Berita Terbaru
Status Kesehatan Gigi dan Mulut di Jabar Belum Optimal
Laporan oleh: Lydia Okva Anjelia
[Unpad.ac.id, 15/07] Status kesehatan gigi dan mulut masyarakat di Jawa Barat dirasa masih belum optimal. Banyak penduduk Indonesia mengeluhkan adanya masalah gigi dan mulut namun sayangnya tidak banyak yang mencari pertolongan dan mendapatkan perawatan dari tenaga kesehatan.
“Lebih dari 50% penduduk di Jawa Barat dengan karies atau lubang gigi aktif belum tertangani. Sementara fakta di Kota Bandung tingkat kerusakan gigi penduduk Kota Bandung adalah sebesar 6,29 termasuk dalam kategori sangat tinggi,” ujar Dekan FKG Unpad, Prof. Dr. H. Eky Soeria Soemantri, Drg., Sp. Ort (K) pada konferensi pers “Bulan Kesehatan Gigi Nasional” di Ruang Instalasi Rawat Inap RSGM FKG Unpad, Jln Sekeloa Selatan I Bandung, Kamis (15/07).
Hadir pula dalam acara ini, Direktur Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) FKG Unpad, drg. Grace V. Gumuruh, Ketua PDGI Cabang Kota Bandung, drg. Irman Syiarudin, dan Professional Relationship Manager Oral Care PT. Unilever, drg. Ratu Mirah Afifah.
drg. Grace mengungkapkan bahwa kelainan sistemik pada tubuh manusia juga dapat diketahui dari kondisi gigi dan mulut. Gejala penyakit seperti diabetes, jantung, atau leukemia misalnya, dapat diketahui lewat warna gusi yang memerah ditambah dengan ciri-ciri lainnya.
“Selain itu, kondisi gigi dan mulut juga dapat mendeteksi gejala-gejala awal penyakit berbahaya seperti AIDS bahkan sampai memprediksi kelahiran prematur pada ibu hamil,” tutur drg. Grace dihadapan para wartawan media cetak dan elektronik.
Dijelaskan Grace, bahwa FKG Unpad sejauh ini telah memiliki Rumah Sakit Gigi dan Mulut yang representatif dilengkapi dengan fasilitas lengkap dan tenaga ahli yang kompeten. Dalam Bulan Kesehatan Gigi Nasional dan selama pemeriksaan gigi gratis, masyarakat akan mendapatkan salah satu perawatan, yaitu satu penambalan sederhana tanpa harus menggunakan alat seperti bor.
Senada dengan drg,. Grace, drg. Irman Syiarudin membenarkan bahwa perawatan gigi di Indonesia cukup mahal, dimana obat-obatan beserta peralatan sebagaian besar diimpor dari luar negeri. “Biasanya yang digunakan rumah sakit selain obat dan peralatan hanya sebatas kapas dan kasa. Bor misalnya, tidak ada yang buatan indonesia. Inilah mengapa biaya perawatan gigi menjadi mahal,” ungkap drg. Irman.
Di kesempatan yang sama turut hadir dalam kegiatan Bulan Kesehatan Gigi Nasional di FKG Unpad, Professional Relationship Manager Oral Care Unilever, drg. Ratu Mirah Afifah. Dokter yang akrab disapa Mirah ini mengatakan bahwa kegiatan ini telah sering diadakan oleh Unilever.
“Di tahun 2010 ini Unilever ingin membentuk kegiatan ini menjadi gerakan nasional untuk peduli terhadap kesehatan gigi dan mulut. Untuk itu Unilever melakukan promosi secara besar-besaran demi menyosialisasikan kegiatan ini, baik melalui media cetak maupun elektronik,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, Unilever berharap dapat mengajak masyarakat supaya tidak takut berkunjung ke dokter gigi. Selain itu Unilever juga ingin mensosialisasikan bahwa banyak FKG di seluruh Indonesia yang telah dilengkapi rumah sakit gigi dan mulut yang dapat memberikan pelayanan kesehatan gigi yang baik namun dengan biaya lebih terjangkau. (eh)*



