Universitas Padjadjaran

English
  • Profil Unpad
  • Fakultas
    • Hukum
    • Ekonomi
    • Kedokteran
    • Matematika & IPA
    • Pertanian
    • Kedokteran Gigi
    • Ilmu Sosial & Ilmu Politik
    • Sastra
    • Psikologi
    • Peternakan
    • Ilmu Komunikasi
    • Keperawatan
    • Perikanan & Ilmu Kelautan
    • Teknologi Industri Pertanian
    • Farmasi
    • Teknik Geologi
Berita
Home | Berita | Kesusastraan Arab pun Dipengaruhi Penguasa Sesuai Zaman
 

Berita Terbaru

  • Dodi, Office Boy yang Berhasil Lulus Kuliah di Unpad
  • Tiga Wisudawan Lulus S-1 Dalam Waktu 3 Tahun 3 Bulan
  • Lowongan Kerja PT Guna Teguh Abadi Construction
  • Aktif di Organisasi Kemahasiswaan, Gina Ratnasari Raih IPK 3,95
  • Lowongan Guru Bintang Pelajar Institute

Kesusastraan Arab pun Dipengaruhi Penguasa Sesuai Zaman

Laporan oleh: Marlia

[Unpad.ac.id, 29/07] Seperti halnya perkembangan kesusastraan di Indonesia, sastra Arab juga dipengaruhi oleh penguasa sesuai Zamannya. Hal ini tercermin dari tema-tema yang diangkat pada karya sastra tersebut. Perkembangan sastra Arab tersebut menarik untuk dikaji selain untuk menikmati karya-karyanya, kita juga dapat mempelajari latar belakang sejarah pada jamannya tersebut.

unpad-suez canal

Dua profesor dari Universitas Suez Canal Mesir saat menjadi pembicara seminar tentang perkembangan sastra Arab di Kampus Fasa Unpad, Jatinangor, Kamis (29/07)

Kajian perkembangan sastra Arab ini menjadi kajian khusus dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Arab (Himasa) Fakultas Sastra Unpad, dengan judul Seminar Internasional Perkembangan Sastra Arab dan Modern. Seminar ini digelar di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ) Fakultas Sastra Unpad, Jatinangor, Kamis (29/07). Seminar ini menghadirkan Dekan Fakultas Sastra dan Ilmu-ilmu Humaniora, Prof. Dr. Hassan Abdel Alim Abdel Gawad Yousef, dan Pembantu Dekan bidang Pascasarjana dan Riset Fakultas Sastra dan Ilmu-ilmu Humaniora, Prof. Dr. Abdel Hahiz Mohamed Hassan dari Universitas Suez Canal, Mesir, dengan moderator Drs. Hazbini, M.Ag.

Menurut Prof. Hassan yang juga pakar bahasa dan sastra Arab, kesusastraan Arab kuno atau jahiliyah direpresentasikan dalam syair-syair puisi tentang kebanggaan, ejekan, ratapan terhadap puing-puing reruntuhan, dan ekspresi keindahan terhadap wanita. Syair-syair tersebut dituliskan pada dinding Kabah. Sebagai puncak karya sastra jahiliyah, puisi-puisi yang dikenal dengan puisi mu’allagat diawali dengan kalimat “meratapi puing-puing” dan “kekasihku marilah kita berhenti sejenak mengenang rumah kita”.

Setelah syair tersebut dibuka dengan kalimat-kalimat tersebut, temanya dilanjutkan dengan tema-tema percintaan, rumah tinggal dan sebagainya. Walaupun berbeda tema, tapi masih satu judul puisi. Kemudian tema-tema tersebut dilanjutkan dengan deskripsi binatang peliharaannya, seperti kuda, dan cerita tentang keadaan malam sepanjang perjalanan yang mereka lalui. Ada juga puisi dengan tema-tema tentang peribahasa atau perumpamaan.

Prof. Hassan juga menjelaskan bahwa ketika Islam datang di semenanjung Arab dengan diutusnya Rasullah, maka ada perubahan dalam tema-tema tersebut. Pada saat Islam datang, kalimat-kalimat awal pada puisi itu berisi tentang puji-pujian kepada Rasulullah, selanjutnya diisi dengan hal-hal lain yang diinginkan penyair tersebut.

Pada masa berikutnya, yaitu masa Bani Umayyah, tema puisi tersebut berubah lagi.  Tema-tema puisi pada masa ini, isinya lebih langsung ke sasaran, to the point, apakah tentang pujian, ejekan, cinta dan lain-lain. Syair yang menonjol pada masa ini lebih banyak bercerita tentang percintaan dan  wanita. Selain itu ada juga tema-tema politik tentang sekte-sekte pada kelompok Islam. “Pada jaman ini ada kebebasan untuk mengungkapkan apa yang diinginkan para penyair,” jelas Prof. Hassan.

Pada masa berikutnya, yaitu masa Bani Abbasiyah, banyak hal yang terjadi dan banyak penyair yang terkenal yang memiliki kebiasaan masing-masing. Pada dekade terakhir muncul tokoh-tokoh penyair pada masa akhir Bani Abbasiyah seperti Abu Thoyyib Al Mutanabbi yang pengaruhnya hingga ke Eropa. “Masing-masing penyair membutuhkan tanggapan atau komentar yang hubungannya salaing mempengaruhi khususnya dalam kesusastraan Arab,” tuturnya.

Sementara itu, Prof. Abdel yang juga pakar bahasa dan sastra perbandingan mengatakan bahwa dirinya sangat bangga dengan atensi dan apresiasi bangsa Indonesia terhadap kesusastraan Arab ini. Ia mengatakan bahwa cinta bahasa Arab adalah ibadah karena terkait dengan Al Quran dan Hadits, artinya kita mengikuti jejak Rasul.

Ia mengatakan bahwa dalam salah satu Hadits, Rasul bersabda bahwa aku cinta bahasa Arab karena tiga hal, pertama karena aku berbahasa Arab, karena Al Quran berbahasa Arab, dan karena penduduk surga berbahasa Arab. “Mudah-mudahan anda juga seperti itu,” jelasnya.

Prof. Abdel menyampaikan bahwa Sastra Arab modern, khususnya sastra Mesir berbeda-beda bentuknya, tetapi ada pengaruh satu sama lainnya. Sastra Arab Mesir dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu kebudayaan Firaun, kebudayaan Arab dan kebudayaan penjajah. “Seperti halnya Indonesia yang juga dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dan penjajah kolonial,” jelasnya.

Masa kebangkitan kesusastraan Arab, berbarengan dengan masa penjajahan. Oleh karena itu, terbagi dua kelompok yang mendukung kebudayaan konservatif (sastra lama) dan reformis, yang berusaha melakukan pembauran dan mengadopsi budaya dari luar, akibat pengaruh penjajahan.

Dari kelompok pertama, muncul tokoh-tokoh yang berusaha melestarikan kebudayaan lama seperti kasidah-kasidah dan lain sebagainya yang bertujuan untuk memperkuat kebudayaan lama seperti Mahmud Samy al Barudy, Ahmad Syauqi dan sebagianya. Bahkan pengaruh Ahmad Syauqi terasa hingga ke Indonesia. Selain tokoh-tokoh tadi, ada juga Hussein Haikal yang karyanya mirip dengan cerita Siti Nurbaya, yang dipengaruhi oleh kebudayaan Barat.

Ia juga menjelaskan bahwa hubungan Mesir dan Indonesia sangat kuat, tercermin dengan kerja sama yang dilakukan Universitas Suez Canal dengan universitas-universitas di Indonesia seperti dengan Unpad. Bahasa Indonesia juga seharusnya diajarkan di Mesir. Selanjutnya, perlu juga penerjemahan-penerjemahan buku-buku Indonesia ke dalam bahasa Arab untuk menambah wawasan masyarakat Arab tentang Indonesia.

“Ini juga mempermudah perbandingan kesusastraan Arab dan Indonesia. Hal ini juga akan membuat sastra Indonesia lebih dikenal di bangsa Arab,” pungkasnya. (eh)*

Sebelumnya

  • Unpad Jajaki Kerja Sama dengan Dua Universitas dari Mesir
  • Buku “Probiotik”, Karya Terakhir Almarhum Prof. Soeharsono
  • Kemenhumkam Kirim 60 Pegawai Belajar ke Fakultas Hukum Unpad

Sesudahnya

  • Dodi, Office Boy yang Berhasil Lulus Kuliah di Unpad
  • Tiga Wisudawan Lulus S-1 Dalam Waktu 3 Tahun 3 Bulan
  • Aktif di Organisasi Kemahasiswaan, Gina Ratnasari Raih IPK 3,95

Akademik

  • Akademik
  • Beasiswa
  • International Student
  • Jadwal Kuliah
  • SMUP
  • SNMPTN

Referensi

  • CISRAL
  • E-learning
  • HKI Unpad
  • Kepegawaian
  • Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
  • Perencanaan dan Sistem Informasi
  • Pustaka Ilmiah
  • Radio Unpad
ad-webmail ad-live ad-paus ad-mahasiswa Layanan Pengadaan PPID Tryout Online

© Unpad 2010
Hak cipta dilindungi undang-undang

kredit | kontak

twitter facebook youtube