Berita Terbaru
- Segera Terbentuk, Forum Pembantu / Wakil Rektor Bidang Pengembangan dan Kerja Sama
- Surat Edaran Kebijakan Unggah Karya Ilmiah dan Jurnal
- Jalin Kerja Sama dengan Micromine, FTG Unpad Dapat Software Senilai Rp 2,275 Miliar
- Lowongan Pekerjaan Real Estate G4N Group
- Ikuti Pertukaran Mahasiswa ke Perancis, 5 Mahasiswa Unpad Dapat Pengalaman Menarik
Pemimpin Bukan Soal Kekuasaan Belaka
Laporan oleh: Artanti Hendriyana
[Unpad.ac.id, 9/03] Menjadi pemimpin dalam organisasi dapat diibaratkan seorang nahkoda yang sedang mengendarai kapalnya. Hendak kemana ia akan membawa kapal itu dan bagaimana cara ia membawanya. Menjadi pemimpin, bukan hanya sekedar mencari kekuasaan, tetapi harus menjadi “pelayan” yang dapat membantu organisasi mencapai tujuannya.

Para narasumber di seminar bertajuk "New Role of Leadership" yang digelar BEM FE Unpad (Foto: Tedi Yusup)
Untuk semakin mengembangkan bakat kepemimpinan di kalangan mahasiswa, departemen Kesejahteraan Masyarakat BEM FE Unpad menggelar acara yang bertajuk “New Role of Leadership” .Acara ini berlangsung di Bale Rumawat, Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Rabu (9/3). Hadir sebagai pembicara adalah Sapto Waluyo, manajer bidang media PPSDMS dan Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan Unpad. Herdis Chandra Poernama, SE., MM.
Menurut Herdis, untuk menjadi pemimpin itu harus ada kompetensi dan kompetisi. Kompetisi terjadi karena tidak semua orang bisa menjadi pemimpin. Untuk memenangkan kompetisi, maka harus mempunyai kompetensi yang lebih dari orang lain. Sebagai mahasiswa, banyak cara yang dilakukan demi mendapatkan kompetensi yang optimal, salah satunya adalah dengan mengikuti dan membuat berbagai kegiatan kemahasiswaan.
“Dengan mengikuti UKM-UKM, kompetensi mahasiswa dapat bertambah. UKM dapat dijadikan sebagai ladang meniti diri. Dengan UKM, seorang mahasiswa dapat bergaul dengan teman-teman yang berasal dari berbagai fakultas. Dengan begitu, mahasiswa akan memperoleh berbagai ilmu dari fakultas-fakultas lain, minimal sesuatu yang generalis.”jelas Herdis.
Memiliki pengalaman, pengetahuan, dan pikiran yang selalu terbuka merupakan modal penting yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin. “Kita tidak bisa melakukan sesuatu yang biasa apabila ingin menjadi seseorang yang luar biasa,” pesan Herdis. Selain itu, memahami dengan baik tentang organisasi, perusahaan, atau kelompok yang dipimpin dengan baik merupakan hal yang tidak kalah pentingnya. “Kita harus membekali diri dengan pemahaman tentang organisasi yang kita pimpin. Tiap-tiap organisasi membutuhkan kriteria pemimpinnya masing-masing,” tutur Herdis.
Sementara Sapto menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan resultan dari hubungan sosial. “Seorang pemimpin harus pandai dalam bersosialisasi,” tegasnya. Sapto mengambil contoh fenomena politik yang terjadi di Indonesia, yaitu sebelum seseorang mendapatkan jabatan, maka harus ada dukungan publik yang sebanyak-banyaknya, dalam hal ini adalah dukungan suara.
“Meski modal terbatas dan produk biasa, namun bila jejaringnya luas dan kepercayaan diri tinggi maka dapat menaikan nilai lebih ketimbang produk yang limited edition tapi hanya segelintir orang yang tahu. Tidak ada yang bisa mencapai tujuannya sendiri,” lanjutnya.
Untuk menemukan kompetensi yang pas pada posisi yang pas pula, Sapto memiliki pendapatnya sendiri, “Kenali siapa anda. Who am I? atau Who are we?” Kenali dulu diri sendiri sebelum menentukan apa yang akan kita capai pada masa yang akan datang. “Apa yang kita capai adalah apa yang kita gariskan,” jelasnya.
Sebelum menyudahi acara, masing-masing narasumber memberikan pesannya, “Leader itu tidak instant, tapi berproses. Bekali diri dengan soft skill dan pengetahuan yang banyak. Menjadi mahasiswa itu jangan hanya mengandalkan IPK tinggi,” pesan Herdis. Selain itu, Sapto pun memberikan pesannya,”Kita hidup di tengah perubahan, oleh karena itu lakukan tindakan-tindakan kreatif, bukan hanya berdasarkan text book belaka. Sekarang dan masa depan adalah milik Anda. Maka berbuatlah seoptimal mungkin, tapi tentu harus dengan hati-hati.” (eh)*


