Berita Terbaru
- Segera Terbentuk, Forum Pembantu / Wakil Rektor Bidang Pengembangan dan Kerja Sama
- Surat Edaran Kebijakan Unggah Karya Ilmiah dan Jurnal
- Jalin Kerja Sama dengan Micromine, FTG Unpad Dapat Software Senilai Rp 2,275 Miliar
- Lowongan Pekerjaan Real Estate G4N Group
- Ikuti Pertukaran Mahasiswa ke Perancis, 5 Mahasiswa Unpad Dapat Pengalaman Menarik
Penggunaan Bahasa Melayu oleh Masyarakat Malaysia Semakin Kecil
Laporan oleh: Ratih Anbarini
[Unpad.ac.id, 11/11] Penggunaan bahasa Melayu oleh masyarakat asli Malaysia dianggap semakin tergerus oleh penggunaan bahasa Inggris yang merupakan alat komunikasi kedua di Malaysia. Pengajaran di sekolah menengah yang lebih menekankan penggunaan tata bahasa tidak relevan dengan apa yang akan ditemuinya di lapangan. Pihak sekolah tidak boleh mengabaikan kecakapan pragmatis yang dianggap mampu memberikan penghayatan bagi pelajar Malaysia dalam berbahasa Melayu.
Demikian hasil penelitian yang disampaikan Prof. Dr. Nor Hashimah Jalaluddin dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dalam Simposium Kebudayaan Indonesia – Malaysia (SKIM) di Ruang Parang Baronga, Gedung Kuliah Pascasarjana Lantai 2, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Rabu (11/11). Makalahnya berjudul “Penguasaan Bahasa Melayu Pelajar Bumiputera Sabah dari Segi Aspek Tatabahasa: Suatu Analisis Linguistik” memaparkan seputar tingkat kemampuan pelajar Malaysia terhadap bahasa Melayu.
Prof. Nor memaparkan bahwa tingkat berbahasa Melayu pelajar Malaysia untuk kategori membina ayat masih tidak bermasalah. Meski demikian, untuk kategori analisis kesalahan tata bahasa, ditemukan sebagian pelajar yang masih belum memahami tata bahasa Melayu. Hal yang sama juga terjadi pada penggunaan peribahasa oleh pelajar Malaysia. Dari hasil penelitian disebutkan bahwa 61 persen pelajar Malaysia tidak menguasai peribahasa.
Penelitian ini diperkuat dengan makalah berjudul “Impak Bahasa Inggeris terhadap Identiti Siswazah Melayu di Malaysia” yang disampaikan Azizah Ya’acob dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Dalam penelitian itu disebutkan bahwa penggunaan bahasa Inggris di kalangan mahasiswa Malaysia dianggap mampu mengubah status sosial seseorang.
“Orang yang berbicara menggunakan bahasa Inggris dianggap memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Dengan demikian, mereka yang menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi akan dianggap memiliki status sosial yang tinggi pula,” jelas Azizah.
Dalam penelitiannya juga disebutkan bahwa beberapa partisipan mengaku mendapat perlakukan yang berbeda saat menggunakan bahasa Melayu ketimbang bahasa Inggris. “Ketika mereka menggunakan bahasa Melayu di cafe atau restoran, mereka tidak mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari pelayan cafe. Sementara, ketika mereka menggunakan bahasa Inggris, pelayan cafe akan memberikan pelayanan yang lebih ‘mesra’ kepada mereka,” tutur Azizah.
Ia juga mengungkapkan bahwa masyarakat Malaysia telah menganggap bahwa bahasa Inggris merupakan alat komunikasi yang penting untuk dapat bersaing di arena global. “Penggunaan bahasa Inggris dianggap memberikan nilai tambah bagi masyarakat Malaysia dibanding masyarakat lain yang tidak mampu menggunakan bahasa internasional tersebut,” ujar Azizah. (eh)*



