Berita Terbaru
- Segera Terbentuk, Forum Pembantu / Wakil Rektor Bidang Pengembangan dan Kerja Sama
- Surat Edaran Kebijakan Unggah Karya Ilmiah dan Jurnal
- Jalin Kerja Sama dengan Micromine, FTG Unpad Dapat Software Senilai Rp 2,275 Miliar
- Lowongan Pekerjaan Real Estate G4N Group
- Ikuti Pertukaran Mahasiswa ke Perancis, 5 Mahasiswa Unpad Dapat Pengalaman Menarik
Noir P. Purba, MSi., Ingin Buat TTS Kelautan Sebagai Cara Belajar Sambil Bermain
Pengantar redaksi:
Untuk lebih mengenal dosen-dosen yang mengajar di Unpad, mulai awal Juli 2010 lalu kami menampilkan sosok dosen Unpad dalam rubrik “Mengenal Dosen Unpad”. Satu pekan sekali pada setiap hari Minggu, website Unpad akan menampilkan satu sosok dosen. Bila anda hendak merekomendasikan dosen Unpad untuk ditampilkan dalam rubrik ini, kami tunggu rekomendasinya beserta sekilas informasi tentang sisi menarik dari sang dosen tersebut ke email info@unpad.ac.id dan cc ke webunpad@yahoo.com.
Mengenal Dosen Unpad: Noir Primadona Purba, M.Si
Laporan oleh: Artanti Hendriyana
[Unpad.ac.id, 23/07] Sejak dahulu, Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan perairan laut yang luas. Laut Indonesia yang membentang menghubungkan pulau-pulau tersebut memiliki luas tiga kali lipat luas wilayah daratannya. Namun, laut yang begitu luas ini ternyata belum dieksplorasi secara mendalam oleh para peneliti di Indonesia.
Hal inilah yang menjadikan Noir Primadona Purba, M.Si tertarik menekuni dan akhirnya mencintai “dunia kelautan”. Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan ini mengaku sudah sepuluh tahun aktif di bidang kelautan, khususnya bidang Fisika Laut. Tidak hanya sebagai pengajar, tetapi ia juga sering berlayar untuk melakukan penelitian.
Banyak hal yang membuat Noir senang berlayar melintasi lautan. “Saya senang ketika melihat laut pada pagi hari, melihat sunrise, sunset, dan banyak lagi. Namun, laut Indonesia perlu lebih di eksplorasi lagi,” tuturnya.
Ketika ditanya mengenai lautan di Indonesia, Noir mengaku bahwa hampir semua lautan di Indonesia sangat indah, terutama lautan wilayah timur Indonesia. “Disana ikannya banyak, kekayaan alam melimpah, perairannya tenang, pantainya indah dan bersih.”
Pengalaman paling menyenangkan menurutnya adalah ketika melakukan pelayaran Indonesia – France Collaborative Research on Internal Tides and Mixing in the Indonesian Throughflow (Indomix) dengan menggunakan kapal riset milik Institut Paul Emile Victor (IPEV) Perancis, Marion Dufresne. Pelayaran ini dilakukan dalam rangka kerja sama antara Indonesia dan Perancis untuk meneliti Arus Lintas Indonesia (Arlindo). Noir sendiri meneliti tentang karakteristik massa air di jalur masuk Arlindo, yakni bagian selat Makassar, laut Maluku, dan perairan Halmahera.
Berangkat dari Sorong pada 9 Juli 2010 lalu, pelayaran yang dipimpin oleh Dr. Agus Atmadipoera, DESS (peneliti Indonesia) dan Dr. Arianne Koch Larroy (peneliti Perancis) ini melintasi sejumlah perairan lintasan Arlindo seperti perairan Halmahera, Seram, Banda, Ombai, Sumba, sampai berakhir di Surabaya pada 21 Juli 2010. Noir merupakan salah satu dari sebelas peneliti Indonesia yang tergabung dalam pelayaran itu.
Bukan hanya meneliti, kegiatan diskusi dan seminar juga diadakan dalam pelayaran tersebut. Seminar diadakan pada saat sore hari di “scientific room” dalam kapal dengan beberapa tema, diantaranya adalah sistem iklim dan EL NINO. Peserta yang mengikuti seminar bukan saja para peneliti, tetapi terdapat teknisi kapal, dan kru kapal lainnya.
“Ternyata Anak Buah Kapal (ABK) sangat antusias mengikuti seminar untuk menambah pengetahuan mereka, itu luar biasa. Kalau ABK disini kan seringkali tidak peduli jika ada kegiatan seperti itu.”
Walaupun sudah seringkali berlayar melintasi perairan Indonesia, namun ada satu pengalaman baru dan menarik yang dialami Noir dalam pelayaran Indomix tersebut, yakni “Mandi Khatulistiwa” dimana ia dan peneliti lain yang baru pertama kali melintasi garis khatulistiwa harus menjalani ritual khusus.
“Kami diikat menggunakan tali dan berjejer dipinggir kapal, lalu kemudian kami dimandikan dengan air laut. Setelah itu diberi makan ikan pindang yang busuk. Kami pun diarak mengelilingi kapal untuk kemudian bertemu Dewa Neptunus,” jelasnya.
Dewa Neptunus yang dimaksud adalah seseorang yang berpakaian dan beraksi seolah-olah dewa penguasa kelautan, tentu saja ini diperankan oleh salah satu kru kapal. Selesai ritual tersebut, Noir pun mendapatkan sertifikat khusus dari CMA CGM Perancis yang menyatakan bahwa dia telah melakukan ritual “Mandi Khatulistiwa” tersebut.
Hingga kini, Noir mengaku tidak pernah mengalami kebosanan di bidang kelautan ini. Salah satu caranya untuk selalu terhindar dari kebosanan adalah dengan memiliki target-target baru. Ditanya, mengenai targetnya kedepan, Noir mengaku ingin merampungkan buku yang kini sedang digarapnya, yakni buku tentang teka teki silang di bidang kelautan berjudul Crossword and Cross Ocean.
“Selama ini pembelajaran selalu secara dewasa, jadi buku ini akan mencoba mengajak pembaca untuk bermain sekaligus belajar secara dewasa,” ujarnya.
Noir mengungkapkan bahwa pendidikan kelautan di Indonesia sudah mengalami cukup banyak perkembangan dibandingkan dulu, ketika ia mulai terjun ke bidang ini.
“Sekarang sudah banyak universitas yang memiliki program studi ilmu kelautan, dulu hanya ada 6 dan itu tidak tersedia di semua provinsi, kalau sekarang sudah hampir 60-an. Mudah-mudahan kedepannya semua universitas ini tidak bergerak sendiri-sendiri. Padahal laut ini kan satu Indonesia, tapi tidak ada kolaborasi penelitian di universitas-universitas ini. Saya mengharapkannya ada satu hasil penelitian hasil kolaborasi dari seluruh universitas di Indonesia dalam bidang kelautan,” harapnya. (eh)*



