Universitas Padjadjaran

English
  • Profil Unpad
  • Fakultas
    • Hukum
    • Ekonomi
    • Kedokteran
    • Matematika & IPA
    • Pertanian
    • Kedokteran Gigi
    • Ilmu Sosial & Ilmu Politik
    • Sastra
    • Psikologi
    • Peternakan
    • Ilmu Komunikasi
    • Keperawatan
    • Perikanan & Ilmu Kelautan
    • Teknologi Industri Pertanian
    • Farmasi
    • Teknik Geologi
Berita
Home | Berita | Perlu Dibangun Sinergi Akademisi Bisnis dan Pemerintah
 

Berita Terbaru

  • Segera Terbentuk, Forum Pembantu / Wakil Rektor Bidang Pengembangan dan Kerja Sama
  • Surat Edaran Kebijakan Unggah Karya Ilmiah dan Jurnal
  • Jalin Kerja Sama dengan Micromine, FTG Unpad Dapat Software Senilai Rp 2,275 Miliar
  • Lowongan Pekerjaan Real Estate G4N Group
  • Ikuti Pertukaran Mahasiswa ke Perancis, 5 Mahasiswa Unpad Dapat Pengalaman Menarik

Perlu Dibangun Sinergi Akademisi Bisnis dan Pemerintah

Laporan oleh: Marlia

[Unpad.ac.id, 12/3] Di Indonesia, nampaknya hubungan kalangan akademisi, bisnis dan pemerintah belum berjalan secara sinergis. Berbagai inovasi yang dihasilkan kalangan akademisi dan peneliti belum banyak yang termanfaatkan akibat hubungan yang tidak sinergis tersebut. Adakalanya, masing-masing pihak berbeda persepsi dalam menilai sebuah inovasi untuk dikembangkan lebih jauh. Padahal kesamaan persepsi dari seluruh pihak dapat membantu perekonomian negara.

Demikian yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif Business Innovation Center (BIC) Kristanto Santosa dihada

Kristanto Santosa

Kristanto Santosa memperkenalkan BIC sebagai lembaga intermediasi inovasi bisnis (Foto: Tedi Yusup)

pan para dosen dan peneliti Unpad dalam acara Sosialisasi Seleksi 102 Inovator Terbaik Indonesia 2010. Acara ini berlangsung di Executive Lounge Gedung Baru Rektorat Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Jumat (12/3).

“Untuk menyinergikan upaya antara komponen akademisi, bisnis dan pemerintahan inilah BIC hadir dengan didukung oleh Kementrian Negara Riset dan Teknologi (Kemenristek) RI. BIC sebagai sebuah lembaga swadaya masyarakat, berusaha menjadi lembaga intermediasi inovasi bisnis yang terdepan, dalam menunjang daya saing ekonomi dan bisnis Indonesia,” jelasnya.

Dari pengamatan BIC yang baru didirikan pada tahun 2008 ini, peluang untuk investasi di inovasi ini sangat besar, akan tetapi banyak tantangannya. Pertama, dorongan dan insentif pemerintah agar para innovator/ilmuwan mau mendorong Hak Kekayaan Intelektual (HKI) mereka di ranah ilmu menuju ranah bisnis. Tantangan yang kedua adalah bagaimana mengubah pola pikir transaksi menuju kolaboratif. Yang terakhir adalah bagaimana membuat investasi dalam inovasi menjadi pilihan investasi yang lebih menjanjikan, dibanding investasi dalam pasar modal, pendanaan proyek atau investasi klasik lainnya.

Untuk membangun sinergi antara akademisi, bisnis dan pemerintah untuk inovasi bisnis di Indonesia, setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Beberapa diantaranya adalah mengetahui bahwa sinergi ketiganya jika bias direalisasikan akan menjadi kekuatan yang hebat. Saat ini ketiga pihak tersebut belum dirancang untuk bisa bersinergi untuk inovasi.

Akademisi belum didorong atau diberi insentif yang cukup untuk berinovasi. Di lain pihak, kalangan bisnis juga belum menyadari pentingnya membangun daya saing melalui inovasi. Di kalangan pemerintah pun kebijakannya untuk mendorong inovasi ini masih belum jelas.

“Oleh karena itu perlu adanya penyamaan bahasa atau persepsi antara ketiga pihak sebagai fondasi penting untuk membangun inovasi bisnis di Indonesia. Mispersepsi atau pengalaman buruk di masa lalu dalam hubungan ketiganya harus dinetralisir. Inovasi adalah proses kerja sama yang berbasis kepercayaan bukan hanya ‘transaksi’ HKI,” lanjutnya.

Salah satu upaya untuk menjalankan misinya mendorong inovasi bisnis di Indonesia, BIC mengundang para akademisi dan peneliti Indonesia, khususnya di Unpad untuk berpartisipasi dalam program pemilihan 102 Inovator Terbaik Indonesia 2010. Para peneliti diminta mengirimkan proposal inovasinya untuk kemudian diseleksi. 102 proposal yang terpilih, akan dimasukkan dalam buku “102 Inovasi Paling Prospektif 2010”.

Buku ini akan disebarluaskan ke seluruh Indonesia termasuk ke semua provinsi, kabupaten, asosiasi bisnis, universitas negeri serta kantor perwakilan Indonesia di seluruh dunia. Karya inovasi ini pun akan mendapat piagam resmi dari Kemenristek RI. Peluncuran buku ini akan dilaksanakan pada puncak acara peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Indonesia (Harteknas) yang jatuh pada tanggal 10 Agustus 2010.

Bagi yang akan mengikuti program tersebut dapat membuka situs BIC, www.bic.web.id untuk informasi lebih lanjut.  Pendaftaran dilakukan secara online pada situs tersebut. Pengajuan proposal untuk mengikuti seleksi ini akan ditutup pada tanggal 31 Maret 2010. (eh)*

Sebelumnya

  • Upayakan Lolos ke Pimnas, Mahasiswa Peroleh Pembekalan Materi PKM
  • Mahasiswa FH Unpad Raih 2 Gelar di Philip C. Jessup International Law Moot Court
  • Dosen FH Unpad, Achmad Hidayat Deddy Gadzali, Meninggal Dunia

Sesudahnya

  • Segera Terbentuk, Forum Pembantu / Wakil Rektor Bidang Pengembangan dan Kerja Sama
  • Jalin Kerja Sama dengan Micromine, FTG Unpad Dapat Software Senilai Rp 2,275 Miliar
  • Ikuti Pertukaran Mahasiswa ke Perancis, 5 Mahasiswa Unpad Dapat Pengalaman Menarik

Akademik

  • Akademik
  • Beasiswa
  • International Student
  • Jadwal Kuliah
  • SMUP
  • SNMPTN

Referensi

  • CISRAL
  • E-learning
  • HKI Unpad
  • Kepegawaian
  • Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
  • Perencanaan dan Sistem Informasi
  • Pustaka Ilmiah
  • Radio Unpad
ad-webmail ad-live ad-paus ad-mahasiswa Layanan Pengadaan PPID Tryout Online

© Unpad 2010
Hak cipta dilindungi undang-undang

kredit | kontak

twitter facebook youtube