Parpol Belum Beri Kesempatan Pada Kader Muda
Laporan oleh: Ratih Anbarini
[Unpad.ac.id, 12/11] Dalam demokrasi, partai politik dianggap sebagai alat yang tepat untuk memunculkan pemimpin yang menjadi teladan bagi masyarakat sehingga mampu mewujudkan kesejahteraan rakyat. Sayangnya, hingga saat ini belum muncul nama-nama baru yang bisa menggeser dominasi elite lama dalam benak masyarakat. Peran partai politik yang kurang mendominasi kaderisasi pemimpin tampak menjadi salah satu penyebab mandeknya kepemimpinan nasional.
“Lingkungan partai politik sebagai tempat ideal untuk kaderisasi pemimpin tidak banyak memberikan kesempatan bagi kader muda untuk menggantikan elite mapan. Selain itu juga hampir semua partai politik mengalami krisis perpecahan pada saat menyelesaikan tuntutan alih generasi kepemimpinannya,” papar Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpad, Prof. Dr. H. Asep Kartiwa, S.H., M.S.Uraian itu ia ungkapkan saat menjadi penyaji dalam pelaksanaan Simposium Kebudayaan Indonesia – Malaysia (SKIM) XI yang berlangsung Kamis (12/11) di Grha Sanusi Hardjadinata. Dalam makalahnya berjudul “ Demokrasi Politik, Kepemimpinan Nasional, dan Kesejahteraan Rakyat”, Prof. Asep mengungkapkan bahwa partai politik cenderung menjadi komoditas bagi kepentingan pribadi elite penguasanya.
“Buktinya terjadi degradasi kepemimpinan nasional yang ditandai dengan maraknya saling hujat, saling fitnah, provokasi, saling jegal, dan tidak peka terhadap apresiasi masyarakat,” ujar Ketua Pelaksana SKIM XI ini.
Akibatnya, jelas Prof. Asep, kepemimpinan nasional mengalami penurunan kualitas. Hal ini terlihat dari berbagai kasus penyimpangan yang dilakukan oleh pejabat publik telah merata di seluruh lembaga negara, baik legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. “Itu membuktikan bahwa penurunan kualitas kepemimpinan nasional telah terjadi,” tandasnya.
Lebih lanjut, Prof. Asep menjelaskan bahwa masyarakat membutuhkan tipe kepemimpinan baru, yaitu kepemimpinan dari lapisan generasi muda. Prof. Asep menyebutkan tiga karakter pemimpin yang diharapkan masyarakat, yaitu perencana, pelayan, dan pembina. “Untuk menumbuhkan tipe kepemimpinan nasional baru, dibutuhkan proses belajar yang berkelanjutan dalam berbagai dimensi, kata Prof. Asep.
Selain Prof. Asep tampil pula tiga penyaji dari Univerisiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Salah satunya Prof. Dr. Zaharani Ahmad yang mempresentasikan makalahnya berjudul “Pembanguan Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia untuk Perdamaian dan Kesejahteraan Bersama”.Tampil pula Prof. Dr. Amriah Buang yang memaparkan seputar penelitiannya mengenai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Satu penyaji lainnya, yaitu Prof. Dr. Wan Mohammad Noor Wan Daud mengungkapkan dalam presentasinya bahwa kesejahteraan tidak hanya diukur dari segi ekonomi, tetapi dari berbagai bidang kehidupan lainnya.
Pelaksanaan SKIM XI yang digelar selama tiga hari tersebut ditutup oleh Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia. Dalam kata-kata penutupnya, Rektor berharap pelaksanaan SKIM XII yang akan digelar di Kuala Lumpur, Malaysia pada 2010 mendatang dapat membahas topik-topik yang lebih khusus. “Kita harapkan pula bahwa kegiatan ini bisa ditindaklanjuti secara ilmiah melalui program joint research,” ungkap Prof. Ganjar. (eh)*
Sebelumnya
- Lima Mahasiswa Unpad Terima Beasiswa dari Korea Exchange Bank - 12 November 2009
- Penggunaan Bahasa Melayu oleh Masyarakat Malaysia Semakin Kecil - 11 November 2009
- Terorisme Lebih Berlandaskan Politik Daripada Agama - 11 November 2009
- Dosen Perlu Wajibkan Tugas Akses E-Journal pada Mahasiswa - 11 November 2009
- Jejaring Kemitraan Universitas untuk Kemaslahatan Bersama - 11 November 2009
Sesudahnya
- Optimalkan Masa Kuliah Demi Masa Depan - 10 Maret 2010
- Social Day ESP Unpad Targetkan 100 Labu Darah - 10 Maret 2010
- Tenaga Akuntansi, Kategori Baru di Pemilihan Akademi Berprestasi - 10 Maret 2010
- Indonesia Perlu Lebih Banyak Pelaku Wirausaha - 09 Maret 2010
- Pemimpin Bukan Soal Kekuasaan Belaka - 09 Maret 2010






