Berita Terbaru
Faisal Basri, “Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih Terseok”
Laporan oleh: Ratih Anbarini
[Unpad.ac.id, 18/11] Perjalanan selama sepuluh tahun pascakrisis, pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih terseok-seok. Hal tersebut dibuktikan dengan kualitas pertumbuhan ekonomi yang memburuk, investasi sektor riil yang menurun, dan daya saing yang terus merosot. Kondisi tersebut menyebabkan kesejahteraan masyarakat Indonesia masih jauh dari harapan.
Demikian diungkapkan ekonom Faisal Basri dalam Bedah Buku “Lanskap Ekonomi Indonesia: Kajian dan Renungan Terhadap Masalah-Masalah Struktural, Transformasi Baru dan Prospek Perekonomian Indonesia”, Rabu (18/11) di Bale Rumawat Padjadjaran, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung. Gelaran tersebut dihadiri Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi Unpad, Dr. H. Sulaeman Rachman Midar, SE., dan puluhan mahasiswa ekonomi.
Ia mengungkapkan bahwa kondisi Indonesia yang terdiri atas banyak pulau menyebabkan tidak ada satu pun negara yang dapat dicontoh dalam penerapan ekonominya. “Indonesia dengan 17.000 pulau yang terpisah-pisah membuat kita harus menciptakan suatu tatanan ekonomi yang mampu mengintegerasikan seluruhnya,” ujar Faisal seraya mengajak mahasiswa yang hadir untuk mengkritisi kebijakan ekonomi pemerintah saat ini.
Dosen Universitas Indonesia ini menilai bahwa selama satu dekade pascakrisis, ketahanan ekonomi nasional masih sangat rapuh dan mayoritas penduduk belum sejahtera. “Ini diperlihatkan dari tingkat pengangguran yang masih tinggi, kemiskinan yang masih memprihatinkan, dan ketimpangan antara si kaya dan si miskin yang cenderung memburuk,” jelas Faisal.
Ia membandingkan kondisi sektor industri manufaktur non-migas sebelum krisis yang mencapai 12 persen atau dua kali lipat Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Namun, saat krisis menghantam, Indonesia hingga saat ini masih belum sanggup pulih, bahkan cenderung terus merosot. “Saat ini sektor industri manufaktur non-migas kita hanya sekitar 1,5 persen. Sementara PDB kita 4,6 persen. Sejak krisis sektor ini terus berada di bawah PDB dan akan terus begitu, jika pemerintah tidak membuat terobosan,” ungkap Faisal.
Bahkan, menurut Faisal, di sektor yang mampu menyerap banyak tenaga kerja formal itu, terancam terjadi deindustrialisasi dini, yaitu melempem sebelum mencapai titik optimal yang pada batas normal ada di ambang 28 hingga 30 persen. “Nyatanya, kita sudah mulai turun pada level 20 persen. Itu artinya kita belum sempat mencapai titik optimal,” lanjut Faisal.
Untuk menjawab permasalahan itu, melalui buku setebal 622 halaman tersebut, ia menawarkan empat prioritas perubahan yang perlu segera dilakukan pemerintah. Keempat hal tersebut adalah pembangunan sumber daya manusia, harmonisasi sektor tradables dan non-tradables demi menciptakan pertumbuhan ekonomi yang sehat dan seimbang, pembenahan infrastruktur, dan optimalisasi sumber dana.
Menurutnya, potensi Indonesia melalui pajak masih sangat besar, apabila masyarakat sadar terhadap pentingnya pajak untuk pembangunan Indonesia. “Pajak kita hanya 12 persen dari PDB. Ini sangat jauh dengan Swedia yang pajaknya mencapai 51,3 persen dari PDB,” ujar Faisal. (eh)*



