Field Trip FTG, Belajar Awal Kehidupan dari Bebatuan

26 November 2009

Laporan: Weny Widyowati

Dua belas mobil Landrover telah rapi berjajar di Lapang Parkir Utara kampus Iwa Koesoemasoemantri, Unpad, pada pukul 06.00 WIB, hari Minggu (22/11). Mobil tersebut disediakan untuk mengangkut sekira 50 orang peserta “Field Trip dan Lomba Foto Cekungan Bandung”, yang diselenggarakan sebagai bagian rangkaian 50 Tahun Geologi, Fakultas Teknik Geologi (FTG) Unpad.

Bob Howart berbincang dengan Budi Brahmantyo dari KRCB tentang kondisi Cekungan Bandung (Foto: Weny Widowati)

Bob Howart berbincang dengan Budi Brahmantyo dari KRCB tentang kondisi Cekungan Bandung (Foto: Weny Widowati)

Peserta yang pada umumnya berbekal kamera dan lengkap mengenakan baju lapangan itu, tidak hanya terdiri dari jajaran pimpinan dan dosen serta mahasiswa geologi, tetapi juga para alumni yang datang dari berbagai kota bahkan dari luar negeri, beberapa wartawan foto dari harian Kompas, Republika, Radar Bandung, menyusul ke lokasi dari Pikiran Rakyat dan Tribun Jabar, yang didampingi Humas Unpad,  serta Bob Howarth, jurnalis dari Australian Business Volunteer, yang sedang menjadi dosen tamu Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom). Rombongan field trip ini dipimpin oleh Budi Brahmantyo dan T. Bachtiar, aktivis dari Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB).

Field Trip dan Lomba Foto ini dilaksanakan karena kepedulian FTG Unpad pada kelestarian lingkungan, khususnya di wilayah cekungan Bandung. “Cekungan Bandung, khususnya wilayah seputar Karst Citatah dan Gua Pawon, Cipatat, Padalarang, dipilih menjadi tujuan field trip kali ini mengingat telah banyak kerusakan yang terjadi akibat ulah manusia. Hal tersebut menimbulkan kerusakan alam yang besar dan bisa jadi akan kehilangan situs geologi serta situs budaya yang berharga di sana kalau tidak dijaga,” ujar Yuyun Yuniardi, Ir., M.T., Ketua Panitia 50 Tahun Geologi, yang juga Pembantu Dekan II FTG Unpad.

Cekungan Bandung, jelas Budi Brahmantyo, meliputi kawasan Karst Citatah, Saguling, aliran Ci Meta dan Ci Taruna, Sesar Lembang, dan Gunung Tangkubanparahu. Budi dan rekannya, T. Bachtiar,  menentukan stop-site mana yang memungkinkan bisa untuk menikmati pemandangan sekaligus pengambilan foto.

Karst Citatah, sebagai stop-site pertama, merupakan bentukan bukit gamping yang luar biasa. Di antara keindahan bebatuan yang menggambarkan awal kehidupan jutaan tahun yang lalu itu, terpapar juga pemandangan menyedihkan karena kerusakan lingkungan yang memprihatinkan. Bob Howarth, sang jurnalis dari Australia, tercengang melihat kerusakan bukit-bukit gamping itu demi penggalian batu kapur yang tidak terkendali.

“Mengapa ini dibiarkan rusak, padahal wilayah ini bisa menjadi tempat wisata yang menarik bagi banyak orang, dan itu adalah income bagi warga sekitar!” seru Bob keheranan.

Selain Karst Citatah, rombongan juga menempuh perjalanan dengan jalan kaki ke lengkungan alami (natural arch) Gunung Hawu, yang disebut-sebut juga sebagai salah satu pusaka alam Karst Citatah.  Keindahan dan kelangkaan lengkungan gamping, dengan lebar sekira 30 meter dan tinggi 70 meter tersebut, bisa disamakan dengan lengkungan Natural Bridge Virginia dan Arches National Monument di Utah, Amerika Serikat. Gua Gunung Hawu menjadi landmark penting bagi Kabupaten Bandung, bahkan untuk Kota Bandung sendiri, karena menjadi gerbang dan tanda menuju kota dari arah barat. Rombongan sempat pula melewati Dinding 125, yang merupakan kawasan favorit para pemanjat tebing.

Masih di wilayah yang sama, pemandangan indah yang sangat alami tampak berlawanan dengan keberadaan mesin-mesin berat penggaruk bukit-bukit gamping, dan asap-asap tebal pembakaran kapur yang memprihatinkan yang semakin menghitamkan panorama bukit Gunung Masigit. Di lokasi ini, walaupun gerimis mulai turun, peserta lomba foto banyak mengabadikan gambar.

Stop-site lainnya adalah situs cagar budaya Gua Pawon, di Desa Gunung Masigit, yang sangat menarik untuk diteliti. Gua yang di beberapa sudutnya mengeluarkan aroma kotoran kelelawar ini merupakan gua pertama di Jawa Barat yang diketahui mengandung peninggalan arkeologis manusia prasejarah. Kemungkinan besar fosil yang terkubur di sekitar Gua Pawon banyak yang belum terungkap. Dari “jendela-jendela” di Gua Pawon, tampak pemandangan indah khas persawahan.

Stop-site terakhir field trip kali ini dinamakan Stone Garden, taman bebatuan gamping, yang terletak di Bukit Pawon. Setelah menaiki jalan setapak menuju ketinggian 733 meter, di puncak bukitnya tampak batu-batu dalam berbagai ukuran dan bentuk, berserak namun seperti tertata alamiah, diselingi beberapa jenis tanaman yang tumbuh liar maupun palawija yang ditanam penduduk sekitar. Selain bebatuan unik yang berada di pijakan kaki, panorama alam yang tampak di sekitar Stone Garden sangat mempesona. Persawahan, jalur kereta api Bandung-Padalarang, jalan tol Cipularang, dan perbukitan yang mengelilingi kawasan karst, membuat para peserta terkagum-kagum.

Selain belajar, dari field trip ini diharapkan para peserta semakin menyadari pentingnya kelestarian lingkungan khususnya di kawasan Karst Citatah dan sekitarnya, yang berpotensi menjadi tempat wisata dan juga kawasan pendidikan geologi. Melalui kepekaan mengabadikan berbagai momen berharga sepanjang field trip, dalam lomba foto yang mengangkat tema “Awal Kehidupan” dan “Kelestarian Lingkungan” tersebut, diharapkan hasilnya semakin menggugah berbagai pihak untuk lebih peduli pada kawasan Cekungan Bandung. (eh)*