dokter gigi dan penduduk tersebut menyebabkan kurangnya pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang diterima masyarakat. Hal inilah yang menjadi sebab masih memprihatinkannya kondisi kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia. “Apalagi biaya perawatan gigi dan mulut itu cukup mahal,” ujar Prof. Eky.
Menanggapi mahalnya biaya perawatan gigi dan mulut, Mantan Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Emmyr Faizal Moeis, drg., MARS. mengimbau pemerintah untuk mengurangi biaya-biaya lain agar biaya yang dibebankan kepada pasien tidak terlampau tinggi. “Sebaiknya pemerintah tidak mengenai pajak untuk aspek-aspek peralatan dan obat-obatan,” imbau Emmyr.
Staf pengajar pada FKG Unpad ini juga mengatakan bahwa untuk mengurangi rasio antara jumlah dokter gigi dengan penduduk, maka diperlukan penambahan kuota di perguruan tinggi, sehingga lulusan dokter gigi akan semakin banyak. “Kalau dengan rasio yang sangat jauh dari ideal saat ini, mungkin baru 40 tahun rasio ideal kita bisa tercapai,” tandas Emmyr.
Sementara itu, Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia saat membuka acara Peringatan Tahun Emas FKG Unpad itu mengajak kepada lulusan dokter gigi Unpad untuk tidak tergantung pada produk impor. Prof. Ganjar mengungkapkan bahwa Fakultas Farmasi Unpad saat ini sedang mengembangkan obat-obatan herbal. “Dengan melakukan kerja sama dengan fakultas lain, kita bisa memanfaatkan obat-obatan herbal sehingga tidak selalu tergantung pada produk impor,” ujar Prof. Ganjar.
Dalam acara tersebut diperkenalkan pula kampanye “Sikat Gigi Pagi + Malam” oleh PT Unilever Indonesia sebagai bentuk kepedulian terhadap kualitas kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia. Marketing Director PT Unilever Indonesia, Hernie Raharja menjelaskan bahwa hanya 7,3 persen masyarakat Indonesia yang menyikat gigi di saat tepat, yaitu pagi setelah makan dan malam sebelum tidur.
“Masih ada sekitar 90 persen masyarakat yang menyikat giginya saat mandi. Tak heran berdasarkan hasil riset Departemen Kesehatan tahun 2007, sebanyak 72,1 persen masyarakat Indonesia memiliki gigi berlubang,” ujar Hernie. Untuk itu, pihaknya mengampanyekan gerakan sikat gigi dua kali sehari saat pagi dan malam hari.
Peringatan Tahun Emas FKG Unpad ini diselenggarakan hingga Minggu (7/11) dengan mengetengahkan tema “50 Tahun Peran dan Sumbangsih FKG Unpad dalam Meningkatkan Profesionalisme Dokter Gigi Indonesia”. Rangkaian kegiatan yang digelar meliputi temu ilmiah, pameran foto FKG sejak berdiri hingga saat ini, pameran poster penelitian, dan malam reuni akbar. (eh)*



