Perubahan Iklim Mengubah Pola Bertani
Laporan oleh: Marlia
[Unpad.ac.id, 25/11] Isu perubahan iklim menjadi salah satu isu hangat di dunia. Perubahan iklim berdampak besar pada berbagai bidang, tak terkecuali pertanian yang sangat mengandalkan faktor cuaca dan iklim untuk kelangsungan hidupnya. Dalam menghadapi perubahan iklim tersebut, dibutuhkan aksi bersama dari seluruh elemen masyarakat di dunia.

Prof. Randy Stringer saat memaparkan materinya disaksikan pula oleh pembicara lain, Rizaldi Boer Ph.D, dan moderator Ir. Chay Asdak, M.Sc., Ph.D. (Foto: Tedi Yusup)
“Dalam menghadapi perubahan iklim ini, kebijakan pemerintah dan pola konsumsi masyarakat pun menjadi salah satu fokus pembahasan. Kedua hal tersebut menunjukkan kepedulian kita terhadap dampak yang ditimbulkan dari perubahan iklim yang terjadi saat ini,” jelas Prof. Randy Stringer dari Adelaide University saat menjadi pembicara pada acara konferensi internasional yang berjudul “Agriculture At The Crossroad” di Bale Rumawat Padjadjaran, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Rabu (25/11).
Konferensi yang dihadiri oleh para peneliti dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi ini, dibuka oleh Pembantu Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Husein Hernadi Bahti. Konferensi tersebut menghadirkan berbagai pembicara dari dalam maupun luar negeri. Pada sesi pertama yang mengangkat tema “Climate Change and Its impact on Agriculture” ini, Prof. Randy menjadi pembicara bersama Rizaldi Boer Ph.D dari Institut Pertanian Bogor dengan moderator Ir. Chay Asdak, M.Sc., Ph.D.
Menurut Prof. Randy, perubahan iklim yang cukup drastis tersebut memang sangat berdampak bagi pertanian di seluruh dunia. Perubahan iklim akan mempengaruhi pola bertani. Untuk itu diharapkan para peneliti berkerja sama dengan para petani untuk merubah waktu dan sistem bertani disesuaikan dengan variabilitas iklim.
Tidak hanya itu, pemerintah juga diharapkan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mendukung antisipasi perubahan iklim tersebut, misalnya terkait dengan pengurangan emisi gas rumah kaca, dan lain sebagainya. “Perlu juga dipertimbangkankebijakan-kebijakan bidang perekonomian seperti pajak karbon, sistem perdagangan dan peraturan terkait inisiatif menaikkan biaya intensif karbon input, karena ini dapat mempengaruhi biaya transportasi, biaya kemasan, harga pupuk dan biaya irigasi dan lain-lain,” tutur Prof. Randy.
Ia juga mencontohkan salah satu kebijakan yang dilakukan di beberapa negara seperti Amerika Serikat dalam penjualan berbagai barang dan jasa terkait dengan isu perubahan iklim ini. Disana, mereka menunjukkan kepeduliannya melalui “Carbon Labeling”. Carbon Labeling melibatkan produsen barang dan jasa untuk menghitung dan member label karbon (juga dikenal sebagai gas rumah kaca) emisi dari pembuatan, penggunaan dan pembuangan produk mereka.
Bagi Indonesia sendiri, perubahan iklim ini telah memberi dampak yang sangat besar bagi pertanian di Indonesia. Menurut Rizaldi Boer Ph.D, setelah badai El Nino yang menghantam Indonesia, kekeringan di Indonesia dirasakan lebih lama. Di sisi lain, di sebagian daerah memiliki curah hujan yang sangat tinggi hingga menimbulkan banjir yang terjadi justru lebih parah dibadingkan tahun-tahun sebelumnya. “Hal ini merupakan salah satu fenomena perubahan iklim yang terjadi di Indonesia dan dunia pada umumnya,” tutur Rizaldi.
Ia menambahkan bahwa efek langsung dari perubahan iklim ini antara lain adalah menurunkan produktivitas tanaman karena temperatur tinggi, meningkatnya variabilitas curah hujan dan salinitas air. Sebaliknya, ini pun berdampak pada peningkatan kerugian produksi tanaman akibat peningkatan frekuensi dan intensitas kejadian-kejadian iklim yang ekstrim.
Rizaldi juga menjelaskan bahwa untuk jangka pendek, kita harus meningkatkan kapasitas untuk mengatasi risiko iklim saat ini. sedangkan untuk jangka panjang, kita harus meningkatkan ketahanan terhadap risiko iklim di masa mendatang melalui revitalisasi kebijakan jangka panjang dan perencanaan dengan mempertimbangkan perubahan iklim.
“Jangan sampai kita lengah. Dengan perubahan iklim saat ini, banyak petani yang beralih mata pencahariannya. Seperti di Indramayu, sawah mereka sudah berganti menjadi kolam. Semakin berkurangnya lahan pertanian seperti ini, akan mempengaruhi konsumsi masyarakat,” jelasnya. (eh)*
Sebelumnya
- Bob Howart Terkesan dengan Kebebasan Pers di Indonesia - 25 November 2009
- P3AI Unpad Kembali Gelar Pelatihan Pekerti dan Pendekatan Terapan - 24 November 2009
- Siti Widharetno Mursalin, Wisudawan dengan IPK Tertinggi - 24 November 2009
- PSM Unpad Juara I Lomba Paduan Suara Mahasiswa Tingkat Nasional 2009 - 23 November 2009
- Unpad Turut Ambil Bagian dalam Peringatan HKN 2009 Kota Bandung - 23 November 2009
Sesudahnya
- Peluang Lanjutkan Studi dan Bekerja di Jepang Terbuka Lebar bagi Perawat Indonesia - 19 Maret 2010
- Potensi Karya Ilmiah Unpad Masuk 5 Besar Nasional - 19 Maret 2010
- Hadapi ACFTA, Pemerintah Fokus Tingkatkan Daya Saing - 18 Maret 2010
- Hak TKI Perempuan Belum Terlindungi - 17 Maret 2010
- Unpad Terima Sumbangan Ambulans dan Mobil - 17 Maret 2010




