Terorisme Lebih Berlandaskan Politik Daripada Agama

11 November 2009

Laporan oleh: Marlia

[Unpad.ac.id, 11/11] Tindakan kelompok agama yang sifatnya radikal dan dalam masyarakat disebut sebagai kegiatan terorisme sebenarnya lebih menjurus pada tindakan penegakkan negara bayangan yang mereka kehendaki daripada pertimbangan agama. Bahkan mungkin tidak sesuai dengan konsep jihad suci seperti yang sebetulnya dikehendaki oleh agama.

Prof. Madya Mostafa Kamal Mokhtar Azmi Aziz duduk paling kanan berbaju putih (Foto: Tedi Yusup)

Prof. Madya Mostafa Kamal Mokhtar Azmi Aziz duduk paling kanan berbaju putih (Foto: Tedi Yusup)

Pendapat tersebut dikemukan Prof. Madya Mostafa Kamal Mokhtar Azmi Aziz dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dalam salah satu sesi diskusi pada Simposium Kebudayaan Indonesia – Malaysia (SKIM) XI di Kampus Unpad, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Rabu (11/11). Menurut Prof. Mostafa, konsep Islam dalam berjihad sebagaimana yang sering disinggung oleh para pelaku bom, tidak sepenuhnya benar.

“Konsep jihad yang dianut oleh gerakan radikan Islam baik di Indonesia maupun di Malaysia, seperti Kumpulan Mujahidin Malaysia, Jamaah Islamiyah, Darul Islam dan sebagainya lebih mengarah pada politik dari pada agama,” jelasnya.

Setidaknya ada tiga ideologi yang mereka anut dalam konsep berjihad ini. Pertama, melakukan gerakan yang bertahan (defensive) dan melawan (offensive). Kedua, dengan sikap berani mati, mereka tidak takut mengorbankan nyawanya sendiri. Ketiga, menurut kelompok tersebut, masyarakat sendiri terbagi menjadi dua, kawan atau lawan.

Dalam makalahnya yang berjudul Konsep Jihad di KalanganKumpulan Gerakan Agama Radikal Malaysia-Indonesia: Satu Penelitian Kritikal, Prof. Mostafa berpendapat bahwa tindakan kelompok agama yang sifatnya radikal tersebut lebih menjurus pada tindakan penegakkan Negara Bayangan mereka dan mungkin tidak sesuai dengan konsep jihad suci seperti yang sebetulnya dikehendaki oleh agama.

Saat mengomentari kasus-kasus bom di Indonesia yang pelakunya adalah warga negara Malaysia, Prof. Mostafa mengatakan bahwa sebetulnya para pelaku dan kelompok islam radikan tersebut tidak membeda-bedakan negara satu dengan yang lain. Bagi mereka, saat ini belum ada negara Islam sesuai dengan yang mereka inginkan.

“Oleh karena itu, mereka tidak mempermasalahkan harus di negara mana mereka akan melakukan tindakan seperti itu. Karena bagi mereka, negara-negara itu, sama saja., “ jelasnya. (eh)*