Berita Terbaru
Prof. Dr. Ir. H.R. Febri Hirnawan dan Prof. Dr. Husein H. Bahti Dikukuhkan
Suasana Grha Sanusi Hardjadinata nampak khidmat pada Jum’at (17/10). Pasalnya di sana sedang digelar Pengukuhan Jabatan Guru Besar. Mereka yang dikukuhkan ialah Prof. Febri Hirnawan (Fakultas Teknik Geologi) dan Prof. Husein Harnadi Bahti (Fakultas MIPA).
Dalam orasinya, Prof. Febri Hirnawan mengangkat tema “Sumber Daya Geologi Basis Pembangunan Berkelanjutan”. Menurutnya, tumpang tindih AMDAL dari berbagai proyek yang tidak saling berkoordinasi sedikit banyak menyebabkan kerusakan lingkungan. Ini memperlihatkan pembangunan yang tidak didasari grand design nasional, sehingga pemanfaatan satu potensi akan mematikan potensi lainnya.
Grand design dimaknai sebagai perwujudan visi-futuristik berbasis paradigma tangguh teruji. Grand design juga merupakan harmonisasi pembangunan infrastruktur dan lingkungan demi melayani kesejahteraan lahir-batin masyarakat.
Ia melanjutkan, kerusakan lingkungan juga berarti kerusakan sumber daya geologi (SDG). SDG meliputi sumber daya mineral, energi, air tanah, dan kewilayahan. Setiap jengkal wilayah di kerak bumi memiliki karakteristik, potensi dan kendala masing-masing. Di samping itu kondisi gerak-gerak tektonik tiap wilayah berda-beda, ada yang aktif dan tidak. Contohnya daerah aliran sungai (DAS) Cijolang dan DAS Citanduy di Jabar. Area ini selain menyimpan potensi bahan galian dan kewilayahan yang tinggi, namun menyimpan ancaman bencana longsor dan gempa yang tinggi pula. Wilayah ini aktif ditandai pergerakan secara lateral dan vertikal. Morfometri DAS-DAS pada endapan volkanik Kuarter secara signifikan berkembang dikontrol oleh pola deformasi (lipatan, retakan dan patahan) sebagai bukti pergerakan tektonik aktif.
Hasil penelitiannya dengan metode pendekatan baru ini telah memverifikasi tingkat perkembangan morfometri DAS-DAS yang dikontrol oleh deformasi. Hasil riset ini telah mengkonfirmasi, mengukur dan memverifikasi hipotesis betapa gerak-gerak tektonik di pulau Jawa demikian aktif. Hal ini menyebabkan endapan Kuarter telah terdeformasi samapi tingkat kerapatan retakan yang menyamai gejala serupa pada sedimen Tersier tidak selaras di bawahnya.
Judul orasi yang kedua adalah “Kromatografi sebagai Metode Pemisahan dan Metode Analisis: Sekilas Tentang Pengembangan serta Ruang Lingkup Penggunaannnya. Guru besar Prof. Husein H. Bahti mengangkat isu Kromatologi, yaitu metode pemisahan yang paling berdaya guna (powerful) dalam memisahkan berbagai campuran kimia. Kromatografi juga merupakan metode analisis kuantitaif yang sangat akurat.
Ia menjelaskan, dalam kromatografi, pemisahan dimungkinkan karena terjadinya perbedaan perpindahan (differential migration) antara komponen-komponen penyusun, pada saat campuran bergerak (fasa gerak/mobile phase) melaui medium kromatografi, tapi di saat yang sama mengalami hambatan (retention) secara selektif oleh fasa diam (stationary phase). Dengan demikian secara umum, sistem kromatografi tersusun dari fase diam dan fase gerak, yang satu sama lain berada dalam kesetimbangan.
Metode Kromatografi berbeda-beda sesuai dengan fase gerak dan diamnya, mekanisme pemisahannya, tekniknya, jenis dan ukuran butiran medium kromatografinya dan peralatannya. Kuantitas bahan dan tujuan kromatografi juga menyebabkan perbedaan metode ini.
Ia mengatakan, riset yang dilakukannya bertujuan mengembangkan metode kromatografi, baik untuk analisi maupun pemisahan, pemurnian, isolasi atau produksi senyawa-senyawa kimia bernilai ekonomis tinggi, pada skala preparatif menuju skala produksi atau proses. Dengan kata lain, riset yang dilakukannya merupakan pengembangan melalui modifikasi dalam berbagai segi.
Ia mengakui saat ini, riset terapan sangat mungkin mendapatkan dana bantuan daripada riset dasar. Namun menurutnya, riset dasar tidak kalah penting, karena akan menjadi landasan bagi riset-riset selanjutnya ataupun riset terapan. (antz & www)




